MERAIH KEUTAMAAN BULAN RAMADHAN

30 Aug 2009 Uncategorized

إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.

يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام َ إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا

يَاأَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا، أَمّا بَعْدُ …

فَأِنّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمّدٍ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ، وَشَرّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةً، وَكُلّ ضَلاَلَةِ فِي النّارِ.

Khutbah yang Pertama

Ma’asyirol Muslimin yang dirahmati Allah
Pada kesempatan khutbah kali ini, khatib tidak pernah bosan-bosannya untuk menghimbau diri khatib secara pribadi dan para jama’ah sekalian untuk senantiasa bertaqwa kepada Allah di mana saja kita berada dengan berupaya semaksimal mungkin mengerjakan perintah-perintahNya dan menjauhi laranga-laranganNya. Karena tidak ada bekal terbaik di hari kiamat kelak yang membuat kita Mulia di sisiNya melainkan dengan taqwa. Karena tidak ada yang mampu menjadi tameng kita dari adzab dan api nerakaNya melainkan adalah taqwa yang kita miliki.
Allah Ta’ala berfirman,
وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى (البقرة:197)
“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa dan bertaqwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.” (QS. al-Baqarah:197)
Dan Rasulullah bersabda,

اِتَّقِ اللهَ حَيْثمُاَ كُنْتَ وَأَتبِْعِ السَّيِّئَةَ اْلحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلقٍُ حَسَنٍ (رَوَاهُ التِّرْمِذِي)
“Bertakwalah kamu di mana saja kamu berada, dan sertakanlah olehmu kejahatan dengan kebaikan niscaya ia akan menghapuskannya (kejahatan tersebut), serta pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik”. (HR. at-Tirmidzi, dengan sanad hasan shahih).
Ma’asyirol Muslimin yang dirahmati Allah
Ada sebuah Ungkapan atau kalau boleh ia disebut motto hidup yang cukup sederhana, “Tidak akan Pernah Kembali Hari-hari yang Telah Berlalu”. Kenapa kita katakan sederhana?? sebab ungkapan ini cukup familiar di telinga kita, bahkan ia terkadang bagaikan angin yang lalu begitu saja, atau ungkapan picisan kuno yang tak ada arti bagi sebagian orang, bahkan anak-anak kecil saja tahu dan mengerti kalau hari-hari yang telah dilewatinya tidak akan pernah terulang dan kembali lagi. Tentunya tidak bagi para pemerhati kehidupan atau orang-orang yang selalu merenungi dan menghayati hidup yang dijalani, juga tidak bagi orang yang selalu mengevaluasi diri dan ingin hari-harinya yang sekarang dan yang nanti lebih baik dari hari-harinya yang telah lalu. Karena baginya hari-hari yang telah lalu adalah sejarah sekaligus pelajaran untuk menatap dan manata hidup di masa depan yang lebih gemilang, pelajaran mahal yang tak bisa di hargai dengan lembaran-lembaran kertas yang kini telah berubah menjadi sembahan, hari-hari yang telah berlalu terus akan menyisakan kenangan dan kenikmatan bagi siapa saja yang menghabiskannya untuk sesuatu yang indah dan penuh makna.. dan selalu akan meninggalkan penyesalan dan kesedihan yang mungkin tak terlupakan bagi siapa saja yang menjalaninya untuk sesuatu yang sia-sia dan penuh dosa.
Ma’asyirol Muslimin yang dirahmati Allah
Tentunya bagi seorang mukmin hari-hari adalah sebuah kesempatan yang berharga untuk beramal dan berinvestasi sebanyak-banyaknya yang tidak akan pernah ia sia-siakan begitu saja. Sehingga ia selalu berupaya untuk mengisi lembaran-lembaran hidupnya dengan sesuatu yang mendatangkan keridhaan dan kecintaan Allah Ta’ala. Sebagaimana dia tahu Rasulullah bersabda,
مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ اْلمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيْهِ (رواه الترمذي)
“Diantara kesempurnaan (kebaikan) Islam seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak berguna bagi dirinya.” (HR. at-Timidzi, dishahihkan oleh al-Albany)
Ma’asyirol Muslimin yang dirahmati Allah
Kalau hari-hari yang biasa dijalani oleh seorang mukmin begitu ia manfaatkan sebaik mungkin, apalagi jika ia berada di hari-hari yang di dalamnya terdapat bonus-bonus dan ‘seabrek’ keistimewaan yang disediakan dan begitu menjanjikan, tentunya betul-betul tidak sedikitpun ia akan sisakan hari dan waktunya kecuali untuk mengejar dan meraih semua bonus-bonus dan keistimewaan nan menggiurkan. Dia akan tampak agresif dan kompetitif dan siap bersaing serta berupaya mengungguli rival-rivalnya demi sebuah prestasi yang akan diraih. Allah Ta’ala berfirman,
فَاسْتبَقُِوا اْلخَيْرَاتِ أَيْنَ مَا تَكُونوُا يَأْتِ بِكُمُ اللهُ جَمِيعًا إِنَّ اللهَ عَلىَ كُلِّ شَئٍ قَدِيرٌ (البقرة: 148)
“…Maka berlomba-lombalah kamu (dalam membuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Seungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah:148)
Ma’asyirol Muslimin yang dirahmati Allah
Hari-hari yang indah dan didambakan itu kini hampir datang kepada kita, hari-hari yang terdapat pada bulan yang sangat istimewa di mata Sang Pemiliknya dan bagi siapapun yang mengetahui keistimewaannya, tamu nan agung yang selalu dinanti-nanti oleh semua orang yang merindukannya, dia adalah bulan ramadhan bulan rahmah, bulan maghfirah, bulan berkah, bulan sabar, bulan Qur’an, bulan shadaqah, bulan pendidikan dan madrasah orang-orang yang beriman, bulan dilipat-gandakan pahala dari setiap amalan yang dikerjakan di dalamnya dan masih banyak lagi nama-nama yang indah untuknya yang belum disebutkan, sesuai dengan banyaknya kebaikan dan keutamaan di dalamnya.
Allah Ta’ala berfirman,
شَهْرُ رَمَضَانَ اَّلذِي أُنْزِلَ فِيهِ اْلقُرْآنُ هُدىً لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ اْلهُدَى وَاْلفُرْقَانِ (البقرة: 185)
“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).” (QS. 2: 185)
Dan diriwayatkan dari Abu Hurairah ia berkata, Rasulullah bersabda,
كَانَ رَسُولُ اللهِ يُبَشِّرُ أَصْحَابَهُ يَقُولُ: قَدْ جَاءَكُمْ شَهْرُ رَمَضَانَ, شَهْرٌ مُبَارَكٌ, كَتَبَ اللهُ عَليَْكُمْ صِيَامَهُ, فِيهِ تُفْتَحُ أَبْوَابُ اْلجَنَّةِ, وَتُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ اْلجَحِيمِ, وَتُغَلُّ فِيهِ الشَّيَاطِينُ, فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ, مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ (رواه أحمد والنسائي)
“Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam biasanya memberi kabar gembira kepada para shahabatnya dengan bersabda,’Telah datang kepada kalian bulan suci Ramadhan, bulan yang penuh berkah, Allah telah mewajibkan kalian berpuasa Ramadhan, Pada bulan ini pintu-pintu langit dibuka dan pintu-pintu jahannam ditutup, tangan-tangan syetan dibelunggu, dan di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan, maka barangsiapa yang dijauhkan (diharamkan) dari kebaikannya, maka benar-benar telah dijauhkan.” (HR. an-Nasa’i)
Ma’asyirol Muslimin yang dirahmati Allah
Dan wahai hamba-hamba Allah yang haus akan pengabdian dan ketaatan kepadaNya, jangan biarkan ia berlalu dan lewat begitu saja di depan mata, cukuplah ramadhan yang lalu menjadi pelajaran dan sekaligus penyesalan yang nyata, karena telah menyia-nyiakan kesempatan yang ada, yang telah Allah anugerahkan kepada kita, dengan hanya membawa sedikit dari sekian banyak dan berlimpah ruahnya kebaikan-kebaikanNya yang tersedia. Atau boleh jadi tidak sedikitpun pahala yang terbawa, karena banyak amalan utama yang tak terjaga, dan hilang dengan sia-sia. Allah Ta’ala berfirman,
ياأيهاالَّذِينَ ءَامَنُوااتَّقُوااللهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوااللهَ إِنَّ اللهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ. وَلاَ تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوااللهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ (الحشر: 18-19)
“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri.Mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. Al-Hasyr:18-19)
أَقُوْلُ قَوْلِي هَذا أَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ
Khutbah yang Kedua

إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وبعد,
Ma’asyirol Muslimin yang dirahmati Allah
Pernahkah kita berpikir kalau ramadhan ini adalah ramadhan terakhir yang Allah taqdirkan buat kita, maka apa yang kita akan perbuat di dalamnya?
Seseorang yang tahu kalau hidupnya akan berakhir saat itu, pastinya dia akan menyiapkan segala bekalnya dengan sebaik dan sesempurna mungkin. Maka dia akan menjadikan ramadhannya kali ini menjadi ramadhan terbaik dan berkualitas dari sebelum-sebelumnya.
Ma’asyirol Muslimin yang dirahmati Allah
Tentunya untuk menjadikan ramadhan lebih baik dan berkualitas, dibutuhkan persiapan yang ekstra serius dan sungguh-sungguh. Khususnya yang lebih diprioritaskan adalah menyiapkan ilmu-ilmu syar’I seputar ramadhan itu sendiri. Sehingga dengan bekal tersebut betul-betul seseorang akan menjalani ramadhannya dengan Iman dan ihtisab (hanya mengharap pahala dan ridha Allah semata), Rasulullah bersabda,
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا عُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ (متفق عليه)
“Barangsiapa berpuasa Ramadhan karena iman dan hanya mengharap pahala dari Allah (ihtisab), niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”. (Muttafaq’alaih).
Dalam hadits yang lain,
مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا عُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ (متفق عليه)
“Barangsiapa mendirikan shalat malam Ramadhan (tarawih) karena iman dan hanya mengharap pahala dari Allah (ihtisab), niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”. (Muttafaq’alaih)

Ma’asyirol Muslimin yang dirahmati Allah
Hanya dengan bekal ilmu syar’I yang cukuplah, insya Allah ibadah yang dijalani selama sebulan penuh menjadi ibadah yang maqbulah (diterima oleh Allah Ta’ala) karena semata-mata melaksanakan perintah Allah melalui tuntunan Rasul-Nya shallallahu’alaihi wasallam. Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ (رواه مسلم)
“Barangsiapa yang beramal (beribadah) yang tidak ada perintah dari kami, maka ibadahnya tertolak”. (HR. Muslim)
Ma’asyirol Muslimin yang dirahmati Allah
Bukan hanya itu saja yang akan diterima olehnya, Allah akan memasukkannya ke dalam hamba-hambaNya yang bertakwa (al-Muttaqun), karena tujuan disyariatkannya puasa Ramadhan itu sendiri adalah agar-agar orang yang melaksanakan ibadah di dalamnya, menjadi hamba-hamba Allah yang bertakwa yang tidak ada balasannya kecuali dipersiapkan surga untuknya. Amin.
Sebagaimana firmanNya,
يَأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلىَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (البقرة: 183)
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa”. (QS. Al-Baqarah:183)
Allah Ta’ala berfirman,
وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَاْلأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ (ال عمران: 133)
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Rabbmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa.” (QS. Ali Imran:133)
Ma’asyirol Muslimin yang dirahmati Allah
Demikianlah, semoga khutbah yang singkat ini bisa menjadi renungan dan motivasi bagi kita semua untuk menjadikan ramadhan kali ini menjadi lebih berarti dan penuh berkah ilahi. Amin.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ.
رَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلََى اّلذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.
رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. والحمد لله رب العالمين.

HANZHALAH BIN ABU AMIR

30 Aug 2009 Uncategorized

Suatu ketika tersebutlah seorang pengantin baru bernama Hanzholah bin Abu Amir. Ia hidup dimasa perjuangan Islam bersama Rasulullah. Malam pertama, sebagaimana pengantin baru yang lain, ia luangkan bersama istri tercinta. Canda tawa dan senda gurau mewarnai sepasang kekasih yang tengah menjalin hubungan mesra. Hingga sayup-sayup terdengar olehnya ada suara yang memanggil dari kejauhan. Semakin lama suara itu semakin lantang terdengar. “Hayya alal jihad…hayya alal jihad…!”.

Ya, itu adalah panggilan untuk berangkat ke medan jihad, yang komandonya langsung berasal dari Rasulullah saw. Tanpa berpikir panjang, Hanzholah meninggalkan pangkuan istrinya kemudian mengambil pedang dan perisai untuk menyongsong jihad bersama Rasulullah dan para sahabatnya. Sang istri tentu berat melepas kepergian suami terkasih, apalagi disaat malam pertama sebagai pengantin belum habis mereka lalui. Namun dengan diiringi do’a, ia serahkan kepergian suaminya dalam rangka tugas suci kepada Yang Maha Memiliki, Allah SWT.

Bersama pasukan Rasulullah, Hanzholah bertempur tanpa mengenal rasa takut. Saat memasuki kancah pertempuran, Hanzholah terus merangsek menembus barisan musuh yang jumlahnya tiga kali lipat dari pasukan kaum muslimin. Sasaran utamanya adalah melumpuhkan komandan pasukan kaum musyrikin, Abu Sufyan bin Harb. Sepak terjangnya telah berhasil menyibak pasukan musuh hingga berhadapan langsung dengan Abu Sufyan. Dengan keberanian dan ketangkasan yang luar biasa, Hanzholah berhasil mendesak Abu Sufyan yang tengah berada diujung kematiannya. Namun tanpa disadarinya, dari arah belakang seorang pasukan musuh bernama Syaddad bin Aswad menikamnya dari belakang. Sang pengantin barupun, yang lebih dikenal dengan pahlawan Perang Uhud, menemui syahidnya di medan Uhud.

Setelah kecamuk perang sudah surut, Rasulullah dan para sahabat tidak menemukan jasad Hanzholah diantara jenazah para sahabat yang sedang diusung. Setelah mencari kesana kemari, mereka mendapatkannya di sebuah gundukan tanah yang masih menyisakan guyuran air di sana. Padahal ketika perang berkecamuk, hujan tidak turun setetespun. Para sahabatpun menjadi heran, darimanakah gerangan air yang membasahi tubuh Hanzholah tersebut. Akhirnya Rasulullah mengabarkan kepada mereka bahwa malaikat sedang memandikan jasad Hanzholah. Kemudian beliau menyuruh di antara para sahabat untuk menanyakan kepada keluarga Hanzholah tentang dirinya sebelum berangkat perang. Ternyata sang istri mengabarkan bahwa keadaan Hanzholah ketika berangkat ke medan jihad adalah dalam keadaan junub.

Dari peristiwa ini, Hanzholah mendapat julukan Ghasilul Malaikat (Orang yang dimandikan malaikat).

Malam pertama perkawinannya memang belum habis ia lalui, namun kesyahidannya di medan Uhud membuat bidadari-bidadari surga sibuk memperebutkan Hanzholah untuk menjadi pasangannya di surga. Adakah para pengantin baru berikutnya yang akan mengikuti jejak Hanzholah ? Sumber Al-Hikmah

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Di dalam negara yang berkembang terdapat medernisasi sebagai proses kemajuan hidup manusiadengan ditandai perubahan-perubahan yang terjadi disegala aspek kehidupan
Dimana Indonesia terdiri dari berbagai suku, ras, agama, dan budaya. Seiring dengan perkembangan zaman dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologidan pengaruh budaya luar yang datang ke Indonesia mengakibatkan munculnya budaya baru di Indonesia, dimana budaya yang mampu membuat para remaja terbang ke dunia impian dengan menggunakan sebuah alat yang ajaib yaitu Narkotika seperti shabu-shabu, ekstasi, ganja, pil koplo, heroin dan sebagainya. Budaya yang dapat mengakibatkan remaja Indonesia khususnya para remaja dunia umumnya terjerumus kepergaulan yang rusak.
Perubahan budaya yang terjadi mengakibatkan norma-norma yang berlaku dimasyarakat Indonesia cenderung dilupakan. Dan nilai agama cenderung disisihkan. Para remaja yang terjebak kepergaulan yang rusak tersebut umumnya disebabkan oleh keluarga yang hancur dan kurang mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari orang tuanya. Tetapi sekarang ini banyak para remaja yang terjerumus berasal dari keluarga yang harmonis
Para remaja tersebut hanya ingin mengikuti sebuah metode yang lagi berkembang dan ingin disebut sebagai anak gaul. Sebab lainnya yaitu tipisnya iman para remaja dan kurangnya pengetahuan remaja tentang agama yan disebabkan kendala orang tua yang tak mengenalkan agama secara mendalam kepadapara remaja tersebut.
B. Rumusan Masalah
Dilihat dari latar belakang di atas, maka penulis membuat rumusan masalah sebagai berikut :
1. Apakah Pengertian Narkoba atau Napza ?
2. Apakah Bahaya Narkoba atau Napza ?
3. Bagaimana Penyalahgunaan Narkoba atau Napza ?
4. Apakah Faktor-Faktor penyalahgunaan Narkoba atau Napza ?
5. Bagaimana Langkah-langkah Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba atau Napza ?
C. Batasan Masalah

Sebagaimana telah dikemukakan masalah tentang pengaruh Narkoba terhadap psikologi remaja. Maka banyak hal yang mempengaruhi terjadinya penyimpangan-penyimpangan terhadap penggunaan Narkoba salah satunya karena pengaruh pergaulan bebas. Di samping itu banyak remaja yang kurang memahami dampak penggunaan Narkoba terhadap perkembangan psikologi. Oleh karena keterbatasan penulis , baik dalam hal waktu tenaga maupun biaya , maka penulis merasa perlu untuk melakukan pembatasan masalah.
Berdasarkan hal itulah penulis membuat Propasal Tesis ini dengan judul “Pengaruh Narkoba Terhadap Perkembangan Psikologi Siswa SLTP N 2 Abung Pekurun”. Karena di daerah tersebut merupakan daerah yang mulai terkena imbas daripada pengaruh budaya dan perkembangan tekhnologi informasi yang berkembang begitu pesatnya. Oleh karena itu di perlukan adanya pemberian wawasan tentang Narkoba, sehingga di harapkan mereka tidak terjerumus kedalam penggunaan Narkoba.
D. Tujuan Penulisan

Adapun tujuan penulisan yang penulis maksud adalah untuk mengetahui bagaimana kehidupan remaja dalam pergaulan dan bagaimana cara menghindari bahaya narkoba. Penelitian tentang “Pengaruh Narkoba Terhadap Perkembangan Psikologi Siswa SMPN 2 Abung Pekurun “ bertujuan untuk :
1. Mengetahui ada tidaknya siswa yang memakai/manggunakan/mengedarkan Narkoba atau Napza di sekolah.
2. Mengetahui apakah siswa telah mengetahui daripada bahaya Narkoba atau Napza bagi dirinya dan masa depannya.
3. Mengetahui peningkatan pemahaman siswa akan akibat dan dampak buruk dari pergaulan terhadap para pengguna/pengedar/pemakai Narkoba atau Napza
E. Manfaat Penelitian
Penelitian ini di harapkan memberikan manfaat baik bagi penulis sendiri maupun bagi masyarakat dan subyek penelitian berupa :
1. Sebagai bahan masukan untuk mengenal dan memahami tentang Narkoba sehingga para guru mampu mengetahui akan gejala-gejala yang timbul di sekolah dan para siswa.
2 Sebagai bahan masukan untuk para siswa agar mampu menghindari daripada bahaya Narkoba sehingga siswa tidak akan terjebak kedalam penyalahgunaan Narkoba atau Napza
.F. Sistematika Penulisan

BAB I Pendahuluan Bab ini berisi latar belakang masalah perumusan masalah, pembatasan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan sistematiak penulisan.
BAB II Landasan teori. Bab ini berisi kajian teori yaitu : Pengertian Narkoba atau Napza ,Bahaya Narkoba atau Napza ,Penyalahgunaan Narkoba atau Napza , Faktor-Faktor penyalahgunaan Narkoba atau Napza , Langkah-langkah Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba atau Napza .

BAB II
LANDASAN TEORI

A. PENGARUH NARKOBA ATAU NAPZA
1. Pengertian Narkoba atau Napza
Narkoba atau NAPZA adalah bahan / zat yang dapat mempengaruhi kondisi kejiwaan / psikologi seseorang (pikiran, perasaan dan perilaku) serta dapat menimbulkan ketergantungan fisik dan psikologi. Yang termasuk dalam NAPZA adalah: Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif lainnya.
A. Narkotika

Menurut UU RI No 22 / 1997, Narkotika adalah: zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintetis maupun semisintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan.
Narkotika terdiri dari 3 golongan :
1. Golongan I : Narkotika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi, serta mempunyai potensi sangat tinggi mengakibatkan ketergantungan. Contoh : Heroin, Kokain, Ganja.
2. Golongan II : Narkotika yang berkhasiat pengobatan, digunakan sebagai pilihan terakhir dan dapat digunakan dalam terapi dan / atau untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi tinggi mengakibatkan ketergantungan. Contoh : Morfin, Petidin.
3. Golongan III : Narkotika yang berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi dan / atau tujuan pengebangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi ringan mengakibatkan ketergantungan. Contoh : Codein.
B. Psikotropika
Menurut UU RI No 5 / 1997, Psikotropika adalah : zat atau obat, baik alamiah maupun sintetis bukan narkotika, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktifitas mental dan perilaku.
Psikotropika terdiri dari 4 golongan :
1.Golongan I : Psikotropika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi, serta mempunyai potensi kuat mengakibatkan sindroma ketergantungan. Contoh : Ekstasi.
2. Golongan II : Psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan dapat digunakan dalan terapi dan / atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi kuat mengakibatkan sindroma ketergantungan. Contoh : Amphetamine.
3. Golongan III : Psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi dan / atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi sedang mengakibatkan sindroma ketergantungan. Contoh : Phenobarbital.
4. Golongan IV : Psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan sangat luas digunakan dalam terapi dan / atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi ringan mengakibatkan sindroma ketergantungan. Contoh : Diazepam, Nitrazepam ( BK, DUM ).
C. Zat Adiktif Lainnya
Yang termasuk Zat Adiktif lainnya adalah : bahan / zat yang berpengaruh psikoaktif diluar Narkotika dan Psikotropika, meliputi :
1. Minuman Alkohol : mengandung etanol etil alkohol, yang berpengaruh menekan susunan saraf pusat, dan sering menjadi bagian dari kehidupan manusia sehari – hari dalam kebudayaan tertentu. Jika digunakan bersamaan dengan Narkotika atau Psikotropika akan memperkuat pengaruh obat / zat itu dalam tubuh manusia. Ada 3 golongan minuman beralkohol :
a. Golongan A : kadar etanol 1 – 5 % ( Bir ).
b. Golongan B : kadar etanol 5 – 20 % ( Berbagai minuman anggur )
c. Golongan C : kadar etanol 20 – 45 % ( Whisky, Vodca, Manson House, Johny Walker ).
2. Inhalasi ( gas yang dihirup ) dan solven ( zat pelarut ) mudah menguap berupa senyawa organik, yang terdapat pada berbagai barang keperluan rumah tangga, kantor, dan sebagai pelumas mesin. Yang sering disalahgunakan adalah : Lem, Tiner, Penghapus Cat Kuku, Bensin.
3. Tembakau : pemakaian tembakau yang mengandung nikotin sangat luas di masyarakat.
Dalam upaya penanggulangan Narkoba atau NAPZA di masyarakat, pemakaian rokok dan alkohol terutama pada remaja, harus menjadi bagian dari upaya pencegahan, karena rokok dan alkohol sering menjadi pintu masuk penyalahgunaan NAPZA lain yang berbahaya.
Berdasarkan efeknya terhadap perilaku yang ditimbulkan dari NAPZA dapat digolongkan menjadi 3 golongan :
1. Golongan Depresan ( Downer ).
Adalah jenis NAPZA yang berfungsi mengurangi aktifitas fungsional tubuh. Jenis ini membuat pemakainya menjadi : tenang dan bahkan membuat tertidur bahkan tak sadarkan diri. Contohnya : Opioda ( Morfin, Heroin, Codein ), sedative ( penenang ), Hipnotik ( obat tidur ) dan Tranquilizer (anti cemas ).
2. Golongan Stimulan ( Upper ).
Adalah jenis NAPZA yang merangsang fungsi tubuh dan meningkatkan kegairahan kerja. Jenis ini menbuat pemakainnya menjadi aktif, segar dan bersemangat. Contoh : Amphetamine ( Shabu, Ekstasi ), Kokain.
3. Golongan Halusinogen.
Adalah jenis NAPZA yang dapat menimbulkan efek halusinasi yang bersifat merubah perasaan, pikiran dan seringkali menciptakan daya pandang yang berbeda sehingga seluruh persaan dapat terganggu. Contoh : Kanabis ( ganja ).
2. Bahaya Narkoba atau Napza
Narkoba merupakan obat yang memiliki bahaya yang besar bagi para pengkonsumsinya, baik bahaya jasmani maupun bahaya rohani. Bahaya ini dapat membuat masa depan para pengkonsumsi menjadi suram, khususnya para remaja yang sedang mengalami transisi.

Bahaya umum bagi para pemakai narkoba antara lain:
1) Merusak otak dan sistem tubuh sehingga bisa terjadi komplikasi dan menimbulkan berbagai macam penyakit
2) Adanya perubahan prilaku yang tadinya periang menjadi pemurung atau yang rajin menjadi malas.
3) Terjadi perubahan fisik, badan menjadi kurus, mata menjadi merah dan sebagainya.
4) Mengalami perubahan penampilan yang sebelumnya rapi menjadi cuek dan tampang berantakan.
5) Orang yang keracunan ganja tidak akan segan-segan melakukan kejahatan seperti pencurian, perkelahian, penganiayaan dan pemerkosaan.
6) Pada penggunaan ganja yang berlebihan orang dapat pingsan.
Dalam keadaan seperti ini, jika segera dotolong. Penderita bisa meninggal dunia. (Tim Penjas Kes: GBPP 1+94 : Pendidikan Jasmani dan Kesehatan Kelas I, Bab XII) Selain itu bahaya penggunaan narkotika lebih berbahaya bagi para wanita remaja bahaya ini antara lain:
1) Menggangu siklus menstruasi
2) Peranakan (rahim) menjadi kering sehingga bisa menyebabkan kemandulan dan menimbulkan kista.
3) Alat reproduksi terganggu sehingga bisa menimbulkan anak yang cacat atau abortus (keguguran)
4) Pengaruh hormon bisa menyebabkan payudara mengecil dan postur tubuh menjadi kurus seperti lelaki.
5) Nafsu makan berkurang dan cenderung hilang, sehingga badan menjadi kurus, kulit kusam dan wajah tidak bercahaya.
Narkotika dan psikotropika dapat menghilangkan dorphine dalam tubuh. Endorphine dalam tubuh berguna mengatur rasa sakit. Jadi apabila tubuh mengalami rasa sakit (contoh dicubit) tubuh tidak akan merasakan sakit. Tubuh yang kehilangan endorphine otomatis akan membuat pemakai kehilangan pengatur rasa sakit sebagai pengganti endorphine pemakai mengkonsumsi heroin dengan dosis sedikit demi sedikit meningkat. Akibatnya ketika racun heroin keluar lewat kencing dan keringat, tubuh langsung merasa sakit yang luar biasa, yang biasa dinamakan sakoku grate
Kalau orang yang ketergantungan pada obat-obatan tersebut tiba-tiba berhenti menggunakannya atau megurangi jumlah obat yang digunakan maka gejala sakaw akan dialami oleh pecandu oleh pecandu narkoba tersebut. Biasanya gejala tiu terjadi selama beberapa jam dan diiukuti oleh kerusakan sering menguap, linangan air mata, menceret, tekanan darah yang rendah keram dan kejang di daerah perut dan kaki, muntah-muntah, tegak bulu roma dan beringus. Sesudah dua hari, Kadang-kadang ada tambahan sifat seperti lekas marah, suhad, nafsu makan berkurang, muntah-muntah, degup jantung yang cepat, otot kejang dan kesadaran jiwa yang emosional. Beberapa gejala misalnya kemuraman yang kronis, kegelisahanm dan ketergantungan akan obat narkoba yang terus menerus akan dialami pecandu narkoba selama beberapa bulan bahkan sampai beberapa tahun. Akibat pemakaian narkoba ini juga akan berakibat ditulari dengan virus hepatitis C dan AIDS lewat suntikan yang tidak steril. Kejadian infeksi virus heptitis C pada penggunaan narkotika lewat suntikan dilaporkan mencapai 80,2 % di Jakarta. Infeksi itu berkembang menjadi heptitis C kronik pada 60-80 % di antaranya 10-20 % penderita hepatitis kronik akan mengalami sirosis hati dalam kurun waktu 10 tahun. Juga sebanyak 20-30 % pasien narkoba yang dirawat di Jakarta dinyatakan positif mengidap HIV.
3. Penyalahgunaan Narkoba atau Napza
Di dalam masyarakat Napza / Narkoba yang sering disalahgunakan adalah :
1. Opiada, terdapat 3 golonagan besar ;
a. Opioda alamiah ( Opiat ) : Morfin, Opium, Codein.
b. Opioda semisintetik : Heroin / putauw, Hidromorfin.
c. Opioda sintetik : Metadon.
Nama jalanan dari Putauw : ptw, black heroin, brown sugar. Heroin yang murni berbentuk bubuk putih, sedangkan yang tidak murni berwarna putih keabuan. Dihasilkan dari getah Opium poppy diolah menjadi morfin dengan proses tertentu dihasilkan putauw, yang kekuatannya 10 kali melebihi morfin.Sedangkan opioda sintetik mempunyai kekuatan 400 kali lebih kuat dari morfin. Morfin, Codein, Methadon adalah zat yang digunakan oleh dokter sebagai penghilang sakit yang sangat kuat, misalnya pada opreasi, penderita cancer. Reaksi dari pemakaian ini sangat cepat yang kemudian menimbulkan perasaan ingin menyendiri untuk menikmati efek rasanya dan pada taraf kecanduan pemakai akan kehilangan percaya diri hingga tak mempunyai keinginan untuk bersosialisasi. Pemakai akan membentuk dunianya sendiri, mereka merasa bahwa lingkungannya menjadi musuh.
2. Kokain
Kokain berupa kristal putih, rasanya sedikit pahit dan lebih mudah larut Nama jalanan : koka, coke, happy dust, chalie, srepet, snow / salju. Cara pemakainnya : membagi setumpuk kokain menjadi beberapa bagian berbaris lurus diatas permukaan kaca atau alas yang permukaannya datar kemudian dihirup dengan menggunakan penyedot seperti sedotan atau dengan cara dibakar bersama dengan tembakau. Penggunaan dengan cara dihirup akan beresiko kering dan luka pada sekitar lubang hidung bagian dalam. Efek pemakain kokain : pemakai akan merasa segar, kehilangan nafsu makan, menambah percaya diri, dan dapat menghilangkan rasa sakit dan lelah.
3. Kanabis
Nama jalanan : cimeng, ganja, gelek, hasish, marijuana, grass, bhang. Berasal dari tanaman kanabis sativa atau kanabis indica. Cara penggunaan : dihisap dengan cara dipadatkan menyerupai rokok atau dengan menggunakan pipa rokok. Efek rasa dari kanabis tergolong cepat, pemakai cenderung merasa lebih santai, rasa gembira berlebihan ( euphoria ), sering berfantasi / menghayal, aktif berkomunikasi, selera makan tinggi, sensitive, kering pada mulut dan tenggorokan.
4. Amphetamine
Nama jalanan : seed, meth, crystal, whiz. Bentuknya ada yang berbentuk bubuk warna putih dan keabuan dan juga tablet. Cara penggunaan : dengan cara dihirup. Sedangkan yang berbentuk tablet diminum dengan air. Ada 2 jenis Amphetamine :
a. MDMA ( methylene dioxy methamphetamine )
Nama jalanan : Inex, xtc.
Dikemas dalam bentuk tablet dan capsul.
b. Metamphetamine ice
Nama jalanan : SHABU, SS, ice.
Cara pengunaan dibakar dengan mengunakan alumunium foil dan asapnya dihisap atau dibakar dengan menggunakan botol kaca yang dirancang khusus ( boong ).
5. Alkohol
Merupakan zat psikoaktif yang sering digunakan manusia Diperoleh dari proses fermentasi madu, gula, sari buah dan umbi – umbian yang mengahasilkan kadar alkohol tidak lebih dari 15 %, setelah itu dilakukan proses penyulingan sehingga dihasilkan kadar alkohol yang lebih tinggi, bahkan 100 %. Nama jalanan : booze, drink. Efek yang ditimbulkan : euphoria, bahkan penurunan kesadaran.
a. Penyalahgunaan dan ketergantungan
Penyalahguanaan adalah : penggunaan salah satu atau beberapa jenis NAPZA secara berkala atau teratur diluar indikasi medis, sehingga menimbulkan gangguan kesehatan fisik, psikis dan gangguan fungsi sosial. Ketergatungan adalah : keadaan dimana telah terjadi ketergantungan fisik dan psikis, sehingga tubuh memerlukan jumlah NAPZA yang makin bertambah ( toleransi ), apabila pemakaiannya dikurangi atau diberhentikan akan timbul gejala putus obat ( withdrawal symptom ).
b. Penyebab Penyalahgunaan Napza
Penyebabnya sangatlah kompleks akibat interaksi berbagai faktor :
1. Faktor individual :
Kebanyakan dimulai pada saat remaja, sebab pada remaja sedang mengalami perubahan biologi, psikologi maupun sosial yang pesat. Ciri – ciri remaja yang mempunyai resiko lebih besar menggunakan NAPZA :
a. Cenderung memberontak
b. Memiliki gangguan jiwa lain, misalnya : depresi, cemas.
c. Perilaku yang menyimpang dari aturan atau norma yang ada
d. Kurang percaya diri
e. Mudah kecewa, agresif dan destruktif
f. Murung, pemalu, pendiam
g. Merasa bosan dan jenuh
h. Keinginan untuk bersenang – senang yang berlebihan
i. Keinginan untuk mencaoba yang sedang mode
j. Identitas diri kabur
k. Kemampuan komunikasi yang rendah
l. Putus sekolah
m. Kurang menghayati iman dan kepercayaan.
2. Faktor Lingkungan :
Faktor lingkungan meliputi faktor keluarga dan lingkungan pergaulan baik sekitar rumah, sekolah, teman sebaya, maupun masyarakat.
1. Lingkungan Keluarga :
a. Komunikasi orang tua dan anak kurang baik
b. Hubungan kurang harmonis
c. Orang tua yang bercerai, kawin lagi
d. Orang tua terlampau sibuk, acuh
e. Orang tua otoriter
f. Kurangnya orang yang menjadi teladan dalam hidupnya
g. Kurangnya kehidupan beragama.
2. Lingkungan Sekolah :
a. Sekolah yang kurang disiplin
b. Sekolah terletak dekat tempat hiburan
c. Sekolah yang kurang memberi kesempatan pada siswa untuk mengembangkan diri secara kreatif dan positif
d. Adanya murid pengguna NAPZA.
3. Lingkungan Teman Sebaya :
a. Berteman dengan penyalahguna
b. Tekanan atau ancaman dari teman.
Lingkungan Masyrakat / Sosial :
a. Lemahnya penegak hukum
b. Situasi politik, sosial dan ekonomi yang kurang mendukung.
Faktor – faktor tersebut diatas memang tidak selalu membuat seseorang kelak menjadi penyalahguna NAPZA. Akan tetapi makin banyak faktor – faktor diatas, semakin besar kemungkinan seseorang menjadi penyalahguna NAPZA.
4. Faktor-Faktor Penyalahgunaan Narkoba atau Napza
NAPZA berpengaruh pada tubuh manusia dan lingkungannya :
1. Komplikasi Medik : biasanya digunakan dalam jumlah yang banyak dan cukup lama. Pengaruhnya pada :
a. Otak dan susunan saraf pusat :
 gangguan daya ingat
 gangguan perhatian / konsentrasi
 gangguan bertindak rasional
 gagguan perserpsi sehingga menimbulkan halusinasi
 gangguan motivasi, sehingga malas sekolah atau bekerja
 gangguan pengendalian diri, sehingga sulit membedakan baik / buruk.
b. Pada saluran napas : dapat terjadi radang paru ( Bronchopnemonia ). pembengkakan paru ( Oedema Paru )
c. Jantung : peradangan otot jantung, penyempitan pembuluh darah jantung.
d. Hati : terjadi Hepatitis B dan C yang menular melalui jarum suntik, hubungan seksual.
e. Penyakit Menular Seksual ( PMS ) dan HIV / AIDS. Para pengguna NAPZA dikenal dengan perilaku seks resiko tinggi, mereka mau melakukan hubungan seksual demi mendapatkan zat atau uang untuk membeli zat. Penyakit Menular Seksual yang terjadi adalah : kencing nanah ( GO ), raja singa ( Siphilis ) dll. Dan juga pengguna NAPZA yang mengunakan jarum suntik secara bersama – sama membuat angka penularan HIV / AIDS semakin meningkat. Penyakit HIV / AIDS menular melalui jarum suntik dan hubungan seksual, selain melalui tranfusi darah dan penularan dari ibu ke janin.
f. Sistem Reproduksi : sering terjadi kemandulan.
g. Kulit : terdapat bekas suntikan bagi pengguna yang menggunakan jarum suntik, sehingga mereka sering menggunakan baju lengan panjang.
h. Komplikasi pada kehamilan :
 Ibu : anemia, infeksi vagina, hepatitis, AIDS.
 Kandungan : abortus, keracunan kehamilan, bayi lahir mati
 Janin : pertumbuhan terhambat, premature, berat bayi rendah.
2. Dampak Sosial :
a. Di Lingkungan Keluarga :
 Suasana nyaman dan tentram dalam keluarga terganggu, sering terjadi pertengkaran, mudah tersinggung.
 Orang tua resah karena barang berharga sering hilang.
 Perilaku menyimpang / asosial anak ( berbohong, mencuri, tidak tertib, hidup bebas ) dan menjadi aib keluarga.
 Putus sekolah atau menganggur, karena dikeluarkan dari sekolah atau pekerjaan, sehingga merusak kehidupan keluarga, kesulitan keuangan.
 Orang tua menjadi putus asa karena pengeluaran uang meningkat untuk biaya pengobatan dan rehabilitasi.
b. Di Lingkungan Sekolah :
 Merusak disiplin dan motivasi belajar.
 Meningkatnya tindak kenakalan, membolos, tawuran pelajar.
 Mempengaruhi peningkatan penyalahguanaan diantara sesama teman sebaya.
c. Di Lingkungan Masyarakat :
 Tercipta pasar gelap antara pengedar dan bandar yang mencari pengguna / mangsanya.
 Pengedar atau bandar menggunakan perantara remaja atau siswa yang telah menjadi ketergantungan.
 Meningkatnya kejahatan di masyarakat : perampokan, pencurian, pembunuhan sehingga masyarkat menjadi resah.
 Meningkatnya kecelakaan.
5. Langkah-Langkah Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba danNapza
Upaya pencegahan meliputi 3 hal :
1. Pencegahan primer : mengenali remaja resiko tinggi penyalahgunaan NAPZA dan melakukan intervensi.Upaya ini terutama dilakukan untuk mengenali remaja yang mempunyai resiko tinggi untuk menyalahgunakan NAPZA, setelah itu melakukan intervensi terhadap mereka agar tidak menggunakan NAPZA. Upaya pencegahan ini dilakukan sejak anak berusia dini, agar faktor yang dapat menghabat proses tumbuh kembang anak dapat diatasi dengan baik.
2. Pencegahan Sekunder : mengobati dan intervensi agar tidak lagi menggunakan Narkoba
3. Pencegahan Tersier : merehabilitasi penyalahgunaan NAPZA.Yang dapat dilakukan di lingkungan keluarga untuk mencegah penyalahgunaan NAPZA :
1. Mengasuh anak dengan baik.
a. penuh kasih saying
b. penanaman disiplin yang baik
c. ajarkan membedakan yang baik dan buruk
d. mengembangkan kemandirian, memberi kebebasan bertanggung jawab
e. mengembangkan harga diri anak, menghargai jika berbuat baik atau mencapai prestasi tertentu.
2. Ciptakan suasana yang hangat dan bersahabat
Hal ini membuat anak rindu untuk pulang ke rumah.
3. Meluangkan waktu untuk kebersamaan.
4. Orang tua menjadi contoh yang baik.
Orang tua yang merokok akan menjadi contoh yang tidak baik bagi anak.
5. Kembangkan komunikasi yang baik
Komunikasi dua arah, bersikap terbuka dan jujur, mendengarkan dan menghormati pendapat anak.
6. Memperkuat kehidupan beragama. Yang diutamakan bukan hanya ritual keagamaan, melainkan memperkuat nilai moral yang terkandung dalam agama dan menerapkannya dalam kehidupan sehari – hari.
7. Orang tua memahami masalah penyalahgunaan NAPZA agar dapat berdiskusi dengan anak
Yang dilakukan di lingkungan sekolah untuk pencegahan penyalahgunaan NAPZA :
1. Upaya terhadap siswa :
1) Memberikan pendidikan kepada siswa tentang bahaya dan akibat penyalahgunaan NAPZA.
2) Melibatkan siswa dalam perencanaan pencegahan dan penanggulangan penyalahgunaan NAPZA di sekolah.
3) Membentuk citra diri yang positif dan mengembangkan ketrampilan yang positif untuk tetap menghidari dari pemakaian NAPZA dan merokok.
4) Menyediakan pilihan kegiatan yang bermakna bagi siswa ( ekstrakurikuler ).
5) Meningkatkan kegiatan bimbingan konseling.
6) Membantu siswa yang telah menyalahgunakan NAPZA untuk bisa menghentikannya.
7) Penerapan kehidupan beragama dalam kegiatan sehari – hari.
2. Upaya untuk mencegah peredaran NAPZA di sekolah :
a. Razia dengan cara sidak
b. Melarang orang yang tidak berkepentingan untuk masuk lingkungan sekolah
c. Melarang siswa ke luar sekolah pada jam pelajaran tanpa ijin guru
d. Membina kerjasama yang baik dengan berbagai pihak.
e. Meningkatkan pengawasan sejak anak itu datang sampai dengan pulang sekolah.
3. Upaya untuk membina lingkungan sekolah :
1) Menciptakan suasana lingkungan sekolah yang sehat dengan membina huibungan yang harmonis antara pendidik dan anak didik.
2) Mengupayakan kehadiran guru secara teratur di sekolah
3) Sikap keteladanan guru amat penting
4) Meningkatkan pengawasan anak sejak masuk sampai pulang sekolah.
Yang dilakukan di lingkungan masyarakat untuk mencegah penyalahguanaan NAPZA :
1. Menumbuhkan perasaan kebersamaan di daerah tempat tinggal, sehingga masalah yang terjadi di lingkungan dapat diselesaikan secara bersama- sama.
2. Memberikan penyuluhan kepada masyarakat tentang penyalahguanaan NAPZA sehingga masyarakat dapat menyadarinya.
3. Memberikan penyuluhan tentang hukum yang berkaitan dengan NAPZA.
4. Melibatkan semua unsur dalam masyarakat dalam melaksanakan pencegahan dan penanggulangan penyalahguanaan NAPZA.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, Khutbah Jum’at. 1997. Bahaya Putaw Menghancurkan Sumber Daya
Manusia. Jakarta.Ikatan Masjid indonesia.
Drs. Kamisa, 1997. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Surabaya : Kartika.
Gunawan Adi, Drs., Kamus Praktis Ilmiah Populer. Surabaya : Kartika.
Penyalahgunaan Narkoba Bagi Remaja. Jakarta : Badan Narkotika Nasional Republik
Indonesia.
Saukah Ali, M.A., Ph.D., 1996. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah. Malang : IKIP
Malang.
Sugiono, dkk. 1998. Pendidikan Jasmani dan Kesehatan 1 SLTP. Jakarta. YudhistiraBadan Narkotika Nasional Republik Indonesia, 2003. Pedoman

Syaikh Ayman al-Zawahiri Serukan Jihad Di Pakistan

30 Aug 2009 Uncategorized

Orang nomor dua dalam tubuh Al Qaidah, Syaikh Ayman al-Zawahiri, pada hari Jumat (28/8) kemarin menyataan bahwa Amerika Serikat telah membunyikan terompet perang salib untuk memecah belah Pakistan. Syaikh al-Zawahiri pun menyeru rakyat Pakistan bergabung dalam jihad untuk melawan penjajah AS yang tidak pernah puas memerangi negeri-negeri Islam, termasuk Pakistan.

Rekaman kedua pernyataan Syaikh Ayman al-Zawahiri selama bulan ini pun muncul setelah pimpinan mujahidin Taliban Pakistan, Baitullah Mehsud, terbunuh dalam serangan misil yang dilakukan oleh AS 5 Agustus lalu.

Selain itu, rekaman pernyataan ini pun muncul setelah angkatan perang boneka Pakistan melakukan penyerangan ofensif akhir April ini terhadap kekuatan mujahidin Taliban di Lembah Swat setelah para mujahidin mengambil alih daerah yang terletak 120 kilometer dari Islamabad tersebut, dengan dalih menangani ketakutan yang semakin meningkat pada stabilitas Pakistan dan menyelamatkan persenjataan nuklirnya.

Syaikh al-Zawahiri menyatakan bahwa angkatan perang Pakistan yang seharusnya melindungi negeri dan rakyat Pakistan malah bertindak sebagai alat utama perang salib Amerika terhadap Islam dan kaum muslimin. Beliau menangkis bahwa aksi militer pemerintah Pakistan yang bertajuk “Jalan Menuju Keselamatan” karena mereka ingin hal tersebut menjadi jalan untuk menyelamatkan Amerika dari kekalahan.

“Justru sebaliknya, dengan petunjuk Allah dan penyerangan dari mujahidin, mereka (Pakistan dan Amerika) tengah menempuh jalan menuju kehancuran.”

Menurut Syaikh al-Zawahiri, peperangan yang terjadi di wilayah perbatasan dan Swat merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan dari upaya penyerangan para salibis terhadap dunia Islam.

“Mereka ingin menyingkirkan para mujahidin di wilayah tersebut, dengan demikian, mereka akan dengan mudah menekan jihad di Afghanistan. Dan usaha mereka menekan jihad di Afghanistan dilakukan agar tidak ada kekuatan kaum muslimin yang muncul di Asia Tengah yang tentunya akan menghambat kepentingan global para salibis dan yang akan menjadi pelindung bagi kaum muslimin beserta hak-haknya. Singkatnya, ini adalah pertarungan, dan siapa saja yang mendukung dan membantu Amerika dan militer antek Pakistan – dengan dalih, cara, atau kebohongan apapun – sesungguhnya adalah telah berdiri bersama dengan orang-orang kafir yang memerangi Islam dan kaum muslimin.

Dalam pernyataan yang dibacakan dalam durasi 22 menit dan berjudul “Jalan Menuju Kehancuran”, beliau mengulangi komentar yang diungkapkannya pada bulan Juli lalu, yakni menyeru rakyat Pakistan untuk berperang melawan para salibis Amerika dan tentara boneka Pakistan yang tidak pernah berhenti menyerang kaum muslimin, khususnya di negara yang bertetangga dengan Afghanistan tersebut.

“Saudara-saudaraku Pakistan terkasih, tidak akan pernah ada kemuliaan kecuali dengan jihad,” tegas Syaikh al-Zawahiri

“Wahai rakyat Pakistan… berpihaklah pada jihad dan mujahidin dengan jiwa, harta, pendapat, kemampuan, informasi dan doa anda dan dengan menyeru orang lain untuk menolong siapa saja yang menolong agama Allah.”

Dan di akhir pernyataannya, Syaikh Ayman al-Zawahiri mengutip beberapa ayat al Quran yang semakin menguatkan bahwa seruan jihadnya adalah sebuah kebutuhan bagi kaum muslimin di Pakistan khususnya.

Dan berapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar. Tidak ada doa mereka selain ucapan: “Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Ali Imran [3]: 146-148)

(Yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka”, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.” (Yaitu) orang-orang yang mentaati perintah Allah dan Rasul-Nya sesudah mereka mendapat luka (dalam peperangan Uhud). Bagi orang-orang yang berbuat kebaikan diantara mereka dan yang bertakwa ada pahala yang besar. Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak mendapat bencana apa-apa, mereka mengikuti keridhaan Allah. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah syaitan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik Quraisy), karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepadaKu, jika kamu benar-benar orang yang beriman. (QS. Ali Imran [3]: 172-175) Sumber Arrahmah.Com

PENDEKATAN FENOMENOLOGI

30 Aug 2009 Uncategorized

I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Di dalam kehidupan praktis sehari-hari, manusia bergerak di dalam dunia yang telah diselubungi dengan penafsiran-penafsiran dan kategori-kategori ilmu pengetahuan dan filsafat. Penafsiran-penafsiran itu seringkali diwarnai oleh kepentingan-kepentingan, situasi-situasi kehidupan dan kebiasaan-kebiasaan, sehingga ia telah melupakan dunia apa adanya, dunia kehidupan yang murni, tempat berpijaknya segala bentuk penafsiran.

Dominasi paradigma positivisme selama bertahun-tahun terhadap dunia keilmuwanl, tidak hanya dalam ilmu-ilmu alam tetapi juga pada ilmu-ilmu sosial bahkan ilmu humanities, telah mengakibatkan krisis ilmu pengetahuan. Persoalannya bukan penerapan pola pikir positivistis terhadap ilmu-ilmu alam, karena hal itu memang sesuai, melainkan positivisme dalam ilmu-ilmu sosial, yaitu masyarakat dan manusia sebagai makhluk historis.

Problematik positivisme dalam ilmu-ilmu sosial, yang menghilangkan peranan subjek dalam membentuk ‘fakta sosial’, telah mendorong munculnya upaya untuk mencari dasar dan dukungan metodologis baru bagi ilmu sosial dengan ‘mengembalikan’ peran subjek kedalam proses keilmuwan itu sendiri. Salah satu pendekatan tersebut adalah pendekatan fenomenologi yang secara ringkas akan dibahas di bawah ini

Dalam makalah ini, penulis memfokuskan pembahasan pada hakekat filsafat fenomenologi itu sendiri, kemudian cara kerja pendekatan fenomenologi, selanjutnya kontribusi fenomenologi terhadap dunia ilmu pengetahuan, dan terakhir kritik terhadap fenomenologi.

1.2. Masalah
Dengan mengacu kepada sistem kerja metode fenomenologi, maka langkah-langkah penelitian yang akan dilakukan diharapkan akan menghasilkan: Pertama, deskripsi yang bukan saja dari segi ajaran, tetapi juga berbagai bentuk ekspresi keagamaan yang bersifat tata upacara, simbolik, atau mistis. Kedua, deskripsi tentang hakikat kegiatan keagamaan, khususnya dalam hubungannya dengan bentuk ekspresi kebudayaan. Ketiga, deskripsi tentang perilaku keagamaan berupa:
a) Deskripsi ontologis, yakni memusatkan perhatiannya pada obyek kegiatan keagamaan, seperti kesucian dan kegaiban dalam hubungannya dengan Tuhan;
b) Deskripsi psikologis, yakni perhatian diletakkan pada kegiatan kegamaan itu sendiri;
c) Deskripsi dialektik, yakni menperoleh perhatian dalam hubungannya antara subyek dan obyek dalam kegiatan keagamaan. Dalam hal ini, peneliti bisa menekankan diri pada pengalaman keagamaan, bisa juga menfokuskan diri pada peran simbol-simbol keagamaan itu sebagai dasar bagi manusia dalam mengalami dunianya.
Penelitian dengan corak naturalistik-fenomenologis telah dilakukan oleh para orientalis, khusunya dengan pendekatan fenomenologis dalam studi keagamaan. Misalnya Rudolf Otto, Goldzicher, dan Snouck Hurgronje. Khusus dalam meneliti agama Islam, hal-hal yang diteliti, antara lain adalah naskah atau teks Alquran, hadis-hadis Nabi, karya-karya ulama, dan sikap keislaman masyarakat.
Dalam penelitian keislaman, tampaknya sejalan dengan metodologi penelitian fenomenologis yang menekankan pada pandangan bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi tidak bebas nilai, tetapi mempunyai hubungan dengan nilai (value bond).
Penelitian harus berdasar pada nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, nilai efisiensi, dan efektivitas. Untuk mendalami penelitian keislaman, hendaknya menggunakan pendekatan fenomenologis yang dimulai dengan model etnografik-etnometodologik yang dilengkapi dengan model pradigma naturalistik dan interaksi simbolik untuk memperluas wawasan. Dengan hasil penelitian bercorak naturalistik-fenomenologis, akan melahirkan eksentuasi yang diteliti untuk senantiasa kompromi.

II. PEMBAHASAN

PENDEKATAN FENOMENOLOGIS

A. Hakekat Fenomenologi

Fenomenologi (Inggris: Phenomenology) berasal dari bahasa Yunani phainomenon dan logos. Phainomenon berarti tampak dan phainen berarti memperlihatkan. Sedangkan logos berarti kata, ucapan, rasio, pertimbangan. Dengan demikian, fenomenologi secara umum dapat diartikan sebagai kajian terhadap fenomena atau apa-apa yang nampak. Lorens Bagus memberikan dua pengertian terhadap fenomenologi. Dalam arti luas, fenomenologi berarti ilmu tentang gejala-gejala atau apa saja yang tampak. Dalam arti sempit, ilmu tentang gejala-gejala yang menampakkan diri pada kesadaran kita.

Sebagai sebuah arah baru dalam filsafat, fenomenologi dimulai oleh Edmund Husserl (1859 – 1938), untuk mematok suatu dasar yang tak dapat dibantah, ia memakai apa yang disebutnya metode fenomenologis. Ia kemudian dikenal sebagai tokoh besar dalam mengembangkan fenomenologi. Namun istilah fenomenologi itu sendiri sudah ada sebelum Husserl. Istilah fenomenologi secara filosofis pertama kali dipakai oleh J.H. Lambert (1764).
Dia memasukkan dalam kebenaran (alethiologia), ajaran mengenai gejala (fenomenologia). Maksudnya adalah menemukan sebab-sebab subjektif dan objektif ciri-ciri bayangan objek pengalaman inderawi (fenomen).

Pendekatan fenomenologis
Terdapat dua hal penting yang mencirikan pendekatan fenomenologi agama.
1. Fenomenologi adalah metode untuk memahami agama sesorang yang termasuk di dalamnya usaha sebagian sarjana dalam mengkaji pilihan dan komitmen mereka secara netral sebagai persiapan untuk melakukan rekonstruksi pengalaman orang lain.
2. Konstruksi skema taksonomik untuk mengklasifikasi fenomena dibenturkan dengan batas-batas budaya dan kelompok religius. Secara umum, pendekatan ini hanya menangkap sisi pengalaman keagamaan dan kesamaan reaksi keberagamaan semua manusia secara sama, tanpa memperhatikan dimensi ruang dan waktu dan perbedaan budaya masyarakat.

Arah dari pendekatan fenomenologi adalah memberikan penjelasan makna secara jelas tentang apa yang yang disebut dengan ritual dan uapacara keagamaan, doktrin, reaksi sosial terhdap pelaku “drama” keagamaan. Sebagai sebuah ilmu yang relatif kebenarannya, pendekatan ini tidak dapat berjalan sendiri.
Secara operasioonal, ia membutuhkan perangkat lain, misalnya sejarah, filologi, arkeologi, studi literatur, psikologi, sosiologi, antropologi, dan sebagainya.

Istilah fenomenologi berasal dari bahasa Yunani pahainomenon yang secara harfiah berarti “gejala” atau “apa ayng telah menampakkan diri” sehingga nyata bagi kita. Metode ini dirintis oleh Edmund Husserl (1859-1938). Dalam operasionalnya, fenomenologi agama menerapkan metodologi ilmiah dalam meneliti fakta religius yang bersifat subyektif seperti pikiran-pikiran, perasaan-perasaan, ide-ide, emosi, maksud, pengalaman, dan sebagainya dari seseorang yang diungkapkan dalam tindakan luar.

Pendekatan fenomenologi berusaha memperoleh gambaran yang lebih utuh dan lebih fundamental tentang fenomena keberagamaan manusia. Pendekatan fenomenologi berupaya untuk mencari esensi keberagamaan manusia. Usaha pendekatan fenomenologi agaknya mengarah ke arah balik, yakni untuk mengembalikan studi agama yang bersifat historis-empiris ke pangkalannya agar tidak terlalu jauh melampaui batas-batas kewenangannya.
Untuk memahami Islam dan agama terkait dengan tradisi, ternyata tidak cukup dengan hanya menjelaskan dua pendekatan di atas. Agar komprehensif dan sistematis, penjelasan Admas juga disertai dengan pemaparan tentang objek kajian agama.

Oleh karena itu, setelah menjelaskan pendekatan-pendekatan yang dapat digunakan dalam studi Islam tersebut, Adams juga memetakan wilayah kajian studi Islam. Adams mengelompokkan studi Islam menjadi:
a) Arabia pra-Islamic (pre-Islamic Arabia)
b) Kajian tentang Rasul (studies of the Prophet)
c) Kajian al-Qur’an (Qur’anic studies)
d) Hadits (prophetic tradition)
e) Hukum Islam (Islamic law)
f) Filsafat (falsafah)
g) Tasawuf (tasawwuf)
h) Aliran dalam Islam (the Islamic sects)
i) Ibadah (worship and devotional life)
j) Dan Agama Rakyat (popular religion).

B. Fenomenologi Sebagai Metode Ilmu

Fenomenologi berkembang sebagai metode untuk mendekati fenomena-fenomena dalam kemurniannya. Fenomena disini dipahami sebagai segala sesuatu yang dengan suatu cara tertentu tampil dalam kesadaran kita. Baik berupa sesuatu sebagai hasil rekaan maupun berupa sesuatu yang nyata, yang berupa gagasan maupun kenyataan. Yang penting ialah pengembangan suatu metode yang tidak memalsukan fenomena, melainkan dapat mendeskripsikannya seperti penampilannya tanpa prasangka sama sekali. Seorang fenomenolog hendak menanggalkan segenap teori, praanggapan serta prasangka, agar dapat memahami fenomena sebagaimana adanya: “Zu den Sachen Selbst” (kembali kepada bendanya sendiri).
Tugas utama fenomenologi menurut Husserl adalah menjalin keterkaitan manusia dengan realitas. Bagi Husserl, realitas bukan suatu yang berbeda pada dirinya lepas dari manusia yang mengamati. Realitas itu mewujudkan diri, atau menurut ungkapan Martin Heideger, yang juga seorang fenomenolog: “Sifat realitas itu membutuhkan keberadaan manusia”. Filsafat fenomenologi berusaha untuk mencapai pengertian yang sebenarnya dengan cara menerobos semua fenomena yang menampakkan diri menuju kepada bendanya yang sebenarnya. Usaha inilah yang dinamakan untuk mencapai “Hakikat segala sesuatu”.

Untuk itu, Husserl mengajukan dua langkah yang harus ditempuh untuk mencapai esensi fenomena, yaitu metode epoche dan eidetich vision. Kata epoche berasal dari bahasa Yunani, yang berarti: “menunda keputusan” atau “mengosongkan diri dari keyakinan tertentu”. Epoche bisa juga berarti tanda kurung (bracketing) terhadap setiap keterangan yang diperoleh dari suatu fenomena yang nampak, tanpa memberikan putusan benar salahnya terlebih dahulu. Fenomena yang tampil dalam kesadaran adalah benar-benar natural tanpa dicampuri oleh presupposisi pengamat. Untuk itu, Husserl menekankan satu hal penting: Penundaan keputusan. Keputusan harus ditunda (epoche) atau dikurung dulu dalam kaitan dengan status atau referensi ontologis atau eksistensial objek kesadaran
a) Selanjutnya, menurut Husserl, epoche memiliki empat macam, yaitu :
Method of historical bracketing; metode yang mengesampingkan aneka macam teori dan pandangan yang pernah kita terima dalam kehidupan sehari-hari, baik dari adapt, agama maupun ilmu pengetahuan
b) Method of existensional bracketing; meninggalkan atau abstain terhadap semua sikap keputusan atau sikap diam dan menunda
c) Method of transcendental reduction; mengolah data yang kita sadari menjadi gejala yang transcendental dalam kesadaran murni
d) Method of eidetic reduction; mencari esensi fakta, semacam menjadikan fakta-fakta tentang realitas menjadi esensi atau intisari realitas itu.

Dengan menerapkan empat metode epoche tersebut seseorang akan sampai pada hakikat fenomena dari realitas yang dia amati.

C. Kontribusi Fenomenologi Terhadap Dunia Ilmu Pengetahuan

Memperbincangkan fenomenologi tidak bisa ditinggalkan pembicaraan mengenai konsep Lebenswelt (“dunia kehidupan”). Konsep ini penting artinya, sebagai usaha memperluas konteks ilmu pengetahuan atau membuka jalur metodologi baru bagi ilmu-ilmu sosial serta untuk menyelamatkan subjek pengetahuan.

Edmund Husserl, dalam karyanya, The Crisis of European Science and Transcendental Phenomenology, menyatakan bahwa konsep “dunia kehidupan” (lebenswelt ) merupakan konsep yang dapat menjadi dasar bagi (mengatasi) ilmu pengetahuan yang tengah mengalami krisis akibat pola pikir positivistik dan saintistik, yang pada prinsipnya memandang semesta sebagai sesuatu yang teratur – mekanis seperti halnya kerja mekanis jam. Akibatnya adalah terjadinya ‘matematisasi alam’ dimana alam dipahami sebagai keteraturan (angka-angka). Pendekatan ini telah mendehumanisasi pengalaman manusia karena para saintis telah menerjemahkan pengalaman manusia ke formula-formula impersonal.
Dunia kehidupan dalam pengertian Husserl bisa dipahami kurang lebih dunia sebagaimana manusia menghayati dalam spontanitasnya, sebagai basis tindakan komunikasi antar subjek. Dunia kehidupan ini adalah unsur-unsur sehari-hari yang membentuk kenyataan seseorang, yakni unsur dunia sehari-hari yang ia alami dan jalani, sebelum ia menteorikannya atau merefleksikannya secara filosofis.

Konsep dunia kehidupan ini dapat memberikan inspirasi yang sangat kaya kepada ilmu-ilmu sosial, karena ilmu-ilmu ini menafsirkan suatu dunia, yaitu dunia sosial. Dunia kehidupan sosial ini tak dapat diketahui begitu saja lewat observasi seperti dalam eksperimen ilmu-ilmu alam, melainkan terutama melalui pemahaman (verstehen ). Apa yang ingin ditemukan dalam dunia sosial adalah makna, bukan kausalitas yang niscaya. Tujuan ilmuwan sosial mendekati wilayah observasinya adalah memahami makna. Seorang ilmuwan sosial, dalam hal ini, tidak lebih tahu dari pada para pelaku dalam dunia sosial itu. Oleh karena itu, dengan cara tertentu ia harus masuk ke dalam dunia kehidupan yang unsur-unsurnya ingin ia jelaskan itu. Untuk dapat menjelaskan, ia harus memahaminya. Untuk memahaminya, ia harus dapat berpartisipasi ke dalam proses yang menghasilkan dunia kehidupan itu.

Kontribusi dan tugas fenomenologi dalam hal ini adalah deskripsi atas sejarah lebenswelt (dunia kehidupan) tersebut untuk menemukan ‘endapan makna’ yang merekonstruksi kenyataan sehari-hari. Maka meskipun pemahanan terhadap makna dilihat dari sudut intensionalitas (kesadaran) individu, namun ‘akurasi’ kebenarannya sangat ditentukan oleh aspek intersubjektif.
Dalam arti, sejauh mana ‘endapan makna’ yang detemukan itu benar-benar di rekonstruksi dari dunia kehidupan sosial, dimana banyak subjek sama-sama terlibat dan menghayati

Demikianlah, dunia kehidupan sosial merupakan sumbangan dari fenomenologi, yang menempatkan fenomena sosial sebagai sistem simbol yang harus dipahami dalam kerangka konteks sosio-kultur yang membangunnya.
Ini artinya unsur subjek dilihat sebagai bagian tak terpisahkan dari proses terciptanya suatu ilmu pengetahuan sekaligus mendapatkan dukungan metodologisnya.

Tema-Tema Feminisme dalam Bidikan Fenomenologi

Perubahan kondisi sosial yang begitu cepat ternyata beriplikasi pada persepsi setiap individu di dalam masyarakat. Akslerasi arus teknologi dan informasi juga menuntut setiap individu untuk merespon segala gejala yang ada. Feminisme sekali lagi sangat membutuhkan pendekatan yang proposional untuk membaca arti hadirnya. Meski idealnya bahwa pendekatan feminis dapat digunakan untuk mereduksi makna yang ada, karena bagaimanapun hanya perempuanlah yang dapat menilai apa yang terbaik bagi dirinya sendiri. Namun jangan lupa, feminisme, gender dan emansipasi secara makro bentuknya juga sangat dipengaruhi watak sosial masyarakat, realitas sejarah, politik, pendidikan dan konteks kekinian. Sehingga akan lebih mengena bila ditinjau terkait dengan perkembangan historis fenomenologi agama, penelitian Jacques Waardenberg Classical Approaches to The Study of Religion (1973) merupakan teks substantif yang menyatakan
:
Untuk menjadikan “agama” sebagi subjek penelitian empiris dan mulai menelitinya sebagi realitas manusia, niscaya menuntut tidak hanya upaya yang sungguh-sungguh tetapi juga keteguhan hati dan keberanian…salah satu lapangan utama yang secara tradisional dianggap “irrasional” dibuka tidak hanya terhadap penelitian filosofis tetapi juga penelitian rasional
.Mircea Eliade penulis buku Patterns In Comparative Religion (1958) dan The Sacred and the Profane (1959) merupakan pelopor pendekatan ini.

Disebutkan bahwa problem yang paling jelas dalam upaya membangun suatu pendekatan ilmiah dalam studi agama ini adalah pada begitu banyak disiplin ilmu (sejarah, psikologi, sosiologi dan antropologi) yang dijadikan landasan hipotesa, sehingga membutuhkan sekerumun ahli untuk suatu menganalisa wacana yang dibidik
.
4. Feminisme; Gerakan Tanpa Arah?
Kembali kewilayah feminis, Islam yang digunakan sebagai perspektif sekaligus kritik terhadap kemapanan kontruksi yang disuburkan oleh interprestasi konservatif Islam itu sendiri. Islam tidak dipandang hanya sebagai agama dengan kumpulan teks-teks verbal, tetapi dipandang sebagai inspirasi dalam pembentukan ruang sosial yang lebih humanis. Poligami, karier, gugat cerai, hak waris, kepemimpinan, jilbab dan banyak lainnya merupakan isu yang digulirkan para aktivis dan diteliti celah-celah ketidakadilan yang mendekam didalamnya.
Tentu, perlu diproyeksikan penyebab ketidakadilan yang ada untuk merubah cara pandang kehendak Allah SWT di dalam Al-Qur’an. Karena bagaimanapun ketimpangan yang ada bukan disebabkan oleh Al-Qur’an tetapi cara pandang manusia yang kerap menerapkan makna secara kompulsif. Latarbelakang sejarah, sosial ekonomi, budaya, pendidikan dan agama merupakan aspek-aspek yang perlu dianalisis sehingga ukuran kesuksesan gerakan feminisme tidak digebyah uyah dengan kesuksesan atau kebebasan liberal seperti yang digemakan aktivis dibarat. Negeri dimana when women have the freedom to sleep with whichever man they wish.
Yang terjadi pada tataran praksis memang ironis, simak bagaimana di dalam Islam para muslimah tidak saja berhadapan dengan beberapa problem mendasar di atas. Kuatnya kultur patriarki dan dominasi interprestasi teks Al-Qur’an dan Hadits yang tidak memihak perempuan. Bahkan sebagai autokritik, ketidakpekaan menyikapi feminisme ini juga dimiliki para ulama di lingkungan pesantren. Lihat saja pada tradisi bahtsul masa’il Nahdlatul Ulama, fenomena yang terlihat adalah dominasi laki-laki di dalam pembahasan persoalan fiqih. Meski terdapat organisasi Fatayat dan Muslimat NU, hampir tidak pernah dijumpai forum bahtsul masail yang digagas kaum perempuan guna membahas persoalan keperempuanan melalui pendekatan fiqih atau ushul fiqih, atau setidaknya karya-karya monumental yang lahir dari perempuan. Agak aneh memang, padahal tak sedikit perempuan yang belajar ilmu keagamaan di pesantren sebagaimana laki-laki.

Lalu sejalan dengan subtema di atas dengan pertanyaan yang sering muncul dan berkaitan dengan feminisme, apakah perempuan yang berada di rumah itu merupakan problem gender yang mendiskriminasikan perempuan? Lalu bagaimana dengan para perempuan yang memang menjadikan rumah sebagai institusi yang lebih menyenangkan bagi kehidupannya dibandingkan berkarir secara ekstrim diruang publik?. Jawabannya tentu sulit, karena kontruksi yang melekat bagi permpuan yang telah menikah adalah anggapan bahwa dirinya merupakan milik laki-laki (suami) sehingga pembagian peran dan kerja di dalam keluarga lebih menekankan perbedaan jenis kelamin. Agresifitas, kekuatan fisik, rasionalisme telah menjadi standar yang menjadi parameter dalam kontruksi sosial dan budaya sebagai milik laki-laki. Akibatnya laki-laki yang terlanjur diposisikan sebagai kepala rumah tangga dan mengemban tanggungjawab yang tak ringan. Dan bagi sang suami yang ternyata tidak memiliki kemampuan untuk menghidupi keluarganya kemudian justru melampiaskan emosinya kepada istri dan anak-anaknya. Terlebih bila menganggur maka sang suami akan merasa tidak berharga dan tak punya harga diri karena kontruksi sosial budaya terlanjur menempatkan posisi laki-laki sebagai tumpuan keluarga.

Jilbab pula tak lekang dari kritik feminisme modern yang dianggap sebagai diskriminasi perempuan, yang oleh masyarakat industri dicitrakan katrok, bodoh dan tradisional. Justru ambiguitas stigma ini sempat mencengangkan dunia tatkala jilbab malah dijadikan alat memberontak secara damai terhadap feminisme sebagaimana sejarah yang dicatat Iran dan kota Paris Perancis sebagai kota kiblat mode dunia. “Pemakaian jilbab bukan saja lambang kesucian diri tetapi juga mencerminkan penolakan terhadap peran wanita untuk mengorbankan kewanitaannya di altar laba” tulis DR. Ghayasuddin . Statement ini tentu beralasan ketika peradaban industri telah merampas indetitas perempuan di sektor manapun, ranah komersial misalnya: Iklan produk apapun pasti memafaatkan sensualitas perempuan, seperti mode, kosmetik, hiburan, rokok, minuman suplemen dan komoditi apapun bahkan iklan bola sekalipun.Terkesan hipokrit memang, ketika sebagian membuka maka sebagian menutup dan tatkala sebagian merasa terkekang sebagian yang lain justru merasa nyaman.

5. Islam Suatu Risalah Feminisme

Dalam Islam terdapat relasi tanggung jawab kekeluargaan pada Al-Qur’an surat An-Nisa’ ayat 34 , yang menyatakan:
الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاء بِمَا فَضَّلَ اللّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنفَقُواْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِّلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللّهُ وَاللاَّتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلاَ تَبْغُواْ عَلَيْهِنَّ سَبِيلاً إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلِيّاً كَبِيراً
Yang artinya :
:
“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka.
Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar”
.
Dari ayat di atas terbaca bahwa kata dimaknai pemimpin atau juga ditafsiri penanggungjawab, pendidik dan lain sebagainya. Sebenarnya pemaknaan ini tidak bermasalah selama tidak diiringi perilaku dan sudut pandang yang diskriminasi. Hanya saja, tak sedikit dari para mufasir yang memaknai sebagai superioritas mutlak laki-laki yang ditangannya terdapat kehidupan perempuan. Imam Fakhruddin al-Razi dalam tafsir Al-Kabir (juz X) menyatakan bahwa kelebihan laki-laki atas perempuan adalah karena ilmu pengetahuan (akal) dan kemampuan (kekuatan), tafsir ini adalah peniscayaan laki-laki lebih unggul dibanding istrinya.
Penafsiran seperti di atas tentu tidak mungkin dipertahankan. Ayat Al-Qur’an di atas lebih tepat diletakan dengan ketentuan yang spesifik, kontekstual dan sosiologis partikular, yang perlu dikedepankan justru semangat pembebasan dan keadilan yang ada dibalik sebuah teks itu sendiri melalui penafsiaran ulang terhadap beberapa teks yang pernah ditafsiri secara absurd. Karena bagaimanapun, kondisi sosial saat ini telah banyak mengalami perubahan dan dalam banyak kenyataan tidak sedikit perempuan yang ternyata memiliki kelebihan dibandingkan laki-laki di dalam mengapresiasikan setiap fenomena kehidupan yang muncul di bidang sosial, politik, ekonomi, budaya dan agama.

Islam merupakan rahmatan lil’alamin, sejatinya yang patut dikedepankan justu semangat pembebasan dan keadilan yang ada dibalik sebuah teks itu sendiri melalui penafsiran ulang sebagai aturan hukum korektif (ishtilahy) bukan persoalan yang pokok (ta’sisi) yang bisa direvisi secara terus menerus. Bahwa fiqh bukanlah agama (din) itu sendiri melainkan pengetahuan keagamaan (ma’rifat al-din) yang bisa dikonstruksi sesuai dengan ekbutuhan laki-laki dan perempuan secara bersama-sama . Prinsip ini penting karena persoalan kemanusiaan yang mengupayakan kemaslahatan merupakan spirit utama agama (maqasidul syari’ah ) tanpa dikotomi laki-laki dan perempuan yang peruncing. Bukankah terminologi Al-Qur’an menegaskan bahwa kemuliaan seseorang itu terletak pada tingkat ketakwaannya dan tidak dilihat apakah dia itu laki-laki atau perempuan?
.
D. Kritik Terhadap Fenomenologi

Sebagai suatu metode keilmuan, fenomenologi dapat mendeskripsikan fenomena sebagaimana adanya dengan tidak memanipulasi data. Aneka macam teori dan pandangan yang pernah kita terima sebelumnya dalam kehidupan sehari-hari, baik dari adat, agama, ataupun ilmu pengetahuan dikesampingkan untuk mengungkap pengetahuan atau kebenaran yang benar-benar objektif.

Selain itu, fenomenologi memandang objek kajiannya sebagai kebulatan yang utuh, tidak terpisah dari objek lainnya. Dengan demikian fenomenologi menuntut pendekatan yang holistik, bukan pendekatan partial, sehingga diperoleh pemahaman yang utuh mengenai objek yang diamati. Hal ini menjadi suatu kelebihan pendekatan fenomenologi, sehingga banyak dipakai oleh ilmuwan-ilmuwan dewasa ini, terutama ilmuwan sosial, dalam berbagai kajian keilmuan mereka termasuk bidang kajian agama

Dibalik kelebihan-kelebihannya, fenomenologi sebenarnya juga tidak luput dari berbagai kelemahan. Tujuan fenomenologi untuk mendapatkan pengetahuan yang murni objektif tanpa ada pengaruh berbagai pandangan sebelumnya, baik dari adat, agama, ataupun ilmu pengetahuan, merupakan sesuatu yang absurd. Sebab fenomenologi sendiri mengakui bahwa ilmu pengetahuan yang diperoleh tidak bebas nilai (value-free), tetapi bermuatan nilai (value-bound).
Hal ini dipertegas oleh Derrida, yang menyatakan bahwa tidak ada penelitian yang tidak mempertimbangkan implikasi filosofis status pengetahuan. Kita tidak dapat lagi menegaskan objektivitas atau penelitian bebas nilai, tetapi harus sepenuhnya mengaku sebagai hal yang ditafsirkan secara subjektif dan oleh karenanya status seluruh pengetahuan adalah sementara dan relatif. Sebagai akibatnya, tujuan penelitian fenomenologis tidak pernah dapat terwujud.

Selanjutnya, fenomenologi memberikan peran terhadap subjek untuk ikut terlibat dalam objek yang diamati, sehingga jarak antara subjek dan objek yang diamati kabur atau tidak jelas. Dengan demikian, pengetahuan atau kebenaran yang dihasilkan cenderung subjektif, yang hanya berlaku pada kasus tertentu, situasi dan kondisi tertentu, serta dalam waktu tertentu. Dengan ungkapan lain, pengetahuan atau kebenaran yang dihasilkan tidak dapat digenaralisasi.

III. PENUTUP

Dari pembahasan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa fenomenologi merupakan suatu metode analisa juga sebagai aliran filsafat, yang berusaha memahami realitas sebagaimana adanya dalam kemurniannya. Terlepas dari kelebihan dan kekurangannya, fenomenologi telah memberikan kontribusi yang berharga bagi dunia ilmu pengetahuan. Ia telah mengatasi krisis metodologi ilmu pengetahuan, dengan mengembalikan peran subjek yang selama ini dikesampingkan oleh paradigma positivistik – saintistik.

Fenomenologi berusaha mendekati objek kajiannya secara kritis serta pengamatan yang cermat, dengan tidak berprasangka oleh konsepsi-konsepsi manapun sebelumnya. Oleh karena itu, oleh kaum fenomenolog, fenomenologi dipandang sebagai rigorous science (ilmu yang ketat). Hal ini tampaknya sejalan dengan ‘prinsip’ ilmu pengetahuan, sebagaimana dinyatakan J.B Connant, yang dikutip oleh Moh. Muslih, bahwa: “The scientific way of thinking requires the habit of facing reality quite unprejudiced by and any earlier conceptions. Accurate observation and dependence upon experiments are guiding principles.”

C. Kesimpulan

Makalah ini tentu belum bisa mengungkap secara utuh wacana feminisme, terlebih sebagai sebuah problem solver. Namun setidaknya terdapat beberapa hal yang dapat dipetik dari deskripsi di atas sebagai pembahasan yang meramaikan wacana.
Bahwa perlu dirumuskannya agenda kerja untuk memulai proses perubahan dalam konteks hubungan interprestasi tekstual perubahan dengan kehidupan perempuan berupa: pertama, mengoreksi teks yang digunakan untuk mendiskriminasikan perempuan dan menghadapkannya dengan teks-teks lain yang justru menentang diskriminasi itu sendiri. Kedua, memeriksa asumsi-asumsi tersembunyi yang mendasari penafsiran dan perumusan ajaran agama yang mengidap bias gender . Caranya adalah mengubah metode pengambilan hukum serta kategori-kategori hukumnya yang qath’iy dan zhanniy. Jika dulu teks qath’iy itu dimaknai sebagi teks yang sudah jelas dan nyata, tidak boleh ada kritik sehingga menyudutkan kaum perempuan dengan contoh penafsiran Al-Qur’an dan pentakwilan Hadits yang masih dipakai dewasa ini, maka untuk kedepan, qath’iy bisa dimaknai sebagai prinsip-prinsip dasar yang tidak lagi menimbulkan perdebatan, seperti prinsip tentang keadilan, mu’asyarah bi ma’ruf, kesetaraan, dan sebagainya.
Arah gerakan perempuan lebih tepat kiranya dilakukan dalam kerangka gerakan transformatif, yaitu suatu proses gerakan untuk menciptakan hubungan antara sesama manusia yang lebih humanis, adil, setara dan bukan berdasarkan ‘dendam’ semata-mata kepada laki-laki
.

DAFTAR PUSTAKA

1) Adian, Donny Gahral, 2001, Matinya Metafisika Barat, Jakarta: komunitas Bambu.

2) Bagus, Lorens, 1996, Kamus Filsafat, Jakarta: Gramedia.

3) Connolly, Peter, (Ed.), 2002, Approaches to the Study of Religion, Terj. Imam Khoiri, Aneka Pendekan Studi Agama, Yogyakarta: LkiS

4) Delgaauw, Bernard, 2001, Filsafat Abad 20, terj. Soejono Soemargono, Yogyakarta: Tiara Wacana

5) .Ghazali, Adeng Muchtar, 2005, Ilmu Studi Agama, Bandung: Pustaka Setia.

6) Kasiram, Moh., 2003, Strategi Penelitian Tesis Program Magister by Research, Malang: Program Pascasarjana UIIS Malang.

7) Muslih, Moh., 2005, Filsafat Ilmu: Kajian Atas Asumsi Dasar, Paradigma dan Kerangka Teori Ilmu Pengetahuan, Yogyakarta: Belukar
8) Sills, David L., (Ed.), 1968, International Encyclopedia of the Social Sciences, London: Crowell Collier & Macmillan, Inc.

9) Sutrisno, FX. Mudji , dan F. Budi Hardiman, (Eds.), 1992, Para Filsuf Penentu Gerak Zaman, Yogyakarta: Kanisius

Muslim Filipina Diekstradisi Ke AS Atas Tuduhan Penculikan

30 Aug 2009 Uncategorized

Salah seorang muslim Filipina yang disinyalir tergabung dalam sebuah kelompok ‘ekstrimis’ diekstradisi ke Amerika Serikat untuk menghadapi tuduhan penculikan empat orang warganegara AS, sebagaimana diungkapkan dalam pernyataan kedutaan besar AS di Manila pada Sabtu (29/8).

Madhatta Haipe, yang juga dikenal sebagai Komander Haipe, dikirim ke Amerika Serikat pada Kamis atas tuduhan melakukan penyanderaan dan tuduhan lainnya. Kemungkinan ia akan menerima hukuman penjara seumur hidup, kata pernyataan kedutaan besar.

Duta besar AS untuk Filipina, Kristie Kenney, mencurigai Haipe sebagai seorang anggota Abu Sayyaf, kelompok yang sering dihubungkan oleh agen intelejen dengan jaringan al Qaidah.

Departemen Keadilan AS mengatakan pada Jumat (28/8) bahwa Haipe, yang juga merupakan mantan profesor universitas untu studi Islam, diduga memimpin sekelompok laki-laki bersenjata dalam menculik 16 orang, termasuk empat orang warga negara Amerika, dari tempat wisata air terjun di pulau selatan Mindanao pada 27 Desember 1995.

“Melalui ekstradisi ini, kami berharap akan membawa keadilan bagi korban penyanderaan, baik dari pihak Amerika maupun Filipina,” kata David Kris, asisten pengacara keamanan nasional Filipina pada hari Jumat.

Belum jelas kapan dan bagaimana pemerintah Filipina menahan Haipe.

Charlene Thornton, agen istimewa FBI di Honolulu, mengatakan pihaknya menyelidiki kasus ini dan berkoordinasi dengan pemerintah Filipina selama 15 tahun.

Haipe harus menghadapi tujuh tuntutan dalam persidangan sejak November 2000, termasuk tuduhan penyanderaan, menggunakan senjata api, dan persekongkolan. Masing-masing kasus dituntut hukuman maksimum yang bervariasi dari lima tahun sampai hukuman penjara seumur hidup. Sumber Arrahmah.Com

PENDEKATAN SOSIOLOGIS DALAM MEMAHAMI AGAMA

30 Aug 2009 Uncategorized

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang masalah
Pada konteks kehidupan beragama sehari-hari, terkadang sulit untuk membedakan antara sesuatu yang murni agama dan hasil pemikiran atau interpretasi dari agama. Sesuatu yang murni agama, berarti berasal dari Tuhan, absolut dan mengandung nilai sakralitas. Hasil pemikiran agama, berarti berasal dari selain Tuhan [manusia], bersifat temporal, berubah, dan tidak sakral. Pada aspek realisasi, kadang mengalami kesulitan membedakan keduanya karena terjadi tumpang-tindih dan terjadi pencampuradukan manka antara agama dengan pemikiran agama, baiksangaja atau tidak. Perkembangan selanjutnya, hasil pemikiran agama kadang-kadang telah berubah menjadi agama itu sendiri, sehingga ia disakralkan dandianggap berdosa bagi yang berusaha merubahnya.
Apakah agama adalah kebudayaan atau agama bagian dari kebudayaan ataukah dalam setiap kebudayaan, agama adalah bagian yang paling berharga dari seluruh kehidupan sosial.
Perspektif sosiologi adalah concennya pada struktur social, konsstruksi pengalam manusia dan kebudayaan termasuk agama-sosiologi yang mencurahkan perhatiannya pada studi kolektivitas relogius sebagai mikrokosmos masyarakat, dimana proses dan plea social dapat diamati dengan jelas kondisi karakter komunitas keagamaan yang tertutup / terbatas seperti biara ddan sekte-sekte tertentu / gerakan keagamaan biasa.

B. Masalah
Terdapat dua persoalan yang menjadi kegelisahan sehingga ia membuat pemetaan pendekatan studi Islam, yaitu :
1. Pertama, Islam, berkenaan dengan betapa sulitnya membuat garis pemisah yang jelas antara mana wilayah yang Islami dan yang tidak.
2. Kedua, agama, adanya persoalan yang sangat rumit ketika ada yang memahami agama (Islam) sebagai tradisi (tradition) dan sebagai kepercayaan (faith) an sich.
Penelitian ini penting karena pertama, beberapa universitas (baik di Barat maupun di daerah lainnya) masih menyimpan sejumlah masalah dalam mengadakan studi Islam secara netral dengan menggunakan pendekatan yang ilmiah. Kedua, terjadinya kebuntuan metodologis dan pendekatan di kalangan mahasiswa (baik di Barat maupun Timur) ketika mempelajari studi agama. Di satu pihak, mahasiswa dituntut agar dapat memahami agama dalam orientasi akademik, pada pihak yang lain, mereka harus menjaga nilai transendetal dari agama.

BAB II
PEMBAHASAN
PENDEKATAN SOSIOLOGIS DALAM MEMAHAMI AGAMA

A. Pendekatan Sosiologi Terhadap Agama
Dalam disiplin Sosiologi Agama, ada tiga perspektif utama sosiologi yang seringkali digunakan sebagai landasan dalam melihat fenomena keagamaan di masyarakat, yaitu: perspektif fungsionalis, konflik dan interaksionisme simbolik. Masing-masing perspektif memiliki karakteristiknya sendiri-sendiri bahkan bisa jadi penggunaan perspektif yang berbeda dalam melihat suatu fenomena keagamaan akan menghasilkan suatu hasil yang saling bertentangan. Pembahsan berikut ini akan memaparkan bagaimana ketiga perspektif tersebut dalam melihat fenomena keagamaan yang terjadi di masyarakat.
1. Perspektif Fungsionalis
Perspektif fungsionalis memandang masyarakat sebagai suatu jaringan kelompok yang bekerjasama secara terorganisasi yang bekerja dalam suatu cara yang agak teratur menurut seperangkat peraturan dan nilai yang dianut oleh sebagian besar masyarakat tersebut. Masyarakat dipandang sebagai suatu sistem yang stabil dengan suatu kecenderungan untuk mempertahankan sistem kerja yang selaras dan seimbang.
Secara esensial, prinsip-prinsip pokok perspektif ini adalah sebagai berikut :
1) Masyarakat merupakan sistem yang kompleks yang terdiri dari bagian-bagian yang saling berhubungan dan saling tergantung, dan setiap bagian-bagian tersebut berpengaruh secara signifikan terhadap bagian-bagian lainnya.
2) Setiap bagian dari sebuah masyarakat eksis karena bagian tersebut memiliki fungsi penting dalam memelihara eksistensi dan stabilitas masyarakat secara keseluruhan; karena itu, eksistensi dari satu bagian tertentu dari masyarakat dapat diterangkan apabila fungsinya bagi masyarakat sebagai keseluruhan dapat diidentifikasi.
3) Semua masyarakat mempunyai mekanisme untuk mengintegrasikan dirinya, yaitu mekanisme yang dapat merekatkannya menjadi satu; salah satu bagian penting dari mekanisme ini adalah komitmen anggota masyarakat kepada serangkaian kepercayaan dan nilai yang sama.
4) Masyarakat cenderung mengarah pada suatu keadaan ekuilibrium, dan gangguan pada salah satu bagiannya cenderung menimbulkan penyesuaian pada bagian lain agar tercapai harmoni atau stabilitas.
5) Perubahan sosial merupakan kejadian yang tidak biasa dalam masyarakat, tetapi apabila hal tersebut terjadi, maka perubahan itu pada umumnya akan membawa konsekuensi-konsekuensi yang menguntungkan masyarakat secara keseluruhan.
Sebagai konsekuensi logis dari prinsip-prinsip pokok diatas, perspektif ini berpandangan bahwa segala hal yang tidak berfungsi akan lenyap dengan sendirinya.
6) Karena agama dari dulu hingga sekarang masih tetap eksis maka jelas bahwa agama mempunyai fungsi atau bahkan memainkan sejumlah fungsi di masyarakat. Oleh karenanya, perspektif fungsionalis lebih memfokuskan perhatian dalam mengamati fenomena keagamaan pada sumbangan fungsional agama yang diberikan pada sistem sosial.
Melalui perspektif ini, pembicaraan tentang agama akan berkisar pada permasalahan tentang fungsi agama dalam meningkatkan kohesi masyarakat dan kontrol terhadap perilaku individu.
2. Perspektif Konflik
Tidak ada seorang sosiolog pun yang menyangkal bahwa perspektif konflik dalam kajian sosiologi bersumber pada ide-ide yang dilontarkan oleh Karl Mark seputar masalah perjuangan kelas. Berlawanan dengan perspektif fungsional yang melihat keadaan normal masyarakat sebagai suatu keseimbangan yang mantap, para penganut perspektif konflik berpandangan bahwa masyarakat berada dalam konflik yang terus-menerus diantara kelompok dan kelas, atau dengan kata lain konflik dan pertentangan dipandang sebagai determinan utama dalam pengorganisasian kehidupan sosial sehingga struktur dasar masyarakat sangat ditentukan oleh upaya-upaya yang dilakukan berbagai individu dan kelompok untuk mendapatkan sumber daya yang terbatas yang akan memenuhi kebutuhan dan keinginan mereka.Salah satu pertanyaan menarik yang terlontar sebagai konsekuensi dari penempatan konflik sebagai determinan utama dalam kehidupan sosial adalah masalah kohesi sosial. Kalangan teoritisi konflik setidaknya memandang dua hal yang menjadi faktor penentu munculnya kohesi sosial ditengah-tengah konflik yang terjadi, yaitu melalui kekuasaan dan pergantian aliansi. Hanya melalui kekuasaanlah kelompok yang dominan dapat memaksakan kepentingannya pada kelompok lain sekaligus memaksa kelompok lain untuk mematuhi kehendak kelompok dominan. Kepatuhan inilah yang pada akhirnya memunculkan kohesi sosial. Adapun pergantian aliansi disini berarti berafiliasi pada beberapa kelompok untuk maksud-maksud yang berbeda. Hal ini sangat mungkin untuk dilakukan mengingat suatu isu spesifik seringkali mampu menyatukan kelompok yang sebenarnya memiliki berbagai macam perbedaan.
Dalam kaitannya dengan kekuasaan, kalangan teoritisi konflik memandang agama sebagai ekspresi penderitaan, penindasan, dan rasionalisasi serta pembenaran terhadap tatanan sosial yang ada. Oleh karena itu, dalam perspektif konflik agama dilihat sebagai “kesadaran yang palsu”, karena hanya berkenaan dengan hal-hal yang sepele dan semu atau hal-hal yang tidak ada seperti sungguh-sungguh mencerminkan kepentingan ekonomi kelas sosial yang berkuasa. Dalam pandangan Marx, agama tidak hanya membenarkan ketidakadilan tetapi juga mengilustrasikan kenyataan bahwa manusia dapat menciptakan institusi-institusi sosial, dapat didominasi oleh ciptaan mereka dan pada akhirnya percaya bahwa dominasi adalah sesuatu yang sah. Jadi, dalam perspektif konflik agama lebih dilihat dalam hubungannya dengan upaya untuk melanggengkan status quo, meskipun pada tahap selanjutnya tidak sedikit kalangan yang menganut perspektif ini justru menjadikan agama sebagai basis perjuangan untuk melawan status quo sebagaimana perjuangan bangsa Amerika Latin melalui teologi liberal mereka yang populer.

3. Perspektif Interaksionisme Simbolik
Dalam wacana sosiologi kontenporer, istilah interaksionisme simbolik diperkenalkan oleh Herbert Blumer melalui tiga proposisinya yang terkenal:
a) Manusia berbuat terhadap sesuatu berdasarkan makna-makna yang dimiliki sesuatu tersebut bagi mereka;
b) Makna-makna tersebut merupakan hasil dari interaksi sosial;
c) Tindakan sosial diakibatkan oleh kesesuaian bersama dari tindakan-tindakan sosial individu.
Dengan mendasarkan pada ketiga proposisi diatas, perspektif interaksionisme simbolik melihat pentingnya agama bagi manusia karena agama mempengaruhi individu-individu dan hubungan-hubungan sosial. Pengaruh paling signifikan dari agama terhadap individu adalah berkenaan dengan perkembangan identitas sosial.
Dengan menjadi anggota dari suatu agama, seseorang lebih dapat menjawab pertanyaan “siapa saya?”. Dengan demikian bisa dikatakan bahwa identitas keagamaan, dan kepercayaan-kepercayaan dan nilai-nilai yang diasosiasikan dengan agama merupakan produk dari sosialisasi. Oleh karenanya, kalangan interaksionis lebih melihat agama dari sudut peran yang dimainkan agama dalam pembentukan identitas sosial dan penempatan individu dalam masyarakat. Dari ketiga perspektif utama dalam sosiologi diatas, yang nantinya akan dibahas lebih detail dalam bab-bab selanjutnya, setidaknya kita sudah bisa melihat apa sebenarnya yang menjadi pokok kajian para sosiolog ketika mereka mengkaji permasalahan keagamaan yang terjadi di masyarakat. Luasnya cakupan dimensi agama yang ada sebagai konseskuensi dari kecenderungan para sosiolog mendefinisikan agama secara inklusif sebenarnya telah membuka kesempatan yang luas bagi berbagai perspektif yang ada dalam sosiologi untuk bisa memberikan kontribusi maksimal bagi upaya memahami perilaku-perilaku sosial masyarakat sebagai perwujudan dari pelaksanaan beragam keyakinan dan doktrin-doktrin keagamaan yang ada. Namun demikian, pembahasan sosiologis tentang berbagai fenomena keagamaan yang berkembang dimasyarakat selama ini cenderung terpusat disekitar permasalahan fungsi ganda agama bagi masyarakat, yaitu fungsi integratif dan disintegratif. Oleh karena itu, sebelum kita berupaya mengaplikasikan berbagai perspektif sosiologis untuk mengungkapkan fenomena keberagamaan yang lebih luas dan kompleks, secara sepintas kita perlu untuk melihat kembali bagaiamana para sosiolog menggambarkan fungsi ganda agama ini. Dari sini setidaknya kita akan mendapatkan gambaran bagaimana konsekuensi sosial yang muncul dari serangkaian ritual dan praktek keagamaan dilihat dari perspektif sosiologis.

B. Pendekatan Ilmu Sosial
Ilmu sosial dapat digunakan sebagai salah satu pendekatan dalam memahami agama. Hal ini dapat dimengerti, karena banyak bidang kajian agama yang baru dipahami secara imporsional dan tepat apabila menggunakan jasa bantuan dari ilmu sosial. Pentingnya pendekatan sosial dalam agama sebagaimana disebutkan di atas, dapat dipahami, karena banyak sekali ajaran agama yang berkaitan dengan masalah sosial. Besarnya perhatian agama terhadap masalah sosial ini selanjutnya mendorong kaum agama memahami ilmu-ilmu sosial sebagai alat untuk memahami agamanya.
Maksud pendekatan ilmu sosial ini adalah implementasi ajaran Islam oleh manusia dalam kehidupannya, pendekatan ini mencoba memahami keagamaan seseorang pada suatu masyarakat. Fenomena-fenomena keislaman yang bersifat lahir diteliti dengan menggunakan ilmu sosial seperti sosialogi, antrapologi dan lain sebagainya. Pendekatan sosial ini seperti apa perilaku keagamaan seseorang di dalam masyarakat apakah perilakunya singkron dengan ajaran agamanya aiau tidak. Pendekatan ilmu sosial ini digunakan untuk memahami keberagamaan seseorang dalam suatu masyarakat.
C. Karakteristik Dasar Pendekatan Sosiologis
Kategori – kategori sosiologis, meliputi :
a) Stratifikasi social, seperti kelas dan etnis
b) Kategori biososial, seperti sex, gender, keluarga, perkawinan dan usia.Pola organisasi social; politik, ekonomi, sistem pertukaran dan birokrasi.

Teoritas sosialogis, menggunakan paradigma dan konseptualitas analogis tentang dunia social yang didasarkan pada tradisi sosiologis maupun refleksi atas data empirism yaitu melalui investigasi histories dan penelitan social kontemporer. (panel, kuantitatif dan kualitatif).Pendekatan kulitatif dalam sos-agama didasarkan pada skala besar survai terhadap keyakinan-keyakinan keagamaan, nilai-nilai etis dan praktek-praktek ritual.Pendekatan kualitatif dalam panel social terhadap agama didasarkan pada studi komunitas-komunitas keagamaan dalam skala kecil dengan metode penyelamatan pertisipan /wawancara.
Teoritas sosialogis tentang sekte sangat berbeda dari istilah sekte yang umumnya digunakan. Bagi Troeltsch “sekte” mengindikasikan suatu tipe organisasi keagamaan yang muncul sebgai pemisah dari organisasi mapan tetapi Troeltsch bukan berarti sekte itu rendah melainkan sekte itu dikuatkan oleh perubahan internal.
Karakteristik sekte-sekte yang dipertentangkan oleh para sosiologi :
a. Anggotanya berasal dari kelas rendah dan memiliki kecenderungan egalitarianisme
b. Suatu doktrin yang berbeda yang dipahami oleh pendiri sekte itu.
c. Penolakan terhadap pimpinan, dogma dan praktek social dari agama yang mapan.
d. Keanggotaan didasarkan pada pilihan, bukan perwarisan.
e. Ikatan yang kuat dan keniscayaan komitmen.
f. Nilai-nilai moral dan gaya hidup alternative.
g. Ketidaksediaan mengakomodasikan gerak-gerak social.
Kategori organisasi kunci lainnya dalam sosiologi agama adalah gerakan keagamaan baru (New Religious Movement-NRM).

D. Konsolidasi Dan Interseksi
Konsolidasi adalah suatu prooses atau upaya penggabungan antara dua kelompok atau lebih yang memiliki berbagai perbedaan dan berupaya menyelesaikan perbedaan dan pertentangan tersebut melalui berbagai macam diskusi dan pertemuan-pertemuan guna menemukan titik temu yang disepakati oleh semua pihak yang bertikai. Upaya yang dilakukan disadari dan direncanakan gana menyelesaikan permasalahan yang ada diantara mereka yang bertengkar.
Interseksi adalah suatu penggabungan berbagai perbedaan tidak harus diawali dengan permasalahan dan terjadi dengan sendirinya, misalnya campuran antara berbagai budaya dan kepercayaan. Hasil yang diperoleh adalah perpaduan antara dua atau lebih kebudayaan, sehingga kedua kebudayaan tersebut berbaur atau bercampur satu dengan lainnya .
Misalnya Selamatan dalam masyarakat Jawa, adalah interseksi dari kepercayaan animisme dinamisme dengan agama Hindu dan Budha dan juga agama Islam. Di dalam ajaran Islam tidak ada sesaji dan juga kepercayaan tentang roh nenek moyang, tetapi dalam pelaksanaan selamatan masyarakat pedesaan Jawa menggunakan doa secara agama Islam. Kenyataan ini sering disebut sebagai bentuk sinkritisme agama atau system kepercayaan yang ada. Meminjam istilah yang digunakan Abd A’la saat ini dibutuhkan suatu sistem “pendidikan agama yang mencerahkan”. Pelbagai segi dari sistem pendidikan agama ini mesti dibenahi, mulai dari masalah content, metodologi, serta kemendalaman penyerapan sisi kognitif, afektif, dan konatif. Tentu saja agenda ini bukan suatu kerja enteng yang dapat diselesaikan dalam waktu semalam. Keterlibatan dan kepedulian semua pihak untuk memberikan suatu teladan pewarisan nilai yang inklusif dan humanistik amatlah dibutuhkan, mulai dari tingkat keluarga, hingga pemuka agama
Interseksi berjalan secara damai dan melalui waktu yang panjang dan dengan mempertimbangkan keuntungan dan fungsi bagi masyarakat yang bersangkutan; oleh karena itu interseksi ini akan bersifat dinamis menyesuaikan dengan perkembangan dan tuntutan kebutuhan masyarakat yang bersangkutan.
E. Pengaruh Deferensiasi Social dalam Masyarakat
Deferensiasi social sebagai gejalayang universal dalam kehidupan masyarakat dan membedakan masyarakat secara horizontal, tentu akan membawa dampak dan pengaruh pada kehidupan bersama. Pembedaan secara horizontal ini tetap akan membawa konsekuensi bagi kelompok-kelompok social yang ada. Ikuti penjelasan dampak derensiasi social dalam masyarakat.
a) Fanatisme, Pengelompokan masyarakat berdasarkan demensi horizontal inimemiliki dampak pada fanatisme kelompok yang bersangkutan,. Anggota kelompok memiliki ikatan yang kuat dengan kelompoknya dan sekaligus membedakan dirinya dengan kelompok lain. Misalnya deferensiasi berdasarkan agama, akan menmimbulkan fanatisme bagi setiap pemeluk agama yang bersangkutan dan mereka sekaligus membedakan diri dengan kelompok beragama lainya.
Batas-batas kelompoknya lebih jelas dan batas kelompok yang lain juga jelas oleh karena itu fanatisme dapat tumbuh dan berkembang sebagai dampak dari deferensiasi social.
b) Solidaritas, Solidaritas atau ikatan kebersamaan dapat juga terjadi akibat deferensiasi social yang ada. Solidaritas tumbuh dan berkembang diantara mereka. Deferensiasi karena suku bangsa atau etnik akan membuat ikatan mereka se etnik jauh lebih kuat dibandingkan dengan ikatan mereka diluar etnik. Lebih-lebih bila mereka berada diluar etniknya sebagai pendatang pada etnik yang berbeda, maka solidaritas diantara mereka akan tumbuh dan berkembang sehingga rasa solidaritas diantara mereka semakin tinggi.
Mereka merasa satu bagian dari bagian yang besar dan mereka selalu menyatakan bahwa dirinya adalah bagian dari mereka yang besar tersebut.
c) Toleransi, Pemahaman akan perbedaan yang horizontal diantara kelompok social yang digolongkan berdasarkan deferensiasi social akan menumbuhkan toleransi diantara mereka.
Mereka mengetahui perbedaan dan batas-batas social diantara mereka. Batas kelompok mereka mereka pahami; kesadaran akan kelompoknya juga mereka merasakan. Sisi lain mereka mengetahui batas-batas dari kelompok deferensiasi social lainya. Pemahaman tentang dirinya dan pemaahaman terhadap diri orang lain akan menyebabkan tumbuhnya toleransi diantara mereka. Mereka menghargai apa yang ada pada kelompok lain dan kelompok lain memahami dan menyadari perbedaan yang ada dalam kelomponya.
Kesadaran akan batas dan perbedaan antara kelompok yang berbeda ini merupakan kesadaran social yang menumbuhkan rasa mau menghargai perbedaan sebagai wujud toleransi social yang ada
F. Pengaruh Startifikasi Sosial dalam Masyarakat
Stratifikasi social adalah pembedaan masyarakat kedalam lapisan-lapisan social berdasatrkan demensi vertical akan memiliki pengaruh terhadap kehidupan bersama dalam masyarakat. Ikuti urain tentang dampak stratifikasi social dalam kehidupan masyarakat berikut ini.
1) Eklusivitas, Stratifikasi social yang membentuk lapisan-lapisan social juga merupakan sub-culture, telah menjadikan mereka dalam lapisan-lapisan gtertentu menunjukan eklusivitasnya masing-masing. Eklusivitas dapat berupa gaya hidup, perilaku dan juga kebiasaan mereka yang sering berbeda antara satu lapisan dengan lapisan yang lain.
Gaya hidup dari lapisan atas akan berbeda dengan gaya hidup lapisan menengah dan bawah. Demikian juga halnya dengan perilaku masing-masing anggotanya dapat dibedakan; sehingga kita mengetahui dari kalangan kelas social mana seseorang berasal.Eklusivitas yang ada sering membatasi pergaulan diantara kelas social tertentu, mereka enggan bergaul dengan kelas social dibawahnya atau membatasi diri hanya bergaul dengan kelas yang sanma dengan kelas mereka.
2) Etnosentrisme, Etnosentrisme dipahami sebagai mengagungkan kelompok sendiri dapat terjadi dalam stratifikasi social yang ada dalam masyarakat. Mereka yang berada dalam stratifikasi social atas akan menganggap dirinya adalah kelompok yang paling baik dan menganggap rendah dan kurang bermartabat kepada mereka yang berada pada stratifikasi social rendah.
Pola perilaku kelas social atas dianggap lebih berbudaya dibandingkan dengan kelas social di bawahnya. Sebaliknya kelas social bawah akan memandang mereka sebagai orang boros dan konsumtif dan menganggap apa yang mereka lakukan kurang manusiawi dan tidak memiliki kesadaran dan solidaritas terhadap mereka yang menderita. Pemujaan terhadap kelas sosialnya masing-masing adalah wujud dari etnosentrisme.
3) Konflik Sosial , Perbedaan yang ada diantara kelas social dapt menyebabkan terjadinya kecemburuan social maupun iri hati. Jika kesenjangan karena perbedaan tersebut tajam tidak menutup kemungkinan terjadinya konflik social antara kelas social satu dengan kelas social yang lain.
Misalnya demonstrasi buruh menuntut kenaikan upah atau peningkatan kesejahteraan dari [perusahaan dimana mereka bekerja adalah salah satu konflik yang terjadi karena stratifikasi social yang ada dalam masyarakat.

G. Persoalan Dan Perdebatan
Perdebatan dalam sosiologi agama kontemporer adalah antara pebela dan penentang tesis skularisasi yang mendominasi teori social sejak Comte dan Duncheim.
Indicator-indikator dalam mundurnya pengaruh agama:
a) Kemunduran partisipasi dalam aktifitas dan upacara-upacara keagamaan
b) Kemunduran keanggoraan keagamaan
c) Kemunduran pengaruh institusi-institusi keagamaan dalam kehidupan social.
d) Berkurangnya otoritas yang dimiliki dan menurunnya keyakinan terhadap ajaran-ajaran keagamaan
e) Berkurangnya ketaatan privat, doa dan keyakinan
f) Kemunduran otoritas tradisional yang didukung oleh nilai-nilai moral secara keagamaan
g) Berkurangnya signifikansi social dari professional- professional keagamaan, kekurangan dalam lapangan kerja.
h) Privatisasi internal terhadap ritual-ritual dan sistem keyakinan keagamaan.

Pergeseran dari pedalam kepada urban dari pertanian kepada industrial melibatkan kompleksifikasi organisasi masyarakat yang oleh para sosiolog disebut dengan “diferensiasi social”.

Berkaitan dengan proses difensiasi social ini adalah apa yang disebut Bryan Wilson dengan “Societalisasi”. Masyarakat pra modern berciri khas komunitas kecil masyarakat modern dicirikan proses social yang tidak dikenal.Sosietalisasi diserai dengan individualisasi agama diprovatisasikan dan diindividualisasikan.Weber mengatakan bahwa dinamika social mendasar yang menghasilkan sekularisasi adalah rasionalisasi meningkatnya meditasi teknolosi elektronik dalam pertukaran social adala contoh-contoh rasionalisasi.Prediksi sosiologis mengenai kematian agama dapat menjadi bukti bias anti religius dalam sosiologi agama.

H. Hubungan Antara Agama Dengan Kondisi Masyarakat
Di atas tadi sudah dijelaskan bahwa agama dan masyarakat memiliki hubungan yang erat. Di sini perlu diketahui bahwa itu tidak mengimplikasikan pengertian bahwa “agama menciptakan masyarakat.” Tetapi hal itu mencerminkan bahwa agama adalah merupakan implikasi dari perkembangan masyarakat. Di dalam hal ini agama menurut Durkheim adalah sebuah fakta sosial yang penjelasannya memang harus diterangkan oleh fakta-fakta sosial lainnya.
Contoh sederhana yang bisa diajukan di sini adalah karya Asghar Ali Engineer, seorang pemikir muslim India, dalam buku The Origin and Development of Islam: An Essay on Its Socio-Economic Growth. Dalam buku ini Asghar mengkaji sejarah awal perkembangan Islam dari perspektif sosial-ekonomi. Asghar memaparkan bagaimana kepentingan-kepentingan ekonomis maupun politis berperan dalam meneguhkan beberapa aspek ajaran Islam. Salah satu hal yang menarik yang terungkap dari buku ini adalah betapa sebenarnya penolakan para bangsawan elit Mekah terhadap kehadiran Islam pada waktu itu lebih berdasar pada keterancaman kepentingan ekonomi mereka, lantaran beberapa ajaran Islam yang mengritik ketimpangan sosial-ekonomi ketika itu. Pemaknaan ulang yang dapat melahirkan dan menyegarkan kembali kesadaran dan komitmen iman yang membebaskan ini memang ternyata dapat saja lahir dari kolaborasi semacam ini, sehingga berbagai amal yang menjadi mata rantai iman dan ibadah itu tetap memiliki sifat padu, koheren, dan tidak kontradiktif
Hal ini misalnya ditunjukkan oleh penjelasan Durkheim yang menyatakan bahwa konsep-konsep dan kategorisasi hierarkis terhadap konsep-konsep itu merupakan produk sosial. Menurut Durkheim totemisme mengimplikasikan adanya pengklasifikasian terhadap alam yang bersifat hierarkis. Obyek dari klasifikasi seperti “matahari”, “burung kakatua”, dll., itu memang timbul secara langsung dari pengamatan panca-indera, begitu pula dengan pemasukkan suatu obyek ke dalam bagian klasifikasi tertentu. Tetapi ide mengenai “klasifikasi” itu sendiri tidak merupakan hasil dari pengamatan panca-indera secara langsung. Menurut Durkheim ide tentang “klasifikasi yang hierarkis” muncul sebagai akibat dari adanya pembagian masyarakat menjadi suku-suku dan kelompok-kelompok analog.
Hal yang sama juga terjadi pada konsep “kudus”. Konsep “kudus” seperti yang sudah dibicarakan di atas tidak muncul karena sifat-sifat dari obyek yang dikuduskan itu, atau dengan kata lain sifat-sifat daripada obyek tersebut tidak mungkin bisa menimbulkan perasaan kekeramatan masyarakat terhadap obyek itu sendiri. Dengan demikian, walaupun di dalam buku Giddens tidak dijelaskan penjelasan Durkheim secara rinci mengenai asal-usul sosial dari konsep “kekudusan’, tetapi dapat kita lihat bahwa kesadaran akan yang kudus itu, beserta pemisahannya dengan dunia sehari-hari, menurut Durkheim dari pengatamannya terhadap totemisme, dilahirkan dari keadaan kolektif yang bergejolak. Tapi ternyata konteks yang sedemikian kondusif bagi progresivitas peran sosial agama di masa depan itu terbentur dengan kecenderungan menguatnya fenomena ritualisme. Menurut sebuah penelitian yang diadakan oleh Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) IAIN Jakarta yang dilakukan di 16 provinsi dan melibatkan 2000 responden . Upacara-upacara keagamaan, dengan demikian, memiliki suatu fungsi untuk tetap mereproduksi kesadaran ini dalam masyarakat. Di dalam suatu upacara, individu dibawa ke suatu alam yang baginya nampak berbeda dengan dunia sehari-hari. Di dalam totemisme juga, di mana totem pada saat yang sama merupakan lambang dari Tuhan dan masyarakat, maka Durkheim berpendapat bahwa sebenarnya totem itu, yang merupakan obyek kudus, melambangkan kelebihan daripada masyarakat dibandingkan dengan individu-individu.
Hubungan antara agama dengan masyarakat juga terlihat di dalam masalah ritual. Kesatuan masyarakat pada masyarakat tradisional itu sangat tergantung kepada conscience collective (hati nurani kolektif), dan agama nampak memainkan peran ini memberikan catatan bahwa surah ini berbicara tentang ibadah sejati, yang menuntut landasan iman serta cinta yang bersifat praksis dan bernilai guna, serta ketulusan. Sementara Nurcholish Madjid mencatat bahwa surah ini menegaskan bahwa tiadanya keinsafan sosial merupakan indikasi kepalsuan dalam beragama, dan bahwa kegiatan ibadah seperti salat justru dikutuk bila tidak melahirkan keinsafan sosial.
Masyarakat menjadi “masyarakat” karena fakta bahwa para anggotanya taat kepada kepercayaan dan pendapat bersama. Ritual, yang terwujud dalam pengumpulan orang dalam upacara keagamaan, menekankan lagi kepercayaan mereka atas orde moral yang ada, di atas mana solidaritas mekanis itu bergantung. Di sini agama nampak sebagai alat integrasi masyarakat, dan praktek ritual secara terus menerus menekankan ketaatan manusia terhadap agama, yang dengan begitu turut serta di dalam memainkan fungsi penguatan solidaritas.
Agama juga memiliki sifatnya yang historis. Menurut Durkheim totemisme adalah agama yang paling tua yang di kemudian hari menjadi sumber dari bentuk-bentuk agama lainnya. Seperti misalnya konsep kekuatan kekudusan pada totem itu jugalah yang di kemudian hari berkembang menjadi konsep dewa-dewa, dsb. Kemudian perubahan-perubahan sosial di masyarakat juga dapat merubah bentuk-bentuk gagasan di dalam sistem-sistem kepercayaan. Ini terlihat dalam transisi dari masyarakat tradisional ke masyarakat modern, di mana diikuti perubahan dari “agama” ke moralitas rasional individual, yang memiliki ciri-ciri dan memainkan peran yang sama seperti agama.

I. Moralitas Individual Modern
Transisi dari masyarakat tradisional ke masyarakat modern –yang melibatkan pembagian kerja yang semakin kompleks– seperti yang telah disebutkan di atas melibatkan adanya perubahan otoritas moral dari agama ke moralitas individual yang rasional. Walaupun begitu, moralitas individual itu, seperti yang juga telah disebutkan di atas, menyimpan satu ciri khas dari agama yaitu “kekudusan”. Moralitas individual itu memiliki sifat kudus, karena moralitas itu hanya bisa hidup apabila orang memberikan rasa hormat kepadanya dan menganggap bahwa hal itu tidak bisa diganggu-gugat. Dan ini merupakan suatu bentuk “kekudusan” yang dinisbahkan oleh masyarakat kepada moralitas individual tersebut.
Durkheim menyebutkan bahwa sumber dari moralitas individual yang modern ini adalah agama Protestan. Demikian pula Revolusi Perancis telah mendorong tumbuhnya moralitas individual itu. Di sini perlu ditekankan bahwa moralitas individual tidak sama dengan egoisme. Moralitas individual, yang menekankan “kultus individu” tidak muncul dari egoisme, yang tidak memungkinkan bentuk solidaritas apapun. Adanya anggapan bahwa moralitas individual itu berada di atas individu itu sendiri, sehingga pantas untuk ditaati (sifat kudus dari moralitas individual), menunjukkan perbedaan antara moralitas individual dengan egoisme. Contoh konkrit dari hal ini adalah dalam bidang ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan menekankan penelitian bebas yang merupakan salah satu bagian dari moralitas individual, tetapi ia tidak mengikutsertakan suatu bentuk anarki, suatu penelitian ilmiah dengan kebebasan penelitiannya justru hanya bisa berlangsung dalam kerangka peraturan-peraturan moral, seperti rasa hormat terhadap pendapat-pendapat orang lain dan publikasi hasil-hasil penelitian serta tukar menukar informasi.
Dengan demikian, otoritas moral dan kebebasan individual sebenarnya bukanlah dua hal yang saling berkontradiksi. Seseorang, yang pada hakekatnya adalah juga mahluk sosial, hanya bisa mendapatkan kebebasannya melalui masyarakat, melalui keanggotaannya dalam masyarakat, melalui perlindungan masyarakat, melalui pengambilan keuntungan dari masyarakatnya, yang berarti juga mengimplikasikan subordinasi dirinya oleh otoritas moral.
Menurut Durkheim, tidak ada masyarakat yang bisa hidup tanpa aturan yang tetap, sehingga peraturan moral adalah syarat bagi adanya suatu kehidupan sosial. Di dalam hal ini, disiplin atau penguasaan gerak hati, merupakan komponen yang penting di dalam semua peraturan moral. Bagaimanakah dengan sisi egoistis manusia yang tidak bisa dilepaskan dari diri manusia yang diakui oleh Durkheim sendiri? Setiap manusia memang memulai kehidupannya dengan dikuasai oleh kebutuhan akan rasa yang memiliki kecenderungan egoistis. Tetapi egoisme yang menjadi permasalahan kebanyakan adalah bukan egoisme jenis ini, melainkan adalah keinginan-keinginan egoistis yang merupakan produk sosial, yang dihasilkan oleh masyarakat. Individualisme masyarakat modern, sebagai hasil perkembangan sosial, pada tingkat tertentu merangsang keinginan-keinginan egoistis tertentu dan juga merangsang anomi. Hal ini dapat diselesaikan dengan konsolidasi moral dari pembagian kerja, melalui bentuk otoritas moral yang sesuai dengan individualisme itu sendiri, yaitu moralitas individual. Dari sini dapat dikatakan bahwa moralitas individual yang rasional itu dapat dijadikan sebagai otoritas pengganti agama pada masyarakat modern.
Berbicara tentang persoalan Islam dikaitkan dengan tradisi, terdapat dua hal penting yaitu Islam dan agama Persoalan yang pertama, Islam, berkenaan dengan betapa sulitnya membuat garis pemisah yang jelas antara mana wilayah yang Islami dan yang tidak. Banyak orang yang masih takut membuat penjelasan atau jawaban ketika ditanya tentang Islam, apalagi jika jawaban itu berbeda dan kontradiktif dari persepsi yang selama ini telah terbangun. Padahal, menurut Adams, mustahil menjelaskan dan menemukan pemahaman esensi Islam yang dapat mencapai kesepakatan universal.

Dalam konteks ini, maka selain Islam harus dipahami–dalam perspektif sejarah–sebagai sesuatu yang selalu berubah (change) dan berkembang (evolve), generasi Muslim harus mampu pula merespon kenyataan dunia (vision of reality) dan makna kehidupan manusia
(meaning of human life). Dengan demikian Islam bukanlah sesuatu yang satu. Islam tidak hanya sistem kepercayaan dan ibadah, tetapi multisistem dalam historisitas yang selalu berubah dan berkembang Charles J. Adams mengatakan:
Thus Islam cannot be one thing but rather is many systems, not a system of beliefs and practices, etc., but many systems(or non systems) in a never ceasing flux of development and changing relations to evolving historical situations
Sedangkan, menyangkut persoalan kedua, agama, Adams–mengutip dari W.C. Smith–mengungkapkan bahwa terdapat persoalan yang sangat rumit ketika ada yang memahami agama (Islam) sebagai tradisi (tradition) dan sebagai kepercayaan (faith) an sich. Agar lebih sederhana, penulis mengilustrasikan dalam tabel berikut:

| Tradition | Faith |
| External | Internal |
| Observe social | Ineffable (tak terkatakan

Historical aspect | Transendentally oriented
of religiousness
| | Private dimension of religious life
Dua pemahaman yang berbeda di atas, sama-sama berdiri kokoh. Di satu sisi, aliran tradisi menghendaki pendekataan agama dilakukan dalam frame yang bersifat eksternalistik, sosial, dan historis, pada sisi yang lain, aliran faith menghendaki agar agama dimaknai dari sisi yang berkarakter internalistik, innefable, transenden, dan berdimensi privat.
Agar dapat mencerna dan memahami dua model pemahaman agama yang saling bertolak belakang tersebut, Adams terdorong melakukan penelitian dalam konteks studi Islam. Bagaimanapun juga, menurutnya, agama memiliki dua sisi yang tak terpisahkan, pengalaman batiniah (inward experience) dan sikap keberagamaan lahiriah (outward behavior). Begitu juga, para mahasiswa Islamic studies harus mampu mencurahkan segala kemampuannya dalam mengeksplorasi keduanya
Selain itu, persoalan agama yang tersisa, adalah terlalu banyaknya definisi tentang agama. Kendati seseorang dapat menemukan pemahaman terhadap agama–dalam pengertian umum–yang dapat memuaskannya, tetapi masih terdapat pertanyaan yang harus dijawab, misalnya, dalam konteks agama apa seseorang dapat menemukan pemahaman yang utuh terhadap agama, Islamkah atau yang lain? Atau taruhlah keberagamaan seseorang dapat dilihat dari keyakinan terhadap doktrin agama, pelaksanaan ibadah, moral yang baik, partisipasinya dalam kehidupan sosial, pertanyaan kemudian adalah apakah beberapa hal itu mencukupi untuk memahami agama? Bukankah masih ada hal lain di balik itu semua, seperti pengalaman keagamaan yang bersifat individual dan gnostic yang tidak dapat terukur.

BAB III
KESIMPULAN
Suatu hal yang perlu dicatat, bahwa suatu hasil penelitian bidang sosiologi agama bisa saja berbeda dengan agama yang terdapat dalam doktrin kitab suci. Sosiologi agama bukan mengkaji benar atau salahnya suatu ajaran agama, tetapi yang dikaji adalah bagaimana agama tersebut dihayati dan diamalkan oleh pemeluknya. Dalam kaitan ini, dapat terjadi apa yang ada dalam doktrin kitab suci berbeda dengan apa yang ada dalam kenyataan empirik. Para sosiolog membuat kesimpulan tentang agama dari apa yang terdapat dalam masyarakat. Jika suatu pemeluk agama terbelakang dalam bidang ilmu pengetahuan, ekonomi, kesehatan, kebersihan, dan lain sebagainya, kaum sosiolog terkadang menyimpulkn bahwa agama dimaksud merupakan agama untuk orang-orang yang terbelakang. Kesimpulan ini mungkin akan mengagetkan kaum tekstual yang melihat agama sebagaimana yang terdapat dalam kitab suci yang memang diakui ideal.

DAFTAR PUSTAKA
1. Nata, Abuddin, Metodologi Studi Islam (Jakarta, PT Raja Grafindo Persada, 1998)
2. Anthony Giddens, Kapitalisme dan teori sosial modern: suatu analisis karya-tulis Marx, Durkheim dan Max Weber, diterjemahkan oleh Soeheba Kramadibrata, Jakarta: UI-Press, 1986.
3. Adams, Charles J., “Islamic Religious Tradition” dalam Leonard Binder (Ed.) The Study of The Middle East: Research and Scholarship in the Humanities and the Social Science, Canada: John Wiley and Sonc, Inc, 1976.
4. Bagus, Lorens, Kamus Filsafat, Jakarta: Gramedia, 2000.
5. Mudzhar, M. Atho’, Pendekatan Studi Islam dalam Teori dan Praktek, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004.
6. ________, “Pendekatan Sosiologi dalam Studi Hukum Islam” dalam Amin Abdullah dkkk., Mencari Islam: Studi Islam dengan Berbagai Pendekatan, Yogyakarta: Tiara Wacana, 2000.
7. Mukti Ali, “Penelitian Agama di Indonesia” dalam Mulyanto Sumardi, Penelitian Agama: Masalah dan Pemikiran, Jakarta: Sinar Harapan, 1982.

Hukum Wanita Menjadi Pemimpin

30 Aug 2009 Uncategorized

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Kontroversi seputar boleh tidaknya seorang perempuan menjadi presiden seakan tak ada habisnya. Tapi sekarang fokusnya tidak seperti beberapa waktu menjelang pemilu dan beberapa saat sebelum Sidang Umum MPR tahun 1999 lalu yang diwarnai oleh penolakan keras khususnya dari kalangan parpol-parpol Islam tentang kemungkinan wanita menjadi presiden. Kini parpol-parpol Islam itu telah merevisi pendapatnya. Melalui berbagai rekayasa konstruktif, mereka mencoba mengesahkan kepemimpinan wanita dalam konteks negara.
Presiden Partai Keadilan, M. Hidayat Nurwahid pun mengatakan, Sejak dulu sesungguhnya umat Islam menerima presiden wanita asal sesama muslim. . Bahkan menurut tokoh PDI-P Soetardjo Soerjoguritno, Amien Rais, Hamzah Haz dan bahkan Ahmad Soemargono yang sebelumnya dikenal gigih menentang kepemimpinan Megawati, telah bersumpah mendukung Megawati sebagai presiden Indonesia sampai 2004. Sikap ini didukung oleh Nurcholish Madjid dengan mengatakan bahwa sebagian besar ulama tidak mempersoalkan naiknya wanita sebagai presiden/kepala negara. Hanya sebagian kecil dari mereka yang melarang wanita menjadi presiden. Sementara itu, KH Salahuddin Wahid, dalam sebuah dialog yang diselenggarakan di Mesjid Universitas Indonesia, pada 13/7/2001, menyatakan, hendaknya umat Islam Indonesia bisa menerima kehadiran Megawati sebagai kepala negara. Sebab, penolakan Islam terhadap kepemimpinan perempuan bukanlah harga mati.
Rekayasa konstruktif untuk mengegolkan ide keabsahan kepemimpinan perempuan dalam entitas negara ini juga terlihat dalam seminar sehari yang diselenggarakan di komisi VII DPR pada tanggal 4/7/2001.
Seminar yang menghadirkan Nazaruddin Umar dan KH. Husein Mohamad itu bertujuan memberikan legitimasi syari’ah terhadap keabsahan kepemimpinan wanita dalam konteks negara. Meskipun demikian, seminar itu lebih tepat disebut sebagai rekayasa untuk mencairkan hambatan-hambatan teologis yang kerap kali berujung pada pemerkosaan nash-nash agama dengan kepentingan-kepentingan politik.
1.2 Permasalahan
Terlepas dari fakta-fakta konkrit di atas, benarkah Islam, sebagaimana yang kini dikatakan oleh parpol-parpol Islam dan para intelektual muslim, tidak lagi mempersoalkan apakah wanita boleh atau tidak menjadi presiden?
Didalam makalah ini akan di paparkan tentang hal tersebut berdasarkan Al-Qur’an dan Hadist yang Shahih serta beberapa pendapat para ulama.

II. PEMBAHASAN
PEMIMPIN WANITA

1. Hak dan Kewajiban Yang Diberikan Islam Kepada Lelaki dan Perempuan
Sebelum membahas permasalahan kepemimpinan wanita dalam Islam, dalam konteks kepemimpinan negara, terlebih dahulu akan dibicarakan pembahasan yang lebih mendasar dan karenanya sangat penting, yakni sejauh mana Islam memberikan berbagai hak dan kewajiban kepada laki-laki dan perempuan.
Dengan melakukan kajian komprehensif (istiqra`) terhadap nash-nash syara’ yang berhubungan hak dan kewajiban yang diberikan Islam kepada laki-laki dan perempuan, akan didapatkan kesimpulan berikut. Bahwa Islam telah memberikan hak kepada perempuan seperti yang diberikan Islam kepada laki-laki, demikian pula Islam telah memikulkan kewajiban kepada perempuan seperti yang dipikulkan Islam kepada laki-laki, kecuali hak atau kewajiban yang dikhususkan Islam untuk perempuan, atau yang dikhususkan Islam untuk laki-laki, berdasarkan dalil-dalil syara’.
Kesimpulan ini bila dirinci mengandung 3 (tiga) butir pemikiran : Pertama, bahwa Islam pada dasarnya memberikan hak dan kewajiban yang sama kepada laki-laki dan perempuan.
Kedua, bahwa terdapat pengkhususan hak atau kewajiban kepada perempuan saja, atau laki-laki saja. Ketiga, pengkhususan ini harus berdasarkan nash-nash syariat dari Al Qur`an dan As Sunnah.
Kesimpulan ini didasarkan pada fakta dari nash-nash syara dalam Al Qur`an dan Al Hadits, bahwa Allah SWT telah berbicara kepada para hamba-Nya dalam kedudukannya sebagai manusia, tanpa melihat apakah dia laki-laki atau perempuan. Misalnya firman Allah SWT :
  •     • …………..
“Katakanlah,: Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kamu semua.” (QS Al –A’raaf : 158)
 ••   …………..
“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu.” (QS An- Nisaa` : 1)
Nash-nash seperti ini berbicara kepada manusia secara umum tanpa melihat apakah dia laki-laki atau perempuan. Karena itulah, Syariat Islam datang kepada manusia, bukan datang kepada laki-laki dalam sifatnya sebagai laki-laki atau kepada perempuan dalam sifatnya sebagai perempuan. Jadi taklif-taklif syar’i dalam Syariat Islam tiada lain hanyalah dibebankan kepada manusia. Begitu pula berbagai hak dan kewajiban yang terdapat dalam Syariat Islam tiada lain adalah hak bagi manusia dan kewajiban atas manusia.
Keumuman dalam khithab Asy Syar’i (seruan/pembicaraan Allah) ini tetap dalam keumumannya dalam Syariat Islam secara keseluruhan, demikian pula hukum-hukum yang terkandung dalam Syariat Islam tetap dalam keumumannya, selama tidak terdapat hukum khusus untuk perempuan yang didasarkan pada nash syara’ atau hukum khusus untuk laki-laki yang didasarkan pada nash syara’ Kaidah Ushul Fiqih menetapkan :
“Lafazh umum tetap dalam keumumannya selama tidak ada dalil yang mengkhususkannya.” Jadi jika terdapat nash syara’ yang mengkhususkan keumuman ini, maka pada saat itulah perempuan dikhususkan dengan hukum khusus untuknya sebagaimana yang telah dijelaskan oleh nash syara’ demikian pula pada saat itulah laki-laki dikhususkan dengan hukum khusus untuknya seperti yang telah dijelaskan oleh nash syara’.Namun hukum-hukum lain yang tidak dikhususkan tetaplah dalam keumumannya, tanpa mempertimbangkan lagi apakah yang dibebani hukum itu laki-laki atau perempuan. Kaidah Ushul Fiqih menetapkan :
“Lafazh umum yang telah dikhususkan tetap berlaku sebagai hujjah (dalil) bagi hukum-hukum sisanya (yang tidak dikhususkan).”
Dengan demikian, pengkhususan (takhshish) hukum untuk laki-laki atau perempuan dengan hukum-hukum tertentu merupakan perkecualian dari prinsip umum Syariat Islam. Jadi Syariat Islam tetap dalam keumumannya dan pengecualian (istitsna`) dari keumumannya ini harus berhenti pada batas yang ada dalam nash syara’, tidak boleh melampauinya. Hukum-hukum yang dikhususkan untuk perempuan, bukan untuk laki-laki, misalnya keharusan meninggalkan sholat dan berbuka pada puasa Ramadhan jika perempuan sedang haid. Contoh lainnya, kesaksian satu orang wanita adalah cukup dan dapat berlaku untuk perkara-perkara yang pada umumnya tidak dapat diketahui kecuali oleh perempuan, misalnya perkara keperawanan. Hukum-hukum ini adalah khusus untuk perempuan karena terdapat nash-nash syara’ yang mengkhususkan hukum ini untuk perempuan, bukan laki-laki. Selain itu ada pula hukum-hukum yang dikhususkan untuk laki-laki, misalnya kekuasaan atau pemerintahan, yakni maksudnya tidak dibenarkan duduk dalam kekuasaan kecuali laki-laki. Ini adalah hukum khusus untuk laki-laki karena terdapat nash syara’ yang mengkhususkan hukum ini untuk laki-laki, bukan perempuan.
Namun demikian, pengkhususan yang ada haruslah hanya pada perkara yang dijelaskan oleh nash syara’, tidak boleh melampaui batas yang telah digariskan nash syara’ da;am Al Qur`an dan As Sunnah. Misalnya, masalah pengkhususan kekuasaan bagi laki-laki saja, hanya berlaku untuk konteks kekuasaan. Jadi yang tidak dibolehkan bagi perempuan hanya menjadi pemimpin dalam konteks kekuasaaan, tidak mencakup yang lain-lain di luar kekuasaan seperti peradilan (qadha`) dan kepemimpinan aspek lainnya yang bukan pemerintahan.
Berdasarkan ini, maka sebenarnya dalam Islam tidak ada yang dinamakan hak-hak perempuan atau hak-hak laki-laki. Begitu pula dalam Islam tidak ada apa yang dinamakan kewajiban perempuan dan kewajiban laki-laki. Yang ada dalam Islam tiada lain adalah hak-hak dan kewajiban-kewajiban manusia dalam kedudukannya sebagai manusia, tidak melihat lagi apakah dia laki-laki atau perempuan. Syariat Islam datang untuk manusia pada tiap-tiap hukumnya, kemudian sebagian daripadanya dikhususkan untuk perempuan dalam kedudukanya sebagai perempuan dengan nash khusus, sebagaimana sebagiannya dikhususkan untuk laki-laki dalam kedudukannya sebagai laki-laki dengan nash khusus.
Maka dari itu, berdasarkan keumuman Syariat Islam dan keumuman tiap-tiap hukum dalam Syariat Islam, maka perempuan berhak beraktivitas dalam aspek perdagangan, pertanian, dan perindustrian sebagaimanaآ laki-laki, sebab Syariat Islam telah datang dalam seruan yang bersifat umum untuk manusia, baik laki-laki maupun perempuan. Perempuan berhak pula menjalankan seluruh tasharrufat qauliyah, yakni melaksanakan berbagai akad-akad dan muamalah sebab Syariat Islam datang untuk manusia, baik laki-laki maupun perempuan.
Perempuan berhak pula memiliki satu sebab di antara sebab-sebab kepemilikan harta dan berhak pula untuk mengembangkan hartanya dengan cara syara’ apa pun baik dia kerjakan sendiri maupun dikerjakan orang lain, sebab Syariat Islam datang untuk manusia, baik laki-laki maupun perempuan. Demikian pula perempuan berhak pula melakukan kegiatan pendidikan, berjihad, melakukan kegiatan politik seperti bergabung dengan sebuah partai politik, serta melakukan segala aktivitas dalam segala aspek kehidupan sebagaimana laki-laki, sebab Syariat adalah untuk manusia, baik laki-laki maupun perempuan.
2. Kepemimpinan Wanita Sebagai Kepala Negara
Dalam pembahasan ini ada 2 (dua) hal yang harus diperhatikan agar tidak terjadi kerancuan atau kesalahpahaman. Pertama, masalah individu perempuan dalam perannya sebagai pemimpin pemerintahan. Kedua, masalah sistem pemerintahan.
Kedua hal itu harus dipahami sebagai satu kesatuan, bukan terpisah, sehingga jika dikatakan bahwa perempuan tidak dibenarkan menjadi presiden, bukan otomatis dipahami bahwa kalau laki-laki dibolehkan. Dalam sistem pemerintahan sekuler sekarang ini, baik laki-laki maupun perempuan, adalah tidak dibenarkan menjadi presiden, sebab sistem pemerintahan dalam Islam adalah Khilafah, bukan republik, kerajaan, atau sistem pemerintahan sekuler lainnya.
a. Sistem Pemerintahan Islam adalah Khilafah, bukan Republik
Sistem kenegaraan dalam Islam adalah Khilafah Islamiyyah, bukan sistem republik, kerajaan, federasi, ataupun kekaisaran. Rasulullah saw bersabda:
بني إسرائيل في الماضي وأدت دائما به الأنبياء. في كل مرة وفاة النبي ، وبعبارة أخرى الأنبياء. في الواقع ، ليس هناك نبي بعدي. لكن سيكون هناك الكثير من الخلفاء في وقت لاح
“Dahulu Bani Israil selalu dipimpin dan diperlihara urusannya oleh para Nabi. Setiap kali seorang nabi meninggal, digantikan oleh nabi yang lain. Sesungguhnya tidak ada nabi setelah aku. (Tetapi) nanti akan ada banyak khalifah” (HR. Imam Muslim dari Abi Hazim).
Ijma Shahabat juga menunjukkan dengan jelas, bahwa sistem kenegaraan dalam Islam adalah sistem Khilafah Islamiyyah. Sistem kenegaraan lain, selain sistem Khilafah Islamiyyah, bukanlah sistem pemerintahan Islam. Haram bagi kaum muslim untuk mengadopsi ataupun terlibat dalam sistem-sistem kufur tersebut. Semisal menjadi presiden, kaisar, ataupun raja.
Ini saja sebenarnya sudah cukup untuk menggugurkan pendapat bolehnya wanita menjadi presiden. Bahkan bukan hanya wanita saja, laki-laki pun haram menjadi presiden, raja, ataupun kaisar. Sebab, sistem-sistem tersebut, bukanlah sistem kenegaraan yang dicontohkan Rasulullah saw. Sistem tersebut merupakan sistem kenegaraan kufur yang secara diametral bertentangan dengan Islam. Perkara ini adalah perkara qath’iy (pasti); terang-benderang, seterang matahari di tengah hari!. Perdebatan yang berlarut-larut tentang absah atau tidaknya Megawati memegang tampuk kepresidenan, sebenarnya merupakan perdebatan tak bermutu; disamping akan melupakan persoalan dasarnya; yakni sah atau tidaknya-menurut Islam sistem kenegaraan yang melingkupinya. Selama sistem yang diterapkan adalah sistem republik, keterlibatan kaum muslimin dalam sistem ini -dalam hal kekuasaan, dan penetapan policy-adalah haram. Walhasil, jangankan Megawati, Gus Dur yang konon kyai haji pun haram menjadi presiden.

b. Islam Mengharamkan Kepemimpinan Perempuan Dalam Negara
Seluruh ulama sepakat bahwa wanita haram menduduki jabatan kekhilafahan. Jadi masalah haramnya perempuan menjadi pemimpin negara bukanlah masalah khilafiyah. Imam Al-Qurthubiy, menyatakan dalam tafsirnya Al-Jaami’ li Ahkam Al-Quran, Juz I. hal. 270, menyatakan bahwa :
Khalifah haruslah seorang laki-laki dan mereka (para fuqaha) telah bersepakat bahwa wanita tidak boleh menjadi imam (khalifah). Namun mereka berselisih tentang bolehnya wanita menjadi qadhi berdasarkan diterimanya kesaksian wanita dalam pengadilan.
Argumentasi paling gamblang dan sharih tentang haramnya wanita menduduki tampuk kekuasaan adalah, sabda Rasulullah saw:
سيكون هناك شخص محظوظ يقدم إلى القيادة للمرأة
“Tidak akan beruntung suatu kaum yang menyerahkan kepemimpinan mereka kepada wanita”. (HR Bukhari, Ahmad, Tirmidzi, dan an-Nasa’i dari Abu Bakrah ra)
Hadits ini dari segi riwayah tidak seorangpun pakar hadits yang mempersoalkan kesahihannya. Sedangkan dari segi dirayah (pemahaman makna); dalalah hadits ini menunjukkan dengan pasti haramnya wanita memegang tampuk kekuasaan negara. Meski dalam bentuk ikhbar -dilihat dari sighatnya- hadits ini tidak otomatis menunjukkan hukum mubah. Sebab, parameter yang digunakan untuk menyimpulkan apakah sebuah khithab berhukum wajib, sunnah, mubah, makruh, ataupun haram adalah qarinahnya (indikasi), bukan sighatnya (bentuk kalimatnya).
Latar belakang turunnya hadits ini memang ditujukan kepada masyarakat Persia yang menyerahkan urusan kekuasaan kepada seorang wanita. Akan tetapi, walaupun hadits ini merupakan komentar atas suatu kejadian pengangkatan wanita menjadi raja, namun kata “qaumun” (isim jins dalam bentuk nakirah) ini memberikan makna umum (’aam). Artinya kata qaum di atas berlaku untuk semua kaum, termasuk kaum muslim di dalamnya. Dalam redaksi hadits itu, Rasul tidak melafadzkan dengan kata, lan yufliha qaum al-faaris (tidak beruntung masyarakat Persia), akan tetapi menggunakan kata-kata umum, yakni “qaumun”. Selain itu, tidak ada satupun riwayat yang mentakhsish hadits ini. Dengan demikian berlaku kaidah, Al-’aam yabqa fi ‘umuumihi ma lam yarid dalil at-takhsish” (Lafadz umum tetap dalam keumumannya selama tidak ada dalil yang mengkhususkannya). Sedangkan latar belakang (sababul wurud) turunnya hadits ini tidak pula bisa digunakan dalil untuk mentakhshishnya (mengkhususkannya). Sebab, lafadz hadits ini dalam bentuk umum. Sedangkan latar belakang kejadian bukanlah dalil syara’. Karena latar belakang bukanlah hadits Nabi. Oleh karena itu latar belakang sabda Nabi di atas tidak ada kaitannya sama sekali dengan penetapan hukum. Oleh karena itu latar belakang atau suatu sebab dari suatu dalil tidak dapat mentakhsis dalil. Maka berlaku kaidah bahasa yang masyhur dalam ilmu usul fiqh, “Al-’Ibrah bi ‘umum al-lafzhi la bi khususi as-sabab,” (pengertian diambil dari umumnya lafadz bukan khususnya sebab).
Adapun hukum yang terkandung di dalamnya pembahasannya sebagai berikut. Meski, hadits ini dalam bentuk ikhbar (kalimat berita), namun di dalam lafadz hadits itu ada qarinah yang menunjukkan keharamannya secara pasti.. Pertama, harf lan (harf nahy li al-mustaqbal au li al-ta’bid), huruf larangan untuk masa mendatang jadi maksudnya adalah tidak akan pernah, dan untuk selamanya. Kedua, huruf lan ini dihubungkan dengan yufliha (beruntung), lafadz ini menunjukkan adanya dzam (celaan) dari Rasulullah SAW.
3. Menjawab Beberapa Keraguan
1. Memang ada sementara kalangan, misalnya Fatima Mernissi seorang feminis muslim, yang meragukan keabsahan hadits tersebut.
Kendati shahih, mereka meragukan kredibilitas perawi hadits ini, yakni shahabat Abu Bakrah, sebagai orang yang kesaksiannya diragukan lantaran didakwa pernah melakukan tuduhan palsu dalam kasus perzinahan di masa khalifah Umar bin Khattab. Tuduhan ini ternyata tidak terbukti. Kitab Tahdzibu al-Kamal fi Asma`i al-Rijal, juga Thabaqat Ibnu Saad dengan tegas menyebut bahwa shahabat Abu Bakrah adalah shahabat yang alim dan perawi yang terpercaya (tsiqah).
2. Kemudian ada lagi yang mengatakan bahwa kepemimpinan laki-laki atas wanita secara mutlak hanya ada dalam konteks rumah tangga.
Memang ayat 34 dari surah Annisa, menyebutkan bahwa para lelaki menjadi pemimpin atas perempuan. Bila ayat ini dimaksudkan sebagai petunjuk tentang kepemimpinan laki-laki atas perempuan dalam rumah tangga, maka dengan mafhum muwafaqah, dalam urusan yang lebih besar, yakni urusan negara, lelaki tentu lebih wajib lagi menjadi pemimpin.
                      
34. kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. sebab itu Maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka).
Imam Az Zamakhsyari dalam tafsir Al Kasysyaf menyebutkan mengenai tafsir surat An Nisaa ayat 34 tersebut, “yaquumuuna alaihinna aamiriina naahiina kamaa yaqumu al wulaatu ‘ala ar ra’aaya .” (Kaum laki-laki berfungsi terhadap isteri-isteri mereka sebagai yang memerintah dan melarang, seperti halnya pemimpin (wali) berfungsi seperti itu terhadap rakyatnya.).

3. Dikatakan bahwa Imam Ibnu Jarir al-Thabari dan sebagian ulama Malikiyah (pengikut madzhab Imam Malik bin Anas) seperti dilansir oleh Ibnu Hajar al-Asqalani disebut-sebut membolehkan seorang perempuan menjadi kepala negara.
Sebenarnya tidak, karena yang dimaksud dalam kitab tersebut bukan kebolehan perempuan menjadi kepala negara tapi menjadi qadhi (hakim). Jelas berbeda antara qadhi dan kepala negara.
4. Argumen bahwa wanita dalam Islam bisa saja menjadi kepala negara sebagaimana ditunjukkan pada kisah Syajaratuddur dan ratu Bilqis tidak bisa diterima.
Memang ratu Syajaratuddur, seorang perempuan dari dinasti Mamalik pernah berkuasa di Mesir. Tapi kenyataan sejarah ini tidak bisa dijadikan landasan argumentasi bolehnya seorang perempuan menjadi presiden, karena landasan syarâ’ adalah Al-Qur’an, Al-Hadits, Ijma’ Shahabat dan Qiyas. Lagi pula Syajaratuddur mendapatkan kekuasaan secara kebetulan. Ia kebetulan adalah istri dari penguasa Mesir, Malikus Shalih, yang tunduk kepada khalifah al-Mustansir Billah dari Bani Abbasiyah yang berpusat di Baghdad. Setelah Malikus Shalih wafat, kekuasaannya diserahkan kepada istrinya Syajaratuddur. Mendengar hal ini, khalifah al-Mustansir Billah segera mengirim surat mempersoalkan keadaan di Mesir, apakah tidak ada laki-laki yang bisa menjadi pemimpin. Bila tidak ada, khalifah akan segera mengirim seorang laki-laki untuk menggantikan Malikush Shalih memimpin Mesir. Akhirnya, setelah berkuasa selama tiga bulan, Syajaratuddur digantikan oleh Emir Izzudin yang kemudian menikahinya.
Demikian juga tentang kisah ratu Bilqis. Kisah yang diabadikan dalam al-Qur’an tidak bisa dijadikan sebagai landasan syary’. Lagi pula, dalam kisah itu, ratu Bilqis akhirnya juga melepaskan kekuasaanya setelah ditundukkan oleh Nabi Sulaiman dalam tempo sesingkat-singkatnya. Bahkan akhirnya menjadi istri nabi yang telah menaklukkannya itu.
Lagipula, kisah umat sebelum Islam dalam ushul fiqih termasuk dalam syara’u Man Qablana (Syariat Umat Sebelum Kita) yang sebenarnya tidak merupakan syariat bagi kita (umat Islam).Sebab syariat Islam telah menasakh syariat-syariat sebelum Islam, sesuai firman Allah SWT dalam QS Al Maaidah : 48 yaitu,
          •                           •                    
48. dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, Yaitu Kitab-Kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap Kitab-Kitab yang lain itu; Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. untuk tiap-tiap umat diantara kamu Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, Maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu”
Dalam hal ini para ulama Asy’ariyah, Imam Ahmad (dalam satu riwayat), Ibnu Hazm, sebagian ulama Ahnaf, dan mayoritas mujtahid madzhab Asy Syafi’i (seperti Al Ghazali, Al Amidi, Ar Razi) berpendapat bahwa syariat umat sebelum kita, bukanlah syariat bagi kita.
5. Haramnya kepemimpinan wanita dalam negara juga tidak ada kaitannya dengan pelanggaran HAM, dan demokrasi. Haramnya kepemimpinan wanita merupakan bagian dari aturan Islam. Memang benar, dengan menggunakan sudut pandang HAM dan demokrasi yang kufur, pelarangan wanita dalam kekuasaan negara bisa dianggap pelanggaran. Sebab, aturan HAM dan demokrasi memang menetapkan ketentuan semacam itu. Namun, seorang mukmin sejati, hanya mengambil ketetapan dari Al-Quran dan Sunnah, walaupun bertentangan dengan HAM dan demokrasi. Bukan sebaliknya, yaitu mengambil HAM dan demokrasi walaupun bertentangan dengan Al-Quran dan Sunnah. Cukuplah Al-Quran dan As Sunnah sebagai dalil bagi kaum muslim dan dia tidak akan berfikir untuk memilih yang lain. Tentu bagi seorang muslim yang bertakwa, keridha’an Allah segala-galanya bagi dia. Sikap yang semacam inilah yang seharusnya dimiliki oleh muslim yang bertakwa. Sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam surah al-Ahzab ayat 36.
         •             •   
36. dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. dan Barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya Maka sungguhlah Dia telah sesat, sesat yang nyata.
Maka memilih HAM dan demokrasi dan mencampakkan Al-Quran dan As Sunnah, merupakan bentuk kesesatan yang nyata! Bahkan, Allah swt menjelaskan pula kebatilan serangan kafir kaum feminis yang sok demokratis dengan firman-Nya :
 •                  …………….
“Dan janganlah kamu iri hati dengan apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain. (Karena) bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi wanita (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan……………” (QS An-Nisaa’ : 32)

III. PENUTUP

Haramnya wanita menduduki tampuk kekuasaan negara, bukanlah perkara khilafiyah. Dalil-dalil sharih telah menunjukkan hal itu. Sudah seharusnya kaum muslim kembali pada keputusan Allah SWT tanpa perasaan ragu maupun perasaan ’sempit’ dan pasrah dengan sepenuhnya pasrah.
Maka sikap membangkang terhadap keputusan Allah dan Rasul-Nya adalah merupakan tindak kemaksiyatan yang paling besar. Apalagi, kalau sikap tersebut diikuti dengan tindakan pemerkosaan dan pemaksaan terhadap nash-nash qath’iy agar sejalan dengan kepentingan politik dan hawa nafsu manusia. Sungguh, hanya kembali kepada syari’at Allah dengan menegakkan negara Khilafah Islamiyyah-lah, kaum muslim akan selamat serta seluruh problem kaum muslimin dapat dipecahkan dengan sahih.

DAFTAR PUSTAKA

Hartono A. Jaiz, 1997.” Polemik Presiden Wanita”, Gema Insani
Indra, , 1998. Megawati Soekarnoputri: “Saya siap jadi presiden” Media Pressindo
M. Koderi, “Bolehkah wanita menjadi imam negara Gema Insani, 1999
Muhammad Thalib,2001 “17 Alasan Membenarkan Wanita Menjadi Pemimpin dan
Analisisnya.” At-Tibyan
Theo Huijbers, 1993.”Filsafat hukum dalam lintasan sejarah” Kanisius

Hukum Puasa Di Daerah Abnormal

30 Aug 2009 Uncategorized

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah
Kini orang sering menyebut tentang globalisasi. Dengan globalisasi, batasan negara semakin memudar dalam konteks aktivitas manusia dalam berbagai bidang. Penentuan waktu ibadah yang hakikatnya bersifat lokal, kini pun dituntut mengikuti globalisasi, dengan muatan yang berat, “unifikasi” (penyatuan, penyeragaman)..
Globalisasi informasi bisa berdampak negatif dalam konteks ukhuwah Islamiyah. Informasi tentang penentuan awal puasa di berbagai negeri, yang mungkin berbeda-beda, dengan cepat menyebar ke seluruh dunia. Masyarakat kadang-kadang menjadi bingung bila menyerap semua informasi itu. Perlu adanya penjelasan yang menjernihkan masalah perbedaan itu. Memang, ada penyebab perbedaan yang sulit dijelaskan. Tetapi, tinjauan astronomis tentang penentuan awal Ramadan dan hari raya bisa membantu juga menjelaskan terjadinya perbedaan itu.
Penampakan hilal, yang menjadi dasar penentuan awal Ramadan dan hari raya, memang tidak seragam di seluruh dunia. Bulan memang satu, tetapi kombinasi posisi bulan, bumi, dan matahari menyebabkan penampakannya tidak mungkin seragam. Dengan hisab global dapat dilihat wilayah mana saja yang kemungkinan akan lebih awal melihat hilal. Ini berarti wilayah itu pula yang akan lebih awal berpuasa dan berhari raya.
Hisab global melahirkan konsep garis tanggal qamariyah (berdasarkan posisi bulan). Dengan garis tanggal itu akan terlihat bahwa daerah di sebelah barat garis itu akan lebih awal melihat hilal daripada yang di sebelah timurnya. Karenanya, seperti juga diserukan dalam Resolusi Penang tentang kalender Islam internasional 1988, secara umum suatu negara tidak boleh mengacu hasil pengamatan hilal pada Negara negara di sebelah baratnya. Misalnya, Indonesia tidak boleh mengacu kepada Arab Saudi.
Garis tanggal qamariyah sifatnya tidak tetap seperti garis tanggal internasional (pada bujur 180o), tetapi berubah sesuai dengan perubahan posisi bulan dan matahari. Garis tanggal yang sederhana dibuat dengan menghitung pada daerah mana saja matahari dan bulan terbenam bersamaan. Ini merupakan syarat minimal ru’yatul hilal, yaitu bulan sudah wujud di ufuk barat. Di sebelah timur garis itu hilal tidak mungkin teramati karena telah berada di bawah ufuk ketika matahari terbenam. Makin ke arah barat kemungkinan ru’yatul hilal semakin besar.
Hasil hisab global (lihat gambar) menunjukkan bahwa garis tanggal awal Ramadan 1418 melintasi Amerika Selatan, Afrika Tengah, Jazirah Arab, Asia Tengah, dan Jepang. Itu berarti Eropa dan Amerika Utara kemungkinan akan mengawali Ramadan pada 30 Desember 1997. Sedangkan Australia, Indonesia, Asia Tenggara, dan negara-negara Arab akan mengawali Ramadan pada 31 Desember 1997.Garis tanggal awal Syawal 1418 melintasi Lautan Hindia, Irian, dan lautan pasifik. Berdasarkan kriteria bulan di atas ufuk, sebenarnya hampir seluruh dunia akan beridul fitri pada 29 Januari 1998. Hanya Australia yang beridul fitri 30 Januari. Tetapi bila menggunakan kriteria rukyat, Indonesia yang terletak dekat sisi barat garis tanggal kemungkinan besar akan beridul fitri 30 Januari 1998. Hal ini karena hilal masih sulit teramati pada 28 Januari, walaupun bulan telah wujud di atas ufuk.
Garis tanggal qamariyah pada hisab global bisa menjelaskan mengapa terjadi perbedaan awal Ramadan dan hari raya di seluruh dunia. Perbedaan itu sebenarnya semu. Karena yang kita sebut “berbeda” sebenarnya hanyalah tanggal dan hari syamsiahnya. Sedangkan tanggal qamariyahnya tetap sama, yaitu 1 Ramadan untuk awal puasa dan 1 Syawal untuk idul fitri. Dengan kata lain, kita hidup dengan dua garis tanggal. Definisi hari berdasarkan garis tanggal internasional yang disepakati melintasi garis bujur 180o di samudra Pasifik. Sedangkan definisi awal Ramadan dan hari raya berdasarkan garis tanggal qamariyah yang tidak tetap posisinya, tergantung posisi bulan dan matahari.
1.2. Permasalahan
Dalam tulisan ini akan ditekankan pada tinjauan global mengenai pelaksaan puasa didaerah abnormal siang dan malamnya serta pendapat para pakar astronomi dan kajian para ulama kontemporer untuk menetapkan kemungkinan awal Ramadan dan Idul fitri di berbagai negeri dengan melihat peta garis tanggal qamariyah 1418. Hal ini penting diketahui agar kita tidak terkejut menghadapi globalisasi informasi melalui media massa dan internet tentang adanya perbedaan penentuannya di berbagai negeri.

II. PEMBAHASAN
PELAKSANAAN PUASA DIDAERAH ABNORMAL SIANG DAN MALAM
A. Defenisi Hilal
Hilal (crescent/new moon) secara astronomis adalah bagian dari Bulan yang menampakkan cahayanya terlihat dari Bumi sesaat setelah Matahari terbenam dengan didahului terjadinya ijtima’ atau konjungsi. Bulan tidak memancarkan cahaya sendiri, bentuk hilal yang becahaya didapat dari pantulan sinar Matahari.
Ibnu Manzhur (w.690 H/1291 M) dalam Lisanul ‘Arab-nya menyebutkan beragam defenisi hilal ditinjau secara bahasa, antara lain; hilal berarti awal atau sebagian dari bulan ketika telah tampak (yuhillu) oleh manusia. Dapat pula bermakna yang terlihat pada dua atau tiga malam pertama, atau sesuatu yang telah berbentuk (yuhajjir) (baca: seperti hilal), dapat pula bermakna yang berkilau (bercahaya) dikegelapan malam.[ ]
Dikaryanya yang lain, Ibnu Manzhur menyebutkan lagi; setelah terjadinya hilal disebut ‘syahr’, syahr disebut demikian karena ia memang telah dikenal dan nyata (masyhur), karena manusia mengetahui masuk dan keluarnya syahr itu. Syahr didefenisikan pula dengan hilal, karena ketika hilal telah tampak (ahalla) maka ketika itu ia disebut syahr.[ ] Makna senada terdapat pula dibanyak literatur-literatur bahasa.
B. Bumi, Bulan & Matahari
Bumi, Bulan & Matahari adalah tiga benda angkasa ciptaan Allah Swt. yang dengannya manusia dapat beraktifitas. Dalam peredarannya, Bumi berotasi selama 23 jam 56 menit 05,09054 detik, hal ini menyebabkan terjadinya siang dan malam. Disamping berputar pada sumbunya, Bumi juga berevolusi dengan kecepatan yang tidak teratur selama 365,2425 atau 365 1/4 hari, yang mengakibatkan siklus tahunan.[ ] Dalam rotasinya pula, Bumi akan miring membentuk sudut 23,5 derajat terhadap garis bidang orbitnya mengelilingi Matahari, yang menyebabkan adanya empat tatanan musim di Bumi, yaitu musim hujan, kemarau, semi dan gugur.
Berikutnya Matahari, dalam peredarannya akan melintasi ekuator sebanyak dua kali dalam setahun, yaitu tanggal 21 Maret dan 23 September. Dimana satu tahun Matahari adalah jangka waktu yang diperlukan oleh Bumi untuk mengelilingi Matahari (revolusi), rata-rata satu tahun lamanya 365 1/4 hari.[4]
Sementara itu Bulan, merupakan benda angkasa istimewa bagi umat Islam, berbagai aktifitas ibadah dalam Islam selalu dikaitkan dengan siklus Bulan. Dalam peredarannya, Bulan berputar mengelilingi Bumi sekali dalam sebulan, yang sering disebut satu lunasi (satu siklus fase Bulan) atau satu perioda revolusi sinodik, yaitu 29 hari 12 jam 44 menit 2,9 detik atau 29.530589 hari, yang berarti masa satu tahunnya 354 hari 8 jam 48 menit 35 detik (354,3670694 hari).[ ] Bulan-bulan qamariyah terjadi melalui siklus peredaran yang dihabiskan bulan satu kali peredaran sempurna dari munculnya hilal hingga muncul hilal berikutnya atau dari satu konjungsi ke konjungsi berikutnya.[ ] Dalam penggunaan sehari-hari, angka pecahan bulan (0,530589 atau 12 j 44 m 2,9 d) tidaklah praktis, maka dibulatkan dengan berganti-ganti antara 29 hari dan 30 hari, hal ini senada dengan hadits baginda Nabi Saw. yang menyatakan; “… Bulan itu adakalanya 30 hari, adakalanya pula 29 hari”.
Disebabkan putarannya mengelilingi Bumi, Bulan senantiasa bertukar kedudukan dipandang dari arah Bumi. Oleh yang demikian, menyebabkan bentuk Bulan bertukar dalam fase-fasenya, yang diistilahkan dengan awjuh al qamar atau phases of the moon.[ ]
C. Fase-Fase Bulan
Fase-Fase Bulan (Phases of the Moon / Aujuh al-Qamar) adalah durasi yang dibutuhkan oleh Bulan berada dalam satu fase bulan baru ke fase bulan baru berikutnya. Waktu yang dibutuhkan adalah 29, 530588 hari atau 29h 12 j 44 m 2,9 d. Lama waktu antara dua konjungsi (ijtima’) dikenal dengan istilah periode sinodis (as Syahr al Qamariy), dan periode sinodis inilah yang menjadi kerangka dasar kalender hijriyah. Oleh karena itu umur bulan hijriyah bervariasi antara 29 hari dan 30 hari.[ ]
Dimaklumi, patokan utama umat Islam dalam memulai Ramadhan – Syawal & Dzulhijjah didasarkan pada visibilitas hilal sebagaimana petunjuk baginda Nabi Saw. dalam sabda-sabda-Nya. Hilal sebagai obyek utama merupakan benda angkasa langka yang tak semua orang dapat dan mampu melihatnya, diperlukan kesiapan dan kemampuan dalam melihatnya. Perubahan penampakan wajah Bulan setiap harinya, seperti yang terlihat dari Bumi, adalah sebagai akibat posisi relatif Bulan terhadap Bumi dan Matahari. Wajah Bulan nampak berbeda dari waktu ke waktu yang disebut fase-fase Bulan. Fase-fase tersebut adalah:
[1.] Crescent (al hilal), yaitu posisi (manzilah) pertama bulan ketika menuju langit utara, yang jika memungkinkan akan terlihat diufuk barat setelah Matahari terbenam. Kejelasan bentuk hilal dari satu bulan dengan bulan lain berbeda-beda, masa muncul dan terlihatnyapun berbeda-beda yaitu antara 10 s.d. 40 menit. Bentuk hilal hari-hari berikutnya akan semakin jelas dan membesar, hingga mencapai 6 hari 16 jam 11 menit hilal akan beralih pada posisi dan bentuk lain yaitu first quarter (at tarbi’ al awwal).
[2.] First Quarter (at tarbi’ al awwal), adalah bulan yang telah memasuki 1/4 peredarannya pada Matahari, yaitu mulai dari hari ke 7.
[3.] First Gibbous (al ahdab al awwal), yaitu bulan yang sudah mulai mendekati ufuk timur, dengan bentuknya yang sudah semakin membesar, yaitu telah sampai hari ke 11, dengan lengkung sabit menghadap timur.
[4.] Full Moon (al badar), yaitu bulan yang telah mencapai usia pertengahan dimana posisinya tepat berhadapan dengan Matahari, dan bentuknya telah bulat sempurna.
[5.] Second Gibbous (al ahdab as tsany), yaitu masa setelah berlalunya full moon (al badar) yang hampir seukuran dengan al ahdab al awwal namun dengan arah lengkung sabit yang berlawanan (menghadap barat).
[6.] Second Quarter (at tarbi’ as tsany), yaitu masa bulan yang telah berlalu sekitar 22 1/8 hari yang mirip at tarbi’ al awwal namun dengan arah lengkung sabit yang berkebalikan, yang terus bergerak sedikit demi sedikit menuju arah ufuk barat.
[7.] Second Crescent (al hilal as tsany), yaitu masa setelah berlalunya at tarbi’ as tsany, dimana cahayanya menutupi sebagian kecil bagian kanan yang berbentuk seperti hilal.
[8.] Wane (al mahaq), yaitu masa sampainya bulan pada peredaran sempurna, dimana Bumi dan Matahari dalam posisi sejajar, yang disebut dengan konjungsi (al iqtiran), dan nyaris tidak terlihat dari Bumi dikarenakan gelap.[9]
Konjungsi (ijtima’/iqtiran) sebagai syarat awal masuknya bulan baru adalah saat Bulan berada diantara Matahari-Bumi (fase wane/al mahaq), dimana wajah Bulan menjadi tidak nampak dari Bumi. Ijtimak merupakan pertemuan atau berimpitnya dua benda yang berjalan secara aktif. Pengertian ijtimak bila dikaitkan dengan bulan baru qamariyah adalah suatu peristiwa saat Bulan dan Matahari terletak pada posisi garis bujur yang sama, bila dilihat dari arah timur atau barat.
Namun karena sangat tipis, hilal sangat sulit dapat dilihat dari Bumi, karena bulan yang sedang berijtimak berdekatan letaknya dengan Matahari. Mengetahui saat terjadinya ijtimak sangat penting dalam penentuan awal bulan qamariyah, semua astronom (ahli hisab) sepakat bahwa peristiwa ijtimak merupakan batas penentuan secara astronomis antara bulan qamariyah yang sedang berlangsung dan bulan qamariyah berikutnya. Oleh karena itu, para ahli astronomi umumnya menyebut ijtimak atau konjungsi sebagai awal perhitungan bulan baru, yang dalam ilmu falak dikemukakan bahwa ijtimak antara Bulan dan Matahari merupakan dua bulan qamariyah.[ ]
Para ulama sejak dahulu memang berbeda pendapat tentang masalah puasa di wilayah yang siangnya lebih panjang dari malammnya atau sebaliknya. Mereka telah membuat banyak pernyataan dalam kaitan perbedaan musim dan pergantiannya dikaitkan dengan datangnya bulan Ramadhan.
Atas kehendak Allah SWT, perhitungan bulan-bulan Hijriyah tidak sama dengan sistem peredaran matahari dan sudut kemiringan bumi terhadap garis edarnya. Sehingga usia 1 tahun hijriyah dengan masehi akan selalu berbeda jumlah harinya.
Hal ini akan mengakibatkan efek rotasi dan pergiliran musim terutama bagi mereka yang tinggal di wilayah sub tropis. Sehingga datangnya bulan Ramadhan akan selalu bergantian antara musim dingin dan musim panas. Sehingga sudah wilayah tidak akan selamanya mendapati Ramadhan di musim dingin saja. Dan sebaliknya tidak selalu di musim panas saja. Selalu ada pergiliran setiap sekian tahun sekali dimana terakadang Ramadhan datang di musim dingin, tepi terkadang Ramadhan datang di musim panas.
Sebagaimana kita ketahui bahwa di wilayah sub tropis atau yang lebih utara lagi atau lebih selatan lagi, musim panas akan membuat siang hari lebih lama dari malam hari. Dan musim dingin akan membuat malam menjadi lebih panjang dari siang hari.
Hal ini memang akan berpengaruh kepada daya tahan seseorang yang melakukan ibadah puasa. Karena puasa itu dimulai dari masuk waktu shubuh hingga terbenam matahari. Majelis Majma` Al-Fiqh Al-Islami pada jalsah ketiga hari Kamis 10 Rabiul Akhir 1402 H betepatan dengan tanggal 4 Pebruari 1982 M. telah menerbitkan ketetapan tentang masalah ini.
Selain itu juga ada ketetapn dari Hai`ah Kibarul Ulama di Mekkah al-Mukarramah Saudi Arabia nomor 61 pada tanggal 12 Rabiul Akhir 1398 H. Kedua majelis ini membagi masalah ini menjadi tiga kasus yaitu :
Pertama : Wilayah yang mengalami siang selama 24 jam dalam sehari pada waktu tertentu dan sebaliknya mengalami malam selama 24 jam dalam sehari.
Dalam kondisi ini, masalah jadwal puasa dan juga shalat disesuaikan dengan jadwal puasa dan shalat wilayah yang terdekat dengannya dimana masih ada pergantian siang dan malam setiap harinya.
Kedua : wilayah yang tidak mengalami hilangnya mega merah (syafaqul ahmar) sampai datangnya waktu shubuh. Sehingga tidak bisa dibedakan antara mega merah saat maghrib dengan mega merah saat shubuh.
Dalam kondisi ini, maka yang dilakukan adalah menyesuaikan waktu shalat `isya`nya saja dengan waktu di wilayah lain yang terdekat yang masih mengalami hilannya mega merah maghrib.
Begitu juga waktu untuk imsak puasa (mulai start puasa), disesuaikan dengan wilayah yang terdekat yang masih mengalami hilangnya mega merah maghrib dan masih bisa membedakan antara dua mega itu.
Ketiga : Wilayah yang masih mengalami pergantian malam dan siang dalam satu hari, meski panjangnya siang sangat singkat sekali atau sebaliknya
Dalam kondisi ini, maka waktu puasa dan juga shalat tetap sesuai dengan aturan baku dalam syariat Islam. Puasa tetap dimulai sejak masuk waktu shubuh meski baru jam 02.00 dinihari. Dan waktu berbuka tetap pada saat matahari tenggelam meski waktu sudah menunjukkan pukul 22.00 malam.
•    •               
Artinya : “Makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam…”…(QS. Al-Baqarah : 187)
Sedangkan bila berdasarkan pengalaman berpuasa selama lebih dari 19 jam itu menimbulkan madharat, kelemahan dan membawa kepada penyakit dimana hal itudikuatkan juga dengan keterangan dokter yang amanah, maka dibolehkan untuk tidak puasa. Namun dengan kewajiban menggantinya di hari lain.
Dalam hal ini berlaku hukum orang yang tidak mampu atau orang yang sakit, dimana Allah memberikan rukhshah atau keringan kepada mereka.

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيَ أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَن كَانَ مَرِيضاً أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلاَ يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُواْ الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُواْ اللّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
Artinya : “Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda . Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan , maka , sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah : 185).

PENDAPAT LAIN :
Namun ada juga pendapat yang tidak setuju dengan apa yang telah ditetapkan oleh dua lembaga fiqih dunia itu. Diantaranya apa yang dikemukakan oleh Syeikh Dr. Mushthafa Az-Zarqo rahimahullah.
Alasannya, apabila perbedaan siang dan malam itu sangat mencolok dimana malam hanya terjadi sekitar 30 menit atau sebaliknya, dimana siang hanya terjadi hanya 15 menit misalnya, mungkinkah pendapat itu relevan ?Terbayangkah seseorang melakukan puasa di musim panas dari terbit fajar hingga terbenam matahari selama 23 jam 45 menit. Atau sebaliknya di musim dingin, dia berpuasa hanya selama 15 menit ? Karena itu pendapat yang lain mengatakan bahwa di wilayah yang mengalami pergantian siang malan yang ekstrim seperti ini, maka pendapat lain mengatakan :
a. Mengikuti Waktu HIJAZ
Jadwal puasa dan shalatnya mengikuti jadwal yang ada di hijaz (Mekkah, Madinah dan sekitarnya). Karena wilayah ini dianggap tempat terbit dan muncul Islam sejak pertama kali. Lalu diambil waktu siang yang paling lama di wilayah itu untuk dijadikan patokan mereka yang ada di qutub utara dan selatan.
Merujuk pada fatwa Majlis Fatwa Al-Azhar Al-Syarif, menentukan waktu berpuasa Ramadhan pada daerah-daerah yang tidak teratur masa siang dan malamnya, dilakukan dengan cara menyesuaikan/menyamakan waktunya dengan daerah dimana batas waktu siang dan malam setiap tahunnya tidak jauh berbeda (teratur). Sebagai contoh jika menyamakan dengan masyarakat mekkah yang berpuasa dari fajar sampai maghrib selama tiga belas jam perhari, maka mereka juga harus berpuasa selama itu.
Adapun untuk daerah yang samasekali tidak diketahui waktu fajar dan maghribnya, seperti daerah kutub (utara dan selatan), karena pergantian malam dan siang terjadi enam bulan sekali, maka waktu sahur dan berbuka juga menyesuaikan dengan daerah lain seperti diatas. Jika di Mekkah terbit fajar pada jam 04.30 dan maghrib pada jam 18.00, maka mereka juga harus memperhatikan waktu itu dalam memulai puasa atau ibadah wajib lainnya
Fatwa ini didasarkan pada Hadis Nabi SAW menanggapi pertanyaan Sahabat tentang kewajiban shalat di daerah yang satu harinya menyamai seminggu atau sebulan atau bahkan setahun. “Wahai Rasul, bagaimana dengan daerah yang satu harinya (sehari-semalam) sama dengan satu tahun, apakah cukup dengan sekali shalat saja”. Rasul menjawab “tidak… tapi perkirakanlah sebagaimana kadarnya (pada hari-hari biasa)”. [HR. Muslim] Dan demikianlah halnya kewajban -kewajiaban yang lain seperti puasa, zakat dan haji.[ ]
b. Mengikuti Waktu Negara Islam terdekat
Pendapat lain mengatakan bahwa jadwal puasa dan shalat orang-orang di kutub mengikuti waktu di wilayah negara Islam yang terdekat. Dimana di negeri ini bertahta Sultan / Khalifah muslim.
Namun kedua pendapat di atas masing-masing memiliki kelebihan dan kelemahan. Karena keduanya adalah hasil ijtihad para ulama.
c. Negeri Dekat Kutub
Indonesia terletak di daerah khatulistiwa sehingga panjang hari tidak terlalu bervariasi sepanjang tahun. Lamanya berpuasa hanya bervariasi antara 13 – 14 jam. Di Bandung, yang termasuk bagian selatan daerah tropik, perbedaan panjang hari puasa antara bulan Juni dan Desember hanya sekitar 50 menit.
Pada bulan Juni, lamanya waktu puasa di Bandung sekitar 13 jam. Sedangkan bila berpuasa pada bulan Desember lamanya puasa sekitar 13 jam 51 menit.
Untuk wilayah di lintang tinggi (dekat daerah kutub), variasi panjang hari akan sangat mencolok. Musim panas merupakan saat siang hari paling panjang dan malam paling pendek. Sebaliknya terjadi pada musim dingin. Panjang hari ini berpengaruh pada lamanya berpuasa. Puasa pada bulan Juni, seperti pada tahun 1983, merupakan puasa terpanjang bagi wilayah di belahan bumi utara, tetapi terpendek bagi wilayah di belahan bumi selatan. Sedangkan puasa pada bulan Desember – Januari, seperti terjadi tahun ini sampai 2001, merupakan puasa terpendek bagi wilayah di belahan bumi utara, tetapi terpanjang bagi wilayah di belahan bumi selatan.
Puasa pada bulan Juni atau Desember merupakan saat ekstrim yang perlu dibahas. Selain karena lamanya puasa menjadi sangat panjang atau sangat pendek, bisa terjadi pula tidak adanya tanda awal fajar atau tidak adanya tanda maghrib. Sedangkan batasan waktu puasa menurut dimulai pada awal fajar dan diakhiri pada (awal) malam (atau maghrib). Pada keadaan ekstrim seperti itu, di daerah lintang tinggi bisa terjadi continous twilight, yaitu bersambungnya cahaya senja dan cahaya fajar. Akibatnya awal fajar tidak bisa ditentukan dan ini berarti sulit memastikan kapan mesti memulai puasanya. Bisa juga terjadi malam terus sehingga awal fajar dan maghrib untuk memulai dan berbuka puasa tidak bisa ditentukan.
Karena saat ini ummat Islam sudah tersebar ke seluruh dunia, maka para ulama pun telah memikirkan bagaimana cara puasa di daerah dengan waktu ekstrim seperti itu. Namun, belum ada satu kesepakatan. Ada yang berpendapat, pada saat ekstrim seperti itu pelaksanaan puasa diqadla (diganti) pada bulan lainnya seperti.[ ] diusulkan oleh Tetapi pendapat seperti ini mempunyai kelemahan. Dengan mengqadla puasa, maka keutuhan ibadah Ramadan (a.l. puasa, salat malam, tadarus, dan i’tikaf) tidak sempurna lagi.Ada juga yang berpendapat bahwa pada keadaan ektrim seperti itu gunakan perhitungan waktu mengikuti daerah normal di sekitarnya. [ ]Pendapat untuk melakukan perkiraan waktu atau hisab ini dilandaskan pada qiyas (analogi) dengan hadits tentang Dajal yang diriwayatkan Muslim dari Yunus ibn Syam’an. Dalam hadits itu disebutkan bahwa pada saat itu satu hari sama dengan setahun. Kemudian ada sahabat yang bertanya,”Cukupkah bagi kami salat sehari?” Nabi menjawab,”Tidak, perkirakan waktu-waktu itu”. Bila menggunakan qiyas itu, masalahnya adalah apakah tepat mendasarkan perkiraan waktunya pada daerah normal di sekitarnya. Saya berpendapat lebih baik dan lebih pasti menggunakan waktu normal setempat, sebelum dan sesudah waktu ekstrim itu. Dengan perhitungan astronomi hal itu mudah dilakukan.
Dalam program jadwal salat yang saya buat, yang bisa digunakan juga untuk penentuan jadwal puasa di berbagai negeri, dalam keadaan ekstrim seperti itu waktu-waktu salat dan puasa diqiyaskan dengan waktu normal sebelumnya. Bila saat magribnya dapat ditentukan, bisa juga awal fajar dihitung berdasarkan lamanya berpuasa pada saat normal. Berdasarkan perhitungan astronomis, panjang puasa pada saat normal di seluruh dunia tidak lebih dari 20 jam. Jadi, dengan adanya waktu minimal 4 jam untuk berbuka dan bersahur, hal itu masih dalam batas kekuatan manusai.
Tahun ini, puasa Ramadan jatuh pada akhir Desember sampai Januari. Di wilayah lintang tinggi di selatan, seperti bagian Selatan Chile dan Argentina, saat ini sampai tahun 2001 merupakan saat berpuasa paling panjang. Tetapi di wilayah lintang tinggi di utara, seperti di negara-negara Skandianvia, merupakan saat berpuasa paling pendek. Sebagai contoh, akan ditinjau lama berpuasa di kota Ushuaia (Argentina) dan Tromso (Norwegia). Ushuaia terletak di ujung Selatan Argentina pada posisi sekitar 55 derajat lintang selatan. Sedangkan Tromso adalah kota di bagian utara Norwegia pada lintang utara 69 derajat. Di kota Ushuaia mulai 10 November sampai 1 Februari merupakan masa tanpa gelap malam. Waktu senja bersambung dengan fajar (continous twilight). Jadi, tidak ada awal fajar yang menjadi batasan awal waktu berpuasa. Waktu normal sebelumnya, 9 November, awal fajar (shubuh) pukul 01:39 dan magrib pukul 21:08. Dan waktu normal sesudahnya, 2 Februari, shubuh pukul 02:08 dan maghrib pukul 21:36. Jadi, lamanya puasa maksimum sekitar 19,5 jam. Masih ada waktu 4,5 jam untuk berbuka dan bersahur.
Maghrib pada awal Ramadan di Ushuaia pada pukul 22:14 dan pada akhir Ramadan pada pukul 21:45. Jadi, awal fajar untuk memulai puasa bisa ditentukan dengan mengurangkan 19,5 jam dari waktu maghrib. Pada awal Ramadan puasa dimulai pukul 02:44 dan pada akhir Ramadan pukul 02:15. Kasus berbeda terjadi di Tromso. Sejak 2 Desember sampai 11 Januari di sana selamanya malam. Jadi, selama setengah bulan Ramadan ini waktu berpuasa di sana tidak normal. Waktu normal sebelumnya, 1 Desember, shubuh pukul 05:54 dan maghrib pukul 11:37 (lamanya berpuasa 5 jam 43 menit). Dan waktu normal sesudahnya, 12 Januari, shubuh pukul 06:13 dan maghrib pukul 12:24 (lamanya berpuasa 6 jam 11 menit). Sedangkan pada akhir Ramadan, 28 Januari, shubuh pukul 5:42 dan maghrib pukul 14:18.
Dalam kasus malam panjang ini, cara yang terbaik dalam menjabarkan jawaban Nabi (sebagai qiyas) untuk memperkirakan waktunya adalah dengan interpolasi (teknik matematika untuk mengisi data kosong antara dua data yang diketahui). Dengan interpolasi, awal puasa antara pukul 05:54 dan 06:13, tergantung tanggalnya. Demikian juga untuk maghrib antara pukul 11:37 dan 12:24, tergantung tanggalnya.
Kasus ekstrim seperti itu untungnya tidak terjadi selamanya. Adanya perbedaan panjang tahun qamariyah (kalender bulan) dan tahun syamsiah (kalender matahari) menyebabkan awal Ramadan dam hari raya selalau bergeser sekitar 11 hari lebih awal. Sehingga bila Ramadan jatuh pada sekitar bulan Maret dan September, semuanya berjalan normal lagi, seperti halnya puasa di daerah ekuator. Pada sekitar bulan Maret dan September, panjang siang dan malam hampir sama di seluruh dunia.
III. PENUTUP

Persepsi siang hari bagi orang yang tinggal di daerah tropis adalah kondisi terang karena terdapat sinar matahari, sedangkan malam adalah kondisi gelap-gulita, tanpa ada sinar matahari karena sinar tersebut telah tenggelam di bawah horizon. Lalu bagaimana dengan orang-orang yang tinggal tanpa ada sinar matahari atau lama matahari bersinar sangat pendek? Apakah mereka harus meninggalkan kewajiban berpuasa?
Tentu saja tidak, Allah itu serba Maha. Dalam memberikan kewajiban terhadap hamba-hamba-Nya, telah diperhitungkan dengan sangat cermat. Begitu pula dengan agama Islam yang diturunkan-Nya, bersifat sempurna , supel, dan universal. Nabi Muhammad SAW memang diturunkan di daerah tropis, dan kita juga tinggal di negara yang beriklim tropis, tentu tidak akan mengalami kendala dalam hal waktu siang dan malam. Kita bisa menjalankan puasa seperti yang pernah dicontohkan Rasulullah SAW di daerah tropis. Tetapi bagi orang-orang yang tinggal di daerah beriklim subtropis, sejuk, dan dingin, serta orang yang pergi ke luar angkasa, tentunya berbeda dalam menghadapi waktu siang dan malam yang lamanya tidak proporsional (siang 12 jam, malam 12 jam).

Daerah dekat Kutub Utara atau Selatan tidak memiliki keseimbangan siang dan malam. Malam atau siangnya bisa menjadi lebih lama. Matahari tidak terbit atau tidak tenggelam selama beberapa bulan. Lalu, apakah orang-orang yang tinggal di sana harus berpuasa selama 20 jam atau lebih ketika musim panas? Atau cuma 3–4 jam ketika musim dingin? Atau justru tidak berpuasa karena tidak ada sinar matahari sehingga gelap terus. Keadaan tersebut memang tidak terjadi pada masa Rasulullah SAW sehingga dalam menerapkan fikih tidak bisa diambil serta-merta.[ ]
Dalam hal ini, ada beberapa hal yang bisa dijadikan pertimbangan, di antaranya:
Pertama, orang-orang yang tinggal di daerah selain tropis tetap menjalankan puasa tanpa mempersulit/memberatkan pelaksanaan ibadah tersebut karena Islam merupakan agama yang fitrah. Jadi, ajaran-ajaran yang ada di dalamnya bisa dilaksanakan sesuai dengan kemampuan manusia dan konteks perkembangan zaman.

Kedua, daerah tropis bisa dijadikan sebagai pedoman waktu puasa karena memang Islam diturunkan di daerah tropis. Maksudnya, berpedoman pada pergerakan matahari di daerah tropis yang dikonversi ke dalam bentuk jam. Hal ini berdasarkan pada konsep garis bujur karena seluruh wilayah di permukaan bumi ini akan berada pada jam yang sama jika terletak di garis bujur yang sama pula. Jadi, puasa bisa dilaksanakan pada kondisi gelap (“malam”) asalkan sama jamnya dengan daerah lain yang terang (siang) karena berada di garis bujur yang sama.

Ketiga, untuk kondisi di luar angkasa, puasa juga bisa dilakukan dengan berpedoman pada jam universal
. Puasa memang bisa dilaksanakan di belahan bumi manapun dan waktunya tidak memberatkan. Mahasuci Allah yang telah menurunkan Islam dengan rahmatan lil’alamien (rahmat bagi seluruh alam). Segala perintah-Nya telah diperhitungkan dengan sangat cermat sehingga tidak memberatkan hamba-hamba-Nya karena Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.

DAFTAR PUSTAKA

1. Ad Dalil al Falaky, edisi 1428 H (cet. Republik Arab Mesir, Pusat Observasi Astronomi dan Geofisika Helwan)
2. Ibnu Manzhur, Lisanul Arab, j. 15, Dar Shadir, Beirut-Libanon, Cet. IV, 2005
3. —————-, Natsarul Azhar fi al Layl wa an Nahar, Mu’assasah al Kutub al Tsaqafiyyah, Libanon, Cet. I, 1409 H/1988 M
4. Erlina Hasan, Penanggalan (Tarikh), Diktat Mata Kuliah Ilmu Falak Fakultas Syari’ah Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Medan, t.t.
5. S.Farid Ruskanda, M.Sc, APU, 100 Masalah Hisab & Rukyat, Telaah Syari’ah, Sains an Teknologi, Gema Insani Press, cet.I, 1416 H-1996 M
6. Arwin Juli Rakhmadi Butar-Butar, Pengantar Ilmu Falak, Penerbit MAPALA PCIM Kairo-Mesir, 2007
7. Susiknan Azhari, Ensiklopedi Hisab Rukyat, Penerbit Pustaka Pelajar Yogyakarta, 2005 M.
8. Muhammad Ahmad Sulaiman, Sibahah Fadha’iyyah fi Afaq ‘Ilm[il] Falak, Maktabah al ‘Ujairy-Kuwait, 1420 H/1999 M
9. —————, Nahwu Shiyaghah Mabady’ at-Taqwim al-Islamy al-’Alamy (Makalah Seminar Internasional Tentang Kalender Islam di Jakarta Indonesia tahun 2007 M)
10. TM.Ali Muda, Rumus Falak Sistem Jean Meus (Diktat mata kuliah Ilmu Falak I & II Universitas Islam Sumatera Utara (UISU),

;l

HUKUM ABORSI

30 Aug 2009 Uncategorized

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Saat ini Aborsi menjadi salah satu masalah yang cukup serius, dilihat dari tingginya angka aborsi yang kian meningkat dari tahun ke tahun. Di Indonesia sendiri, angka pembunuhan janin per tahun sudah mencapai 3 juta. Angka yang tidak sedikit mengingat besarnya tingkat kehamilan di Indonesia. Selain itu, ada yg mengkategorikan aborsi itu pembunuhan. Ada yang melarang atas nama agama. Ada yang menyatakan bahwa jabang bayi juga punya hak hidup sehingga harus dipertahankan, dan lain-lain.
Aborsi merupakan masalah kesehatan masyarakat karena memberikan dampak pada kesakitan dan kematian ibu. Sebagaimana diketahui penyebab utama kematian ibu hamil dan melahirkan adalah perdarahan, infeksi dan eklampsia.
Namun sebenarnya aborsi juga merupakan penyebab kematian ibu, hanya saja muncul dalam bentuk komplikasi perdarahan dan sepsis. Akan tetapi, kematian ibu yang disebabkan komplikasi aborsi sering tidak muncul dalam laporan kematian, tetapi dilaporkan sebagai perdarahan atau sepsis. Hal itu terjadi karena hingga saat ini aborsi masih merupakan masalah kontroversial di masyarakat. Di satu pihak aborsi dianggap ilegal dan dilarang oleh agama sehingga masyarakat cenderung menyembunyikan kejadian aborsi, di lain pihak aborsi terjadi di masyarakat. Ini terbukti dari berita yang ditulis di surat kabar tentang terjadinya aborsi di masyarakat, selain dengan mudahnya didapatkan jamu dan obat-obatan peluntur serta dukun pijat untuk mereka yang terlambat datang bulan.
Tidak ada data yang pasti tentang besarnya dampak aborsi terhadap kesehatan ibu, WHO memperkirakan 10-50% kematian ibu disebabkan oleh aborsi (tergantung kondisi masing-masing negara). Diperkirakan di seluruh dunia setiap tahun dilakukan 20 juta aborsi tidak aman, 70.000 wanita meninggal akibat aborsi tidak aman, dan 1 dari 8 kematian ibu disebabkan oleh aborsi tidak aman. Di Asia tenggara, WHO memperkirakan 4,2 juta aborsi dilakukan setiap tahunnya, di antaranya 750.000 sampai 1,5 juta terjadi di Indonesia. Risiko kematian akibat aborsi tidak aman di wilayah Asia diperkirakan antara 1 dari 250, negara maju hanya 1 dari 3700. Angka tersebut memberikan gambaran bahwa masalah aborsi di Indonesia masih cukup besar.
1.2 Rumusan Masalah
Penulis membuat makalah ini dengan rumusan masalah tentang hukum menggugurkan kandungan/aborsi yang saat ini begitu marak terjadi. Dan pokok bahasan kami akan lebih kami spesifikkan terhadap kasus aborsi karena hasil pemerkosaan. Apakah hukum tentang aborsi tersebut dapat di tolerasi atau sama saja dengan kasus aborsi yang di sengaja karena melakukan hubungan di luar nikah. Kami akan membahas secara terperinci tentang permasalahan tersebut.

PEMBAHASAN III

HUKUM MENGGUGURKAN KANDUNGAN HASIL PEMERKOSAAN

A. DEFINISI ABORSI
Secara bahasa adalah pengguguran kandungan (janin ) Ia bersal dari kata جهض –جهضا artinya menghilangan.
Maka أجهضت الحامل artinya membuang anak sebelum sempurna dan disebut dengan menggugurkan janin
Ibnu Faris berkata : ia adalah menghilangkan sesuatu dari tempatnya dalam waktu yang relatif singkat. Sehingga dikatakan أحهضنا فلانا عن شيء, yaitu kami menjauhkan seseorang darinya dan kami membinasakan (mengalahkan) nya. أجهضن الناقه adalah mengeluarkan anak unta dan ia tergugurkan.
Lembaga penelitian bahasa menghususkan bahwa ijhadh dengan cara mengeluarkan janin dari rahim sebelum bulan yang keempat (dari kehamilan) dan sesudahnya, yaitu antara bulan keempat dan dan ketujuh dengan sebutan isqat ( menggugurkan).
Maka sebenarnya antara ijhad dan isqat adalah satu makna hanya saja lafad ijhad banyak dipakai untuk unta dan isqat kebanyakan digunakan untuk manusia. Oleh karena itu dapat disimpulakan bahwa ijhad dan isqat menurut ahli bahasa adalah menggugurkan anak sebelum sempurna penciptaanya atau sebelum sempurna masa kehamilan. Baik sebelum ditiupkan ruh atau setelah ditiupkan ruh, baik janin tersebut laki-laki maupun perempuan.
Secara istialah :
a. menurut istilah kedokteran yaitu, Aborsi adalah megeluarkan isi rahim sebelum mencapai 28 minggu, yang menjadikanya tidak dapat hidup. Maka bila lahir setelah waktu tersebut tidak dinamakan sebagai aborsi menurut kedokteran, tetapi ia dinamakan dengan kelahiran sebelum waktunya.
b. menurut istilah undang-undang yaitu, Aborsi adalah mengeluarkan janin dengan unsur kesengajaan sebelum waktu tabiat kelahiran, dan dilakukan dengan segala cara yang tidak dihalalkan oleh undang-undang. Maka ditegakkan padanya hukum bila terdapat tiga rukun; adanya kehamilan, adanya praktek-praktek yang mengacu kepada tindakan aborsi dan adanya maksud perbuatan kriminal.
c. menurut istilah ulama syar’i yaitu, mereka mengistilahkan aborsi sebagaimana yang di istilahkan ahli bahasa, hanya saja kalangan syafi’iyah, jumhur dan hanafiyah memasukan aborsi dalam bab jinayat (pidana ).

B. SEJARAH ABORSI
Pada Akhir abad ke 18 M, berkembanglah di Eropa sebuah pemkiran yang dipelopori oleh pendeta bernama malicus, ia menulis sebuah makalah berjudul ” populasi penduduk dan dampaknya dalam masa depan bangsa “ th 1213 H / 1798M. Ia berpendapat bahwa pertambahan populasi penduduk yang begitu pesat dari 2,4,8,16,36. Sedangkan data devisa negara hanya dapat mencukupi antara 3,4,5,6,7,8. Oleh karenanya negara terancam kelaparan bila hal ini terus di lestarikan, maka ia mengajak kepada pembatasan keturunan dengan jalan memakai gaya hidup rahib (tidak menikah), atau mengakhirkan proses perkawinan sampai populasi penduduk tidak bertambah pesat .
Teori malicus ini diikuti oleh masa berikutnya akan tetapi dengan menggunakan alat-alat pembatasan keturunan. Gerakan ini terus berkemabang di Amerika dan disambut hangat dari kalangan penduduk dan negara, sehingga hal ini menjadi tradisi umum sampai terjadi perang dunia pertama th 1914 -19118 H. lalu berubahlah persepsi masyarakat disebabkan masuknya wanita ke lapangan-lapangan kerja dan buruh, berangkat dari sinilah berkembang beraneka ragam pencegah kehamilan.
Adapun bangsa arab maka merekalah yang paling banyak melakukukan aborsi, sehingga sebagian kabilah mereka membunuh anak mereka karena takut miskin. Lalu tinggallah para wanita yang mereka biarkan hidup dalam keadaan terabaikan atau kemiskinan. Hal ini disebutkan dalam surat An nakhl : 59.
“ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah ia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkanya ke dalam tanah (hidup-hidup )? Ketahuilah alangkah buruk apa yang mereka tetapkan itu. ”
Ibnu Sina dalam kitab Al Qanun : terkadang pada kondisi tertentu dibutuhkan untuk melakukan aborsi di antaranya ketika wanita yang hamil masih terlalu belia sehingga ditakutkan akan membahayakan apabila ia melahirkan. Juga ketika terdapat penyakit dalam rahim seperti penyakit kangker rahim sehingga menyusahkan keluarnya jabang bayi.
C. HUKUM ABORSI
1. Masalah Pengguguran Janin Sebelum Perniupan Ruh .
Para fuqaha sepakat atas haramnya pengguguran janin setelah janin berumur empat bulan di dalam perut ibunya. Karena pada usia itu telah ditiupkan roh kepadanya.
Rasulullah saw bersabda :
“Kejadian seseorang itu dikumpulkan pada perut ibunya selama empat puluh hari.Setelah genap empat puluh hari kedua, terbentuklah segumpal darah beku. Maka genaplah empat puluh hari ketiga, berubahlah menjadi segumpal daging. Kemudian Allah swt mengutus seorang malaikat untuk meniupkan roh serta memerintahkan supaya menulis empat perkara, yaitu ditentukan rizki, waktu kematian, amal serta nasibnya, baik mendapat kecelakaan atau kebahagiaan.”
Seorang janin jika telah ditupkan ruh kepadanya akan menjadi manusia dan manusia tidak boleh dibunuh dengan sebab syar’i, padahal tidak ada sebab syar’I yang memperbolehkan untuk membunuh janin, sehingga tidak ada pula sebab-sebab syar’I yang memperbolehkan pengguguran fase ini.
Ibnu Najib Al hanafi mengatakan, ” Seorang wanita hamil yang terancam bahaya karena anak yang berada di dalam perutnya, anak tidak boleh digugurkan, karena menghidupkan seorang jiwa dengan membunuh jiwa lain tidak di perkenankan di dalam syariat. Kecuali jika anak yang di dalam kandungan telah mati, maka diperbolehkan untuk menggugurkanya. “
Ibnu Abidin mengomentari mengomentari perkataan Ibnu Njim,” Tidak boleh digugurkan, karena kematian ibu yang masih diragukan, maka tidak boleh membunuh manusia yang hidup karena perkara yang meragukan.
Allah berfirman
ولا تقتلوا النفس التي حرم الله إلا بالحق. (الاسراء : 33 )
“Dan janganlah kamu membunuh jiwa yanga diharamkan Allah (membunuhnya, melainkan dengan suatu(alasan) yang benar.” (Al Isra: 33)
para fuqaha tidak berselisih pendapat dalam masalah ini. Dan menurut jumhur ulama, bahwa membunuh karena terpaksa harus diqisas. Mereka juga sepakat, tidak halal bagi orang yang terpaksa untuk untuk membunuh orang lain demi menyelamatkan dirinya dari kematian. Mereka mencontohkan, bahwa jika sebuah perahu akan tenggelam, sedangkan keselamatan kapal itu bisa terjadi jika sebagian penumpangnya dilemparkan kelau. Maka tidak boleh melemparkan sebagian dari pernumpang itu untuk meyelamatkan penumpang lainya, sebanyak apapu jumlah penumpangnya.
Namun demikin, panitia penelitian ilmiyah dalam perspektif fikih yang dibentuk oleh kementrian wakaf Kuwait memperbolehkan menggugurkan janin-walaupun telah ditiupkan ruh kepadanya-jika itu merupakan jalan satu-satunya untuk menyelamatkan ibunya dari kematian. Karena menjaga kehidupan ibunya-jika keberadaan janin di dalam perutnya -membahayakanya- lebih diutamakan, karena kehidupan ibu lebih dulu ada dan sudah ada secara meyakinkan.
Sebenarnya, menentang pendapat para fuqaha klasik dalam masalah ini bukan urusan gampang, karena mereka bersandar kepada kaidah syariat yang kuat dan tidak ada pengecualian sama sekali di dalamnya, yaitu bahwa janin setelah peniupan roh menjadi jiwa yang terhormat di mata syari’at, sehingga tidak termasuk di dalam yang di maksud oleh firman Allah :
” Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya, melainkan dengan suatu(alasan) yang benar.” (Al Isra: 33)
Kebenaran yang dijelaskan oleh Rasulullah saw adalah bahwa jiwa tidak bisa dibunuh tanpa hak kecuali jika terbunuh karena hukum qishsah, pezina muhsan, dan murtad dari Islam. Semua ini tidak akan terjadi pada janin sama sekali.
Adapun alasan yang dijadikan sandaran oleh panitia ilmiah di atas adalah, bahwa kehidupan sang ibu sudah jelas adanya secara meyakinkan. Namun alasan itu bisa di bantah, jika maksudnya adalah hidupnya sang ibu ketika melahirkan.
Kesimpulanya:
Pertama : tidak diwajibkan qishas bagi asal (ibu) bila membunuh cabang (janin), walapun disengaja dan direncanakan. Di antara alasan yang mereka kemukakan untuk menetapkan hukum itu adalah karena asal telah dijadikan Allah sebagai sebab terwujudnya cabang, maka tidak layak jika cabang menjadi sebab kematian asalnya.
Kedua : sebagian fuqaha sepakat bahwa pembunuh janin tidak di qishas walaupun sengaja, walaupun janinya lahir dalam keadaan mati, dan walapun pekerjaan itu haram hukumnya.
Dari kedua jelaslah bahwa kehormatan ibu itu lebih tinggi daripada kehormatan janin jika keduanya bertemu. Maka tidak ada jalan lain kecuali harus mengorbankan salah satu jiwa untuk menyelamatkan jiwa yang lain.
Dari segi lain pendapat fuqaha Hanafi tentang janin, bahwa janin yang masih berada didalam kandungan tidak sama dengan bayi yang sudah dilahirkan dalam beberapa segi. Sehingga disatu sisi mereka menganggap janin itu mempunyai jiwa, namun disisi lain mereka tidak menyebutnya demikian. Mereka menyebutnya jiwa karena karena telah ditiupkan roh kepadanya, namun tidak menyebutnya sebagai jiwa kerena dia adalah bagian dari ibunya. Mereka beralasan bahwa selama janin masih berada di dalam perut ibunya, ia tidak mempunyai tanggung jawab penuh dan dianggap tidak memiliki hak apa-apa, karena posisinya masih sama dengan anggota badan ibunya. Akan tetapi jika ia sudah hidup sendiri, maka dia bisa disebut jiwa. Dengan sebutan ini maka dia baru mempunyai hak yang berupa warisan, nasab, wasiat dan sebagainya. Diantara mereka ada yang menamakan jiwa yang telah dilahirkan itu dengan jiwa yang mempunyai hak.
2. Hukum Pengguguran Janin Sebelum Peniupan Roh.
Dalam masalah ini ulama berselisih pendapat karena tidak adanya batasan dan dalil-dalil syar’I yang menjelasakan hal ini.
1. Madzhab Hanafi
1. Fuqaha hanafi memperbolehkan pengguguran janin sebelum meniupkan roh jika mendapat izin dari pemilik roh, yang dalam hal ini adalah kedua orang tuanya.
Ibnu Al hammam berkata, “Diperbolehkan menggugurkan janin setelah kehamilan selama belum terbentuk apapun pada janin.” kemudian ditempat lain beliau mengatakan “Hal itu tidak terjadi kecuali setelah janin berusia seeratus dupuluh hari, karena pada saat itu penciptaan sudah sempurna dan siap ditiupkan roh . dengan demikian, berarti pendapat mereka salah. Karena penciptaan benar-benar terjadi dan dapat disksikan dengan indera sebelum frase ini.”
Ibnu Abidin menyatakan bahwa fuqaha madzhab ini berkata, “Diperbolehkan menggugurkan kandungan selama janin masih dalam bentuk segumpal daging atau segumpal darah dan belum terbentuk anggota badanya. Mereka menetapkan bahwa waktu terbentuknya janin adalah setelah janin berusia seratus duapuluh hari. Mereka meperbolehkannya sebelum waktu itu, karena janin itu belum menjadi manusia. Kemudian Ibnu Abidin mengatakan, “tetapi pendapat ini dipermasalahkan di dalam kitab Al bahr, bahwa pembentukan janin telah terjadi sebelum fase itu dan dapat disaksikan dengan jelas serta selaras dengan beberapa riwayat yang shahih,”jika janin telah melalui dua kali empat puluh hari ( 80 hari ) maka Allah menciptakan pendengaran, penglihatan dan kulitnya.” dan ini juga sesuai dengan apa yang ditemukan oleh dokter.
1. Ibu Abidin menukil dari beberapa kitab fiqih dalam madzhab hanafi, bahwa mereka mengharamkan pengguguran kandungan sebeluk peniupan roh, karena janin ini merupakan bakal manusia yang menatinya akan menjadi manusia dengan kehendak Allah. Saya tidak mengatakan ibu yang mengugurkan janin sebelum peniupan roh tidak berdosa, tetapi dosa yang diterimanya tidak sebesar dosa bila mengugurkan setelah peniupan roh kepanya.” Namun demikian kelompok ini memperbolehkan penguguran kandungan dengan alasan yang diterima. Diantara udzur yang diterima adlah terputusnya susu ibu setelah muncul kehamilan, dan kedua orang tua bayi itu mampu manyusukan kepada orang lain sehingga takut anaknya mati.
2. sebagian ulama madzhab Hanafi berpendapat bahwa mengugurkan kandungan sebelum peniupan roh hukumnya boleh tapi makruh. Karena setelah zigot menempel pada dinding uterus (rahim), dia akan hidup.

2. Madzhab Maliki
Para ulama madzhab maliki mereka berselisih pendapat tentang hukum pengugguran sebelum peniupan roh.
1. Jumhur ulama mereka mengharamkan pengugguran kandungan setelah air mani berada di dalam rahim. Syaikh Ahmad Ad dardir berkata,” Tidak boleh mengeluarkan mani yang telah tertanam di dalam rahim walaupun sebelum berusia empat puluh hari.
Ibnul jauzi mengatakan, ” Jika mani telah berada di dalam rahim, maka tidak diperbolehkan mengeluarkan, dan lebih tidak lebih lagi jika janin telah terbentuk, dan lebih tidak diperbolehkan lagi jik sudah ditiupkan ruh kepadanya. Imam malik berkata, “setiap Mudhgah atau ‘Alaqah yang digugurkan dan diketahui bahwa ia bakal menjadi anak, maka pelakunya harus mangganti dengan budak. ‘ Sedangkan Imam syafii mengatakan ” tidak diwajibkan mengganti apa-apa hingga janin itu mempunyai bentuk, dan yang paling benar adalah diwajibkan mengganti dengn budak bila menggugurkan janin yang telah ditiupkan roh kepadanya.
2. sebagian fuqha malikiyah memakruhkan pengguguran janin setelah janin terbentuk di dalam rahim sebelum berusia empat puluh hari dan mengharamkanya sesudah itu.
3. Al lakhami salah seorang ulama malikiyah berpendapat, bahwa hal itu boleh dan tidak harus mengganti apa-apa.
4. sebagian fuqaha malikiyah berpendapat, diberi keringanan untuk mengugurkan kandungan sebelum peniupan roh, jika janin itu hasil dari perbuatan zina dan khususnya jika wanita itu takut akan dibunuh jika ketahuan bahwa dirinya hamil.
Kesimpulan dari ulama madzhab maliki adalah mereka sepakat mengharamkan pengguguran kandungan jika janin telah berusia empat puluh hari. Sedangkan sebelum berumur empat puluh hari mayoritas ulama mereka memperbolehkan, ada sebagian yang memakruhkan, Al lakhami memperbolehkan. Dan sebagian yang lain memberikan rukhsah jika dilakukan sebelum peniupan roh jika janin itu merupakan hasil dari hubungan zina.
3. Madzhab Syafi’i
Para madzhab syafii berberda pendapat mengenai menggugurkan janin sebelum peniupan roh :
1. pendapat pertama: -yang paling dipegangi oleh madzhab ini- bahwa mengugurkan kandungan selama janin berlum ditiupkan roh kepadanya adalah boleh.
2. Ar Ramli sampai pada suatu kesimpulan yang akhirnya menjadi pengangan madzhab ini yaitu memakruhkan pengguguran janin sebelum peniupan roh samapai waktu yang mendekati waktu peniupan roh dan mengharamkanya setelam memasuki waktu yang mendekati peniupan roh. Karena sulitnya mengetahui secara pasti waktu peniupan roh tersebut, maka diharamkan mengugurkanya sebelum mendekati waktu peniupan roh untuk berjaga-jaga, seperti ketika peniupan roh atau sesudahnya.
3. Imam Al Ghazali mengharamkan pengguguran janin pada semua fase perkembangan kehamilan dan dengan terus terang ia mengantakan bahwa janin dengan segala fase perkembangan umurnya sebelum peniupan roh haram hukumnya.
4. Madzhab Hambali
1. pendapat mereka secara umum dalam madzhab, memperbolehkan pengguguran kandungan pada frase perkembangan pertama sejak terbentuknya janin yaitu frase zighot, yang usianya maksimal empat puluh hari, dan setelah empat puluh hari tidak boleh di gugurkan.
Sebagian keompok dari ulama mereka mengatakan bahwa boleh meminum obat untuk menggugurkan zigot. . Ibnu Rajab Al hanbali berkata, ” sahabat-sahabat kami mengatakan : bahwa jika janin telah menjadi sefumpal darah tidak diperkenankan bagi wanita untuk menggugurkanya, karena ia sudah menjadi anak, lain halnya dengan zigot, karena ia belum menjadi anak.
1. Ibnul Juazi berpendapat mengharamkan pengguguran kandungan sebelum peniupan ruh disemua fase perkembangan janin. Demikianlah yang dinukil Al mawardi darinya.
2. sebagian ulama madzhab hanbali memperbolehkan mengugurkan kandungan sebelum peniupan roh secara mutlak tanpa mensyaratkan fase-fase tertentu.
Maka pendapat yang paling rajih dalam analisa fiqih islam adalah pendapat jumhur hanafiyah dan yang sesuai dengan madzhab hanafiyah bahwa awal kehidupan seorang anak adam adalah setelah peniupan ruh, maka barang siapa yang melakukan pembunuhan terhadap janin setelah peniupan ruh maka ia telah membunuh cikal bakal manusia. baik ia masih dalam fase nutfah (coitus ), alaqah atau mudhah. Bila dalam keadaan darurat yang hanya dapat dilaksanakan hanya dengan cara mengugurkan janin, dan tidak cukup ini dilaksanakan hanya karena udzur, sedangkan syarat udzur tersebut adalah :
a. bahaya tersebut benar-benar terjadi bukan dalam masa penantian.
b. Diklasifikasi terlebih dahulu mana bahaya yang menyelisihi perintah atau larangan syar’i.
c. Membatasi dalam hal yang diperbolehkan dilakukan dengan menentukan batas maksimal untuk menghilangkan adanya bahaya.
d. Hendaknya bahaya tersebut berkaitan dengan masalah kehamilan yang tidak bisa dihilangkan kecuali dengan menggugurkan kandungan.
Beberapa sebab mengapa orang melakukan Aborsi yaitu :
a) Aborsi untuk membatasi keturunan
Lembaga penelitian islam di Kairo telah menetpkan “sesungguhnya melakukan aborsi dengan tujuan untuk membatasi keturunan atau menggunakan wasilah yang menghalangi kesuburan merupakan sesuatau yang tidak diperbolehkan menurut syar’I bagi suami istri atau selainnya.
b) Aborsi untuk menutupi tindakan keji
Islam sangat menjaga hak janin secara mutlak, baik janin tersebut dihasilakan dari pernikahan atau dari hasil diluar nikah. Oleh karena itu tidak dipebolehkan melakukan aborsi untuk menutupi tindakan keji yang pernah ia lakukan. Hal ini berdasarkan dalil :
a. Rasulullah bersabda kepada wanita ghamidiyah yang berzina ” pergilah samapai engkau melahirkan.” Hal ini menunjukan bahwa menggugurkan janin dari hasil diluar nikah tidak diperbolehkan.
b. Ulama sepakat bahwa tidak diperbolehkan menggugurkan kandungan sampai ia melahirkan, baik dari hasil perbuatan zina ataupun selainya. Hal ini menunujukan bahwa janin sangat dilindugi oleh Islam.
c. Fuqaha menetapkan Ar ruhkhsah la tunatu bil maasyi , Rukhsah tidak bisa digunakan dalam hal kemaksiatan. Imam Al qurafi mengatakan bahwa ” kemaksiatan tidak bisa dijadiakan sebab adanya rukhasah. Oleh karenanya seorang musafir dalam rangkan maksiat tidak boleh mengqasar.
d. Janin dari hasil perbuatan keji setatusnya hialang dari kekuasaan orang tuanya, karna bapak dari menurut syar’I hanya bisa dinisbahkan kepadanya kecuali dengan adanay pernikahan resmi, sehingga wali dari anak tersebut adalah penguasa.
Hukum mengugurkan janin hasil dari pemerkosaan adalah sama hukumnya dengan menggugurkan janin dari hasil pernikahan resmi. Akan tetapi sebagian ulama muasirin memeperbolehkan menggugurkan janin yang dihasilakan dari proses pemerkosaan pada hari-hari pertama. Mereka menganggap ghasab (pemerkosaan) adalah sebab yang memperbolehkan melakukan aborsi dan sekaligus bahaya yang menuntut untuk dilaksanakanya aborsi. Demikianlah yang dikemukanakan oleh syaikh yusuf qardawi, guru besar Al Azhar, syaikh Jadul Haq Ali Jadul Haq, Dr. Muhamad Sayi At tantawi. Terkecuali beliau memberikan batasan kebolehanya sampai akhir bulan pertama pada kehamilan.
c) Aborsi karena adanya virus atau penyakit yang membahayakan kehidupan ibu apabila bayi tersebut tetep ada atau maksimal akan menyebabkan kematian ibu setelah ia melahirkan
Maka berdasarkan ketetapan lembaga penelitian fiqih di kuwait sesuai dengan ketetapan dari ilmu kedokteran, diperbolehkan. Karena kehidupan janin bersifat dzani sedangkan kehidupan ibu bersifat yakin.

d) Aborsi yang dilakukan wanita menyusui karena takut terhenti air susunya
Berdasarkan ilmu kedokteran bila wanita hamil menyusui akan terjadi kekurangan fitamin dan protein pada air susunya dan hal ini sangatlah berbahaya . oleh karenanya nabi melarang menyetubuhi istinya yang dalam keadaan hamil agar menjaga kelangsungan penyusuan yang dapat menjadi bahaya bagi anak yang disusuinya
لقد هممت أن أنهي عن الغيلة , فنظرت الي الروم وفارس فإذا هم يغيلون أولادهم من ذالك. ( رواه مسلم )
Ulama Hanafiyah berpendapat bolehnya menggugurkan janin sebelum peniupan ruh agar tidak memutuskan air susu.
Pendapat ini diambil oleh Syaikh Abdul Majid Salim dan Syaikh Jadul Haq.
Maka pendapat yang rajih adalah tidak diperbolehkan melakukan hal yang demikan karna tidak ada bahaya syar’I yang memperbolehkan melakukan aborsi, dan tidaklah terputusnya air susu menjadi sebab utama untuk melakukan aborsi.

D. APAKAH JANIN ABORSI HARUS DI MANDIKAN
a. Jika janin telah ditiupkan ruh padanya
Ulama telah sepakat bahwa janin yang keluar dalam keadaan hidup setelah ditiupkan ruh kepadanya dengan di tandai adanya tanda-tanda kehidupan, lalu ia mati maka ia wajib untuk di shalati.
Imam Asy syaukani berkata, apabila (janin) terlahir dan ada tanda-tanda kehidupan seperti tangis atau gerak pada anggota tubuh atau selainya maka ia harus di mandikan menurut Ijma’ (kesepakatan)
Imam Nawawi berkata, keguguran ada beberapa keadaan : salah satunya apabila ia terlahir (dengan adanya tanda kehidaupan.pent) maka wajib di dimandikan dan di shalati. Tanpa ada perselisihan diantara ulama kita.
Sedangkan Ibnu Qudamah berkata, apabila keluar dalam keadaan hidup dan terlahir maka ia di mandikan dan di kafani tanpa adanya perselisihan.
حديث المغيرة بن شعبة رضي الله عنه أن النبي صلي الله عليه وسلم قال : الراكب خلف الجنازة. والمشي حيث شاء منها. والسقط لا يصلي عليه.
Hadist Mughirah bin Syu’bah ra bahwa nabi saw bersabda, “Pengendara keadaan di belakang jenazah dan pejalan kaki di mana saja ia kehendaki serta keguguran tidaklah di shalati.

b. Jika janin belum ditiupkan ruh kepadanya
Adapun apabila janin tersebut keluar dalam keadaan telah mati, maka ia tidak wajib di shalati, meskipun ia telah mencapai umur lebih dari empat bulan. Demikianlah pendapat Hanafiyah, Malikiyah, dan Qaul jadid Imam syafi’i.
Imam syafii menyebutkan dalam kitab Al Umm, janin yang keguguran di mandikan, dikafani dan di shalati jika ada tanda-tanda kehidupan, maka bila bayi yang keguguran itu telah meninggal maka tidak menshalatinya adalah lebih utama. Sedangkan dalam kitab Mughni Muhtajj disebutkan, “begitu pula jika telah sampai – umur empat bulan- dan telah terlihat penciptaanya maka tidak wajib untuk di shalati. Sedangkan menurut Ahli dhahir tidak boleh di shalati.
حديث جابر رضي الله عنه : الطفل لا يصلي عليه .ولا يرث, ولا يورث. حتي يستهل صارحا
Hadist Jabir ra bahwa Rasulullah saw bersabda ‘ anak kecil tidaklah di shalati dan tidak dapat mewarisi serta mewarisi sampai ia (yastahil ) adanya tanda kehidupan.
Pendapat yang paling benar adalah pendapat jumhur yaitu tidak dimandikan dan tidak dishalati. Karena bila janin belum mencapai empat bulan dan ibunya makan terus sampai kenyang, kemudian keguguran maka belum ditupkan ruh kepadanya dan ia tak ubahnya bak sepotong daging atau benda yang lain.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1) Di dalam dunia kedokteran, ada beberapa hal yang memungkinkan aborsi dapat dipertimbangkan, yautu non-Psychiatrik Medical risk, psyichiatrc Risk, spected Risk, spected or Proven Adnormality of fetus, dan masalah Rap. yaitu aborsi secara umum hukum dasarnya haram, kecuali ada qarinah (alasan) yang sangat logis dan tidak menyalahi hukum dan perundang-undangan.
2) Dalam Islam, sikap ulama terhadap kapan kehidupan awal manusia juga berbeda- beda. Sebagian ulama, seperti Imam Malik, menganggap masa konsepsi sebagai awal kehidupan manusia, karena itu aborsi sejak awal tidak dibenarkan. Melakukan aborsi termasuk dosa besar dan dapat dikenakan hukuman berat.
3) Ketiga, golongan yang membolehkan aborsi pada setiap tahap sebelum pemberian nyawa (nafkh al-ruh). Pendapat ini paling kuat di kalangan Hanafiyah. Alasan yang dikemukakan adalah sebagai berikut: 1. Setiap orang yang belum diberi nyawa tidak akan dibangkitkan Allah di hari kiamat. Setiap sesuatu yang tidak dibangkitkan berarti keberadaannya tidak diperhitungkan, dengan demikian tidak ada larangan untuk mrnggugurkannya. 2. Janin sebelum diberi nyawa tidak tergolong sebagai manusia, maka tidak ada larangan untuk menggugurkannya.
B. Saran
Dengan demikian kami menyadari akan segala kekurangan kami. Dan kami sangat mengharapkan saran dan kritik. Semoga dengan adanya hal tersebut, dapat memotivasi kami untuk membuat makalah yang lebih baik.
DAFTAR PUSTAKA
1) Yurnalis Uddin. 2006.”Reinterpretasi hukum Islam tentang aborsi” :Universitas Yarsi
2) CB Kusmaryanto.2005.” Tolak aborsi” : Kanisius
3) Drs. H. BurhanuddinSalam,“Etika Sosial”, Bhineka Cipta ; Jakarta, 1997
4) K. Bertens, “Etika”. Gramedia Pustaka Utama ; Jakarta, 1999
5) W.j.s. Poerwandarminta, Kamus umum bahasa indonesia, Balai Pustakan, Jakarta, Edisi III cet I th 2003 M.
6) Dr. Ibrahim bin Muhamad Qasim bin Muhamd Rohim, Ahkamul ijhad fie fiqhi Al islami, Silsilah Isdarah Al hikmah, Britonia, cet I, th. 2002 M.
7) Dr. M.Nu’im Yasin, Fiqih kedokteran, Pustaka Al kautsar, jakarta , cet. I 2001 M. 8) Dr. Abdul Karim Zaidan, Al Mufashal fie Ahkamil Mar’ah, Muasasah Ar Risalah. Bairut .
9) Syaikh Jadul Haq Aly Jadul Haq, Qadhaya wa Fatawa Fiqhiyah fie Qadhaya Al muatsirah.
10) Majalah Syariah Dan Dirasah Al Islamiyah, edisi VI / Ramadlan 1409 H / April 1989 M.